Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Moderasi Beragama, Ajaran Islamkah ?

Pengarusutamaan moderasi beragama semakin gencar dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenag) di bawah kepemimpinan Yaqut Cholil. Setelah menyiapkan instruktur nasionalnya, untuk menjelaskan spirit moderasi beragama ke tengah-tengah masyarakat. Baru-baru ini (22/09/2021), Kemenag mengadakan acara launching aksi moderasi beragama.

Oleh : Delfia

Pengarusutamaan moderasi beragama semakin gencar dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenag) di bawah kepemimpinan Yaqut Cholil. Setelah menyiapkan instruktur nasionalnya, untuk menjelaskan spirit moderasi beragama ke tengah-tengah masyarakat. Baru-baru ini (22/09/2021), Kemenag mengadakan acara launching aksi moderasi beragama.

Agenda utama acara ini, antara lain peresmian portal cendikia sebagai sumber belajar dan peluncuran buku pedoman penguatan moderasi beragama. Buku ini terdiri atas buku saku bagi guru, modul pelatihan bagi guru, pedoman mengintegrasikan moderasi pada mata pelajaran dan buku pegangan siswa. Juga diberikan penghargaan kepada para pemenang lomba video pendek pesan moderasi beragama.

Tak hanya viralnya pidato Cinta Laura yang sarat moderasi beragama, pidato Menteri agama Yaqut Cholil pun dalam acara ini menuai pro kontra. Beliau menyatakan bahwa meyakini ajaran agama Islam adalah benar, tapi tidak berarti mengatakan agama yang tidak sama dengan Islam adalah salah (www.replubika.co, 23/09/2021). Ke depan langkah strategis telah dipersiapkan untuk menggolkan program moderasi beragama (pluralisme, sinkritisme, sekulerisme dan sebagainya). Karena hal ini memang menjadi salah satu prioritas utama program kepemimpinan Yaqut Cholil.

Liberalisasi Agama Di Balik Moderasi Beragama

Kemenag mengakui Resolusi Dewan HAM PBB 16/18 tentang memerangi intolerasi dan diskriminasi, yang menjadi rujukan implementasi moderasi beragama di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa moderasi beragama diinisiasi oleh PBB menjadi agenda global dan ‘diwajibkan’ untuk diadopsi setiap negara. Tujuan utamanya adalah menjaga pemahaman dan amalan keagamaan yang moderat dan tidak ekstrim, dengan mengambil jalan tengah (wasath).

Sekilas tujuannya ‘baik’. Tapi apabila ditelaah lebih mendalam, setiap agenda global dipastikan ada udang di balik batu. Apalagi sasarannya negeri-negeri muslim. Tujuan moderasi beragama untuk memoderatkan pemahaman dan amalan agama maksudnya menyelaraskan agama dengan nilai-nilai Barat. Secara tak langsung memaksa pemahaman agama (Islam) tunduk pada tsaqafah Barat (liberalisasi Islam).

Peradaban kapitalisme Barat hari ini sangat menyadari bahwa ancaman terbesar terhadap eksistensi dan hegemoni mereka adalah Islam. Negeri-negeri muslim adalah ladang subur nan murah meriah bagi Barat mendapatkan SDA yang amat dibutuhkan oleh nafas kehidupan negara mereka. Juga sebagai market utama untuk memasarkan produk ekonomi dan teknologi mereka. Hegemoni ini tak mungkin akan berjalan, kecuali negeri-negeri muslim ‘mengakui’ kebenaran dan menerapkan ideologi kapitalisme. Ya, ideologi Kapitalisme adalah racun yang diberikan Barat kepada negeri-negeri muslim untuk tetap tunduk pada Barat. Keterjajahan negeri-negeri muslim hari ini, tak lain tak bukan karena mengadopsi ideologi Kapitalisme.

Ketakutan Barat apabila negeri-negeri muslim melepaskan dan membuang ideologi Kapitalisme. Sehingga ideologi Islam dianggap penghalang dan harus diliberalkan (moderat) secara terstruktur dan sistematis, agar sesuai dengan kendali Barat. Salah satu jalannya adalah moderasi beragama melalui kaki tangan dan perangkat lembaga negara.

Islam Moderat Bukan Ajaran Islam

Muslim harus memahami Islam adalah satu-satunya din yang diridhai Allah SWT (QS. Ali ‘Imran ayat 19), sesuai fitrah, memuaskan akal dan menentramkan hati. Kebenaran Islam sebagai agama yang lurus dapat dibuktikan secara rasional dan ilmiah. Islam adalah agama yang paripurna yang aturannya sempurna dan menyeluruh mengatur kehidupan. Mulai dari bersuci hingga mengelola sistem politik dalam bingkai sebuah negara.

Muslim yang beriman dan bertakwa, harus menyadari bahwa ideologi kapitalisme adalah kufur serta bertentangan dengan aqidah dan syari’at Islam. Tak layak ideologi Islam dirubah dan disesuaikan dengan ideologi kapitalisme. Jika ini dilakukan, terkategori maksiat dan dosa di hadapan Allah.

Ummatan wasathan (QS. Al Baqarah ayat 143) yang sering dijadikan dalil moderasi beragama, harus dikembalikan makna dan tafsirnya menurut para ulama mu’tabar. Yaitu umat yang adil (saksi kebenaran agama) dan umat pilihan, yang menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuan syari’at Allah. Artinya ummatan wasathan bukanlah ummat yang membenarkan nilai kufur ideologi kapitalisme; serta membenarkan pluralisme dan sinkritisme dengan dalih keberagaman agama, toleransi dan penghormatan nilai luhur kearifan lokal.

Sudah sepatutnya kaum muslim berhati-hati terhadap propaganda moderasi beragama. Propaganda itu secara terang-terangan telah mencabut sendi-sendi ideologi Islam, baik pada aspek aqidah dan syari’at. Propaganda tersebut bertujuan untuk menyesatkan umat Islam bahkan dapat memurtadkan seorang muslim dari agamanya. Orang-orang kafir dan setipe dengan mereka seperti orang liberal dan munafik, tak akan berhenti berusaha siang dan malam menyesatkan kaum muslimin, sebagaimana firman Allah SWT : “Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu, jika mereka sanggup (QS. Al-Baqarah ayat 217)”.

Betapa dahsyat kerusakan terjadi jika kebatilan moderasi beragama diadopsi sebagai jalan hidup oleh umat dan negara. Sehingga kaum muslim harus membuang pemikiran kufur dan rusak yang sudah menggurita. Kaum muslimin harus berusaha menjaga kemurnian ideologi Islam di tengah gempuran opini negatif yang massif di tengah umat dengan dakwah. Karena hanya ideologi Islamlah yang haq dan berasal dari Allah SWT Yang Maha Mengetahui terbaik bagi hambaNya.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Post a Comment for "Moderasi Beragama, Ajaran Islamkah ?"