Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Islam Menjaga Aqidah Umat dari Kemusyrikan

Makam Keramat Marongge yang berada di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang ini, sudah terkenal dikalangan para peziarah. Bahkan menurut kabar, satu dua peziarah ada yang datang dari luar negeri.  Para pengunjung yang memiliki maksud tersebut biasanya menjalankan beberapa tahapan ritual, di antaranya mandi kembang, bertawasul, minum air doa, lalu mandi di aliran Sungai Cilutung Sumedang sambil melarungkan celana dalam yang dipakainya saat itu.  Beragam keinginan seperti sehat jasmani, sukses berkarir, jadi orang kaya, subur dalam bertani, dan permohonan lainnya terlontar dari mulut para pengunjung. Namun yang paling banyak adalah soal perjodohan.

Oleh : Lilis Iyan Nuryanti, S.Pd

Marongge...mendengar nama tempat ini, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Saya sendiri sebagai penduduk Jatigede, sering melewati tempat ini tapi belum pernah masuk ke Makam Keramat Marongge yang terkenal di masyarakat dengan kekuatan asihan atau peletnya. Hanya saja saya sering melihat orang jauh banyak yang berdatangan ke Marongge, apalagi jika Malam Jumat Kliwon tiba.

Makam Keramat Marongge yang berada di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang ini, sudah terkenal dikalangan para peziarah. Bahkan menurut kabar, satu dua peziarah ada yang datang dari luar negeri.

Para pengunjung yang memiliki maksud tersebut biasanya menjalankan beberapa tahapan ritual, di antaranya mandi kembang, bertawasul, minum air doa, lalu mandi di aliran Sungai Cilutung Sumedang sambil melarungkan celana dalam yang dipakainya saat itu.

Beragam keinginan seperti sehat jasmani, sukses berkarir, jadi orang kaya, subur dalam bertani, dan permohonan lainnya terlontar dari mulut para pengunjung. Namun yang paling banyak adalah soal perjodohan.

Selain kuburan, di sana juga ada sebuah batu yang dikeramatkan. Batu tersebut menyerupai bentuk kursi yang dibalut dengan kain putih. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke tempat ini, kesan aura mistis dan angker mungkin akan terasa.

Ahmad Sadeli (49), juru kunci Makam Keramat Marongge mengatakan sejak adanya pandemi COVID-19, jumlah kunjungan peziarah berkurang hingga 50 persen. Sementara sebelum adanya pandemi, jumlah peziarah yang datang rata-rata kurang lebih seratusan orang di hari biasa. Jumlah itu akan bertambah jika memasuki Jumat Kliwon yang mencapai hingga 500 orang (detikNews, 07/09/2021).

Doa merupakan salah satu ibadah yang amat agung dalam agama Islam. Allah telah memotivasi umat manusia untuk memohon pada-Nya dan berjanji untuk mengabulkan permohonan mereka. Allah telah mensyariatkan berbagai adab dalam berdoa. Di antaranya menentukan tempat dan waktu pilihan, yang lebih mustajab.

Tapi setan berusaha menyesatkan para hamba dengan mengiming-imingi mereka tempat dan waktu yang diklaim mustajab, padahal tidak ada petunjuk agama tentangnya. Tidak sedikit manusia yang terjerat ranjau tersebut. Sehingga mereka lebih memilih berdoa di kuburan dan tempat-tempat keramat, dibanding berdoa di masjid. Lebih parah lagi, ada yang begitu khusyu’ menghiba dan memohon kepada sahibul kubur untuk mengabulkan keinginannya dan ini merupakan kesyirikan. Padahal mestinya peziarah mendoakan si mayit bukan memohon kepada si mayit.

Doa di kuburan ada beberapa jenis.

Pertama: Doa untuk meminta hajat kepada penghuni kubur, baik dia seorang nabi, wali atau yang lainnya. Ini jelas syirik akbar. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan, “وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ”. “Mohonlah pada Allâh sebagian dari karunia-Nya” (An-Nisa’: 32).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mewanti-wanti, “إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّه”. “Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allâh. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allâh”. (HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”).

Imam Ibn Abdil Hadi rahimahullah menerangkan bahwa berdoa memohon kepada selain Allâh hukumnya adalah haram dan dikategorikan syirik, berdasarkan ijma’ para ulama.

Kedua: Menyengaja datang ke kuburan hanya untuk berdoa di situ, atau untuk ziarah kubur plus berdoa, dengan keyakinan bahwa doa di situ lebih mustajab, karena keistimewaan yang dimiliki tempat tersebut (Berdoa di situ lebih afdal dibanding berdoa di masjid atau rumah).

Potret ini mengandung unsur kesengajaan memilih kuburan sebagai tempat untuk berdoa. Dan ini tidak akan dilakukan melainkan karena dorongan keyakinan akan keistimewaan tempat tersebut dan keyakinan bahwa tempat itu memiliki peran dalam menjadikan doa lebih mustajab. Karena itulah jenis kedua ini menjadi terlarang dan dikategorikan bid’ah.

Tatkala berbicara tentang hukum shalat di kuburan, Imam as-Suyuthy rahimahullah menjelaskan, “Jika seorang insan menyengaja shalat di kuburan atau berdoa untuk dirinya sendiri dalam kepentingan dan urusannya, dengan tujuan mendapat berkah dengannya serta mengharapkan terkabulnya doa di situ, maka ini merupakan inti penentangan terhadap Allâh dan Rasul-Nya serta menyimpang dari agama dan syariatnya.

Ketiga: Berdoa di kuburan karena kebetulan, tanpa menyengaja. Seperti orang yang berdoa kepada Allâh di perjalanannya dan kebetulan melewati kuburan. Atau orang yang berziarah kubur terus mengucapkan salam kepada sahibul kubur, meminta keselamatan untuk dirinya dan para penghuni kubur, sebagaimana disebutkan dalam hadits. Jenis doa seperti ini diperbolehkan. Hadits yang memotivasi untuk mengucapkan salam kepada penghuni kubur menunjukkan bolehnya hal itu. Dalam hadits Buraidah bin al-Hushaib Radhiyallahu’anhu disebutkan, “أَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ”. “Aku memohon pada Allâh keselamatan untuk kami dan kalian” (HR. Muslim).

Dalam hadits Aisyah Radhiyallahu’anhuma disebutkan, “وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ”. “Semoga Allâh merahmati orang-orang terdahulu kami dan yang akan datang” (HR. Muslim).

Doa yang tidak ada unsur kesengajaan biasanya pendek, sebagaimana disebutkan dalam dua hadits di atas. Jika ada yang ingin mempraktekkan doa jenis ketiga ini, sebaiknya ia mencukupkan diri dengan doa dan salam yang diajarkan dalam sunnah dan tidak menambah-nambahinya. Karena para ulama salaf membenci berdiam lama di kuburan. Imam Malik rahimahullah berkata, “Aku memandang tidak boleh berdiri untuk berdoa di kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun cukup mengucapkan salam lalu berlalu”.

Melihat gambaran yang dilakukan para peziarah di Marongge, mereka sengaja datang ke Makam Keramat hanya untuk berdoa di situ, dengan keyakinan bahwa doa di situ lebih mustajab. Mereka berdoa untuk meminta hajat kepada penghuni kubur atau batu yang dikeramatkan untuk mengabulkan keinginannya. Dan ini jelas merupakan perbuatan syirik yang dilarang Allah SWT.

Memang tidak dapat dipungkiri praktik seperti ini marak terjadi di negeri ini. Negara kapitalis terbukti mandul menjaga akidah umat. Pembiaran kesyirikan bukanlah hal yang aneh, karena Indonesia menerapkan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari negara. Sistem ini menempatkan penguasa bukan sebagai penjaga akidah umat. Masalah agama (akidah) dianggap sebagai masalah privat setiap individu di mana negara tidak berhak mencampurinya.

Negara juga memberi kebebasan kepada setiap individu rakyat untuk memilih keyakinannya sehingga negara akan membiarkan rakyatnya untuk memilih apakah mau melakukan syirik atau tidak. Kesyirikan bukan dianggap sebuah bahaya, bukan juga sebuah kejahatan tetapi hanya sebuah pilihan dalam keyakinannya.

Tentu ini jauh berbeda dengan Islam. Al-Qur’an memberikan perhatian yang penuh terhadap tauhid, sebab kesyirikan kepada Allah merupakan masalah umum yang menjalar ke semua umat manusia. Juga karena bahaya syirik kepada Allah senantiasa ada setiap saat. Islam mengukuhkan ketauhidan tersebut dengan pengukuhan yang gamblang hingga kita tidak melangkah dan jatuh tersungkur dalam kesyirikan. Hanya Allah satu-satunya yang harus disembah. Sebab Dialah satu-satunya Sang Pencipta.

Dalam Islam tidak mengakui sekularisme. Agama dalam negara Islam tidak hanya menjadi dasar keyakinan dan amal perbuatan individu Muslim, tetapi juga menjadi landasan pengaturan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Negara Islam akan menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara. Segala sesuatu yang menyangkut institusi negara, perangkat negara dan pengawasan atas tindakan negara harus dibangun berdasarkan akidah Islam.

Akidah Islam menjadi asas undang-undang dasar dan perundang-undangan syar’i. Dengan landasan seperti ini maka negara Islam tidak akan membiarkan rakyatnya memilih apakah mau syirik ataukah tidak. Negara Islam akan melakukan penjagaan akidah umat Islam sehingga tidak akan ada satu pun aktivitas syirik yang dibiarkan. Bahkan akan melakukan berbagai upaya untuk mengukuhkan keimanan semua individu rakyatnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Post a Comment for "Islam Menjaga Aqidah Umat dari Kemusyrikan"