Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demi Konglomerasi, Bali Dibuka Kembali

Di saat Indonesia mengalami penurunan drastis positivity rate, dari 13% menjadi 2%, hal ini yang berarti negeri ini sudah berada di bawah standar WHO. Di saat itulah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi langsung mengambil kesempatan untuk menginformasikan perihal ini kepada 18 negara

Oleh : Gien Rizuka (Penulis)

Di saat Indonesia mengalami penurunan drastis positivity rate, dari 13% menjadi 2%, hal ini yang berarti negeri ini sudah berada di bawah standar WHO. Di saat itulah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi langsung mengambil kesempatan untuk menginformasikan perihal ini kepada 18 negara.

Hal itu disampaikan ketika Menteri Luar Negeri Retno menghadiri pertemuan para petinggi di Sidang Majelis Umum PBB ke 76 di New York, Jumat (24/9/2021) malam waktu AS lalu. Kemudian, ia memanfaatkan informasi ini dengan langsung menuntut sesuatu hal dari petinggi negara tetangga. Pasalnya, Menteri Luar Negeri Itu berharap mekanisme red list untuk segera dicabut dari kebijakan negara-negara tetangga (cbbcIndonesia.com, 26/8/21).

Usut punya usut tindakan ini memang semata untuk melancarkan obyek wisata Bali yang akan segera kembali dibuka nanti. Obyek yang keindahannya mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang begitu fantastis bagi pengusaha tertentu. Karena Bali sendiri dikenal sebagai salah satu obyek wisata mancanegara. Maka tak heran jika para pejabat terburu-buru mempromosikan wisata Bali ke seluruh negara setelah sekian lama absen dari pengunjung mancanegara.

Namun, sebelumnya ada dua syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang telah diajukan oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) agar Bali dapat dibuka kembali bagi wisman di antaranya bahwa negara yang datang harus berdampak positif bagi ekonomi Bali, pun negara tersebut harus sudah aman dari wabah.

Meski begitu, Cek Acek telah mengakui bahwa Bali saat ini masih mengalami fluktuatif. Tetapi, demi melancarkan aksi penggenjotan ekonomi di Bali, Cek Acek pun tak memusingkan perkara ini. Ia terus saja melajukan wacana perizinan obyek wisata Bali dengan cara memanfaatkan keadaan Bali yang sedang berada di zona orange (aman) yang diharapkan Acek menjadi zona kuning (travel.detik.com, 17/8/21).

Sayangnya, menganggap zona kuning akan membawa secercah harapan dipembukaan objek wisata Bali merupakan kesalahan besar. Sebab obyek wisata Bali akan memancing masuknya virus-virus yang dibawa para wisman. Belum lagi jika signal zona kuning itu bukan berarti 100% aman. Kemungkinan kasus terkonfirmasi masih ada namun memang berkurang. Hal Ini bisa dilihat dari pernyataan Cek Acek di atas bahwa Bali masih fluktuatif.

Setara dengan Cek Acek, Sandiaga Uno pun selaku Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif cepat tanggap merespon di wacana pembukaan Bali ini. Seolah tak menjadikan covid-19 atau pun virus varian lainnya sebagai ancaman sebaliknya, justru dengan naifnya di akhir September ini, ia akan melakukan pembahasan hasil dari pemantauan dirinya perihal negara-negara mana sajakah yang diperbolehkan berkunjung ke Bali yang akan dibuka di Oktober ini ( Bali.bisnis.com, 24/8/21).

"Negara-negara masih kita pantau dan kita miliki beberapa target potensial, dan rencananya tanggal 30 kita ini bahas, karena harus sesuaikan dengan penanganan covid maupun varian baru yang kita pantau secara ketat," ujarnya, Jumat (24/9/2021).

Dilihat dari kebijakan kedua pejabat tersebut, maka jelas ini bagian dari strategi ekonomi yang lahir dari sistem Kapitalisme. Yang mana kadang kala kebijakannya menumbalkan keselamatan berbagai kalangan terutama rakyat. Naasnya lagi, penggenjotan di sistem Ekonomi Kapitalis tak mengenal halal dan haram. Tetapi, hanya menimbang dari sisi untung-rugi. Asalkan menguntungkan, maka pengelolaannya terus dijalankan. Maka pabila Bali dibuka, memang keuntungannya sangat menjanjikan terlebih bagi para konglomerasi (pengusaha wisata serta hotelnya). Sedangkan, pengusaha UMKM tak sedikit diibaratkan hanya mendapat uang recehan.

Bukan hal itu saja, kini kita juga bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Bali sendiri dijadikan sebagai pusat berkumpulnya para wisman. Wisman-wisman yang belum tentu terjamin sepenuhnya bebas dari virus covid-19 beserta turunannya. Jangankan masyarakat dari berbagai negara, masyarakat yang akan menjadi tuan rumah wisman Bali pun belum bisa dipastikan seluruhnya sehat dan taat terhadap prokes. Maka, dari sini kita harus memahami bahwa objek wisata Bali memang rentan terjadinya penularan Virus. Virus varian lama atau pun virus varian baru yang hingga detik ini masih mengancam ke pelosok-pelosok negeri. Karena itu, sebaiknya pembukaan kembali ekonomi di Bali layaknya ditinjau ulang oleh pemerinth setempat.

Post a Comment for "Demi Konglomerasi, Bali Dibuka Kembali"