Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MERAWAT KEIKHLASAN

Konsep ikhlas dalam mencari ilmu ini, jelas salah satu konsep yang membedakan antara adab dalam pendidikan Islam dengan pendidikan sekular, lebih mutakhir lagi, inilah salah satu pembeda antara peradaban Islam yang mulia dengan peradaban Barat yang sekular.

Di hampir semua kitab turats terutama di bidang Adab, sering ditemukan pada bagian muqaddimah, selalu dikutip hadits mengenai niat yang wajib dilandasi keikhlasan.

Tradisi ini tentu bukan sebuah seni menulis belaka di kalangan ulama terdahulu, namun lebih jauh dari itu, menyimpan makna mendalam bagi jiwa para pencari ilmu.

Tradisi tersebut pastinya bertujuan agar ilmu yang akan dipelajari dan dikuasai, betul-betul digunakan demi kepentingan Islam dan kaum muslimin, bukan demi kepentingan pribadi atau ambisi duniawi yang merusak, yang pada gilirannya menikam Islam dan kaum muslimin.

Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya imam an-Nawawi (w. 676 H) rahimahullah, sebagai fragmen dari kitab induk al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, telah dihimpun banyak perkataan ulama yang menggugah mengenai keikhlasan. Sungguh luar biasa, perkataan penuh hikmah para ulama ini, sangat mahal harganya.

Konsep ikhlas dalam mencari ilmu ini, jelas salah satu konsep yang membedakan antara adab dalam pendidikan Islam dengan pendidikan sekular, lebih mutakhir lagi, inilah salah satu pembeda antara peradaban Islam yang mulia dengan peradaban Barat yang sekular.

Niat Sebagai Pembuka

Imam Abu Sa’id Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah menyampaikan:

لو صنفت كتابا بدأت في أول كل باب منه بهذا الحديث ... من راد أن يصنف كتابا فليبدأ بهذا الحديث

Seandainya aku menulis kitab, aku selalu memulainya dengan hadits niat di setiap babnya … Siapa yang ingin menyusun kitab, hendaknya selalu memulai dengan hadits niat ini.

Imam Abu Sulaiman Ahmad bin Ibrahim bin al-Khaththab, dikenal sebagai al-Khaththabi asy-Syafi’i rahimahullah, pemuka di banyak bidang ilmu, menyatakan:

كان المتقدمون من شيوخنا يستحبون تقديم حديث الأعمال بالنيات أمام كل شئ ينشأ ويبتدأ من أمور الدين لعموم الحاجة إليه في جميع أنواعها

Guru-guru kami para ulama terdahulu, menyukai menempatkan hadits “segala amal tergantung niat” sebagai pembuka dan mengawali setiap perbuatan yang berkaitan dengan urusan agama, karena peran penting hadits tersebut dalam seluruh ragam urusan agama.

Gambaran Ikhlas Menurut Para Ulama

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

إنما يعطى الرجل على قدر نيته

Seseorang mendapatkan balasan sesuai kadar keikhlasan niatnya.

Abu Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata:

نظر الأكياس في تفسير الإخلاص فلم يجدوا غير هذا أن تكون حركاته وسكونه في سره وعلانيته لله تعالى وحده لا يمازجه شئ لا نفس ولا هوى ولا دنيا

Orang-orang cerdas merenungkan penjelasan mengenai ikhlas, mereka dapati kalimat yang tepat: hendaknya gerak dan diamnya, baik dalam keadaan sendiri maupun ada orang lain, hanya didasari karena Allah semata, tidak tercampuri maksud lain, baik karena dirinya, hawa nafsu maupun dunia.

As-Sari rahimahullah menyampaikan:

لا تعمل للناس شيئا ولا تترك لهم شيئا ولا تغط لهم شيئا ولا تكشف لهم شيئا

Janganlah sedikit pun kamu berbuat dan meninggalkan amal karena manusia, janganlah sedikit pun kamu menutupi dan mengungkapkan sesuatu karena manusia.

Dikisahkan Habib bin Abi Tsabit seorang tabi’in rahimahullah, suatu waktu diminta menyampaikan hadits, lantas dia berkata:

حتى تجئ النِّيَّةُ

(Tidak) hingga engkau hadirkan niat yang ikhlas.

Abu Abdullah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri rahimahullah menekankan:

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي إنها تتقلب علي

Tiada yang serius aku jaga selain niatku, karena niatlah yang membuatku berubah-ubah.

Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi rahimahullah menjelaskan:

الإخلاص إفراد الحق في الطاعة بالقصد وهو أن يريد بطاعته التقرب إلى الله تعالى دون شئ آخر من تصنع لمخلوق أو اكتساب محمدة عند الناس أو محبة مدح من الخلق أو شئ سوى التقرب إلى الله تعالى قال ويصح أن يقال الإخلاص تصفية الفعل عن ملاحظة المخلوقين

Ikhlas adalah memusatkan ketaatan hanya untuk Allah semata, artinya dengan ketaatan itu hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, bukan karena hal lain berupa respon makhluk, memperoleh pujian orang, senang apresiasi publik, atau yang semacamnya selain mendekatkan diri kepada Allah. Tepatnya: Ikhlas adalah memurnikan perbuatan dari segala macam perhatian makhluk.

Abu ‘Ali ad-Daqaq rahimahullah menegaskan:

الاخلاص التوقى عن ملاحظة الخلق والصدق التنقي عن مطالعة النفس

Ikhlas adalah menjauhi pengakuan manusia, dan jujur (benar) adalah memurnikan diri dari keangkuhan jiwa.

Abu Ayyub as-Susi rahimahullah menyebutkan:

متى شهدوا في إخلاصهم الإخلاص احتاج إخلاصهم إلى إخلاص

Kapan pun mereka menyaksikan keikhlasan, maka keikhlasan mereka senantiasa berhubungan dengan keikhlasan yang lainnya.

Dzu an-Nun rahimahullah menerangkan:

ثلاثة من علامات الإخلاص استواء المدح والذم من العامة ونسيان رؤية الأعمال في الأعمال واقتضاء ثواب العمل في الآخرة

Ada tiga tanda ikhlas: pertama, tidak terpengaruh pujian maupun kritikan publik; kedua, tidak mengingat-ingat amalan baik yang telah diperbuat; dan ketiga, hanya berharap pahala amal di akhirat.

Abu Utsman rahimahullah:

الإخلاص نسيان رؤية الخلق بدوام النظر إلى الخالق

Ikhlas adalah melupakan perhatian publik, sembari senantiasa fokus kepada sang Khaliq.

Hudzaifah al-Mar’asyi rahimahullah:

الإخلاص أن تستوي أفعال العبد في الظاهر والباطن

Ikhlas adalah terdapat kesamaan perbuatan hamba, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Abu ‘Ali al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata:

ترك العمل لأجل الناس رياء والعمل لأجل الناس شرك والإخلاص أن يعافيك الله منهما

Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya, melakukan amalan karena manusia itu syirik, dan ikhlas itu adalah ketika Allah selamatkan dirimu dari keduanya.

Ruwaim rahimahullah mengingatkan:

الإخلاص أن لا يريد على عمله عوضا من الدارين ولا حظا من الملكين

Ikhlas itu bukan tentang keinginan mendapat balasan amal di dunia dan akhirat, bukan pula untuk mendapat keuntungan dari dua malaikat pencatat.

Yusuf bin al-Husain rahimahullah mengingatkan:

أعز شئ في الدنيا الإخلاص

Suatu yang paling sulit di dunia ini adalah ikhlas.

Abu Utsman rahimahullah menjelaskan:

إخلاص العوام ما لا يكون للنفس فيه حظ واخلاص الخواص ما يجرى عليهم لا بهم فتبدو منهم الطاعات وهم عنها بمعزل ولا يقع لهم عليها رؤية ولا بها اعتداد

Ikhlas orang awam adalah ketiadaan keuntungan bagi dirinya; sedangkan ikhlas kalangan pilihan adalah tentang kewajiban bagi mereka, jadi ketaatan akan terlihat dalam diri mereka. Ada tempat sunyi dalam diri mereka yang tidak tersentuh riya dan berbangga diri.

Itulah beberapa diantara gambaran keikhlasan yang disampaikan para ulama, gambaran ini semoga bisa membantu kita dalam merawat keikhlasan dalam setiap amal kebaikan yang kita lakukan sekecil apapun. Wallahu a’lam.

Yan S. Prasetiadi

6 Shafar 1443 H

Post a Comment for "MERAWAT KEIKHLASAN"