Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kekerasan Seksual, Kriminal atau Kebebasan?

Kekerasan seksual tetap menjadi wabah menjijikkan di negeri mayoritas muslim bila nilai dan sistem sekuler dipraktikkan. Bahkan mendefinisikan kekerasan seksual saja bisa terus mengalami perubahan. Anehnya hal yang dianggap menjijikan ini di sistem sekuler kapitalis malah disanjung sanjung serta lemahnya sanksi yang diberikan kepada pelaku tidak membuat efek jera.

Oleh : Suci Hati, S.M.,

Kejahatan seksual sepertinya tidak ada habisnya muncul diberbagai media, baik itu media social, media cetak atau pun media televisi. Baru-baru ini viral berita Pegawai KPI yang mendapatkan perlakuan tidak baik dari rekan kerjanya.

Dilansir REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menegaskan pihaknya mendukung kepolisian mengusut kasus pelecehan seksual dan perundungan yang diduga dilakukan oleh tujuh pegawainya terhadap seorang pegawai KPI Pusat sejak tahun 2011-2020. Dalam pengakuan yang muncul ke publik lewat siaran tertulis oleh sejumlah media nasional di Jakarta, korban mengaku mengalami trauma dan stres akibat pelecehan seksual dan perundungan yang menjatuhkan martabat dan harga diri korban.

Sungguh miris dengan pengakuan salah satu pegawai KPI kasus perundungan yang dialami mengapa berita tersebut hingga berlarut-larut baru terungkap, padahal tindakan ini bukan tindakan kriminal biasa, perlu ada sanksi tegas bagi pelaku namun disayangkan korban melakukan siaran tertulis di media nasional, itu disebabkan karena tidak ada respon baik dari pihak yang berwajib. Sehingga korban melakukan tindakan tersebut untuk mengambil perhatian khalayak ramai dengan harapan akan ada yang membantu menyelesaikan permasalahannya.

Dikasus lain juga mencuat dari Ketua Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI, Agung Suprio mengatakan, lembaganya mengaku tidak melarang Saipul Jamil untuk tampil di publik, tapi membatasi. Saipul bisa tampil di publik dalam konteks edukasi atau wawancara tentang kejahatan yang dia lakukan (tempo.co, 09/09/2021).

Inilah sikap toleran KPI atas tampilnya artis pelaku kekerasan seksual bisa tambil di TV. Hal tersebut menegaskan Lembaga ini begitu lunak memperlakukan pelaku kekerasan seksual. Bagaimana bisa predator seksual yang mengincar anak anak dijadikan sebagai contoh untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait dampak pedofilia/predator anak sementara yang bersangkutan telah memberikan contoh tindakan seksual yang menyimpang dari perbuatannya. Berkebalikan dengan kampanye nasional anti kekerasan seksual. Sontak hal tersebut menimbulkan kontra ditengah-tengah masyarakat dengan sikap stasiun TV yang memberikan glorifikasi dianggap hilang empati dan hilangnya hati nurani kepada korban.

Jika menyikapi berbagai kasus tersebut, sepertinya sudah tidak dikejutkan lagi, mengingat aturan yang rusak akan melahirkan aturan yang rusak pula. Tatanan hidup masyarat kian terkikis sistem sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan serta liberalisme menjadi asas dalam berbuat semaunya bebas tanpa aturan. Hingga menimbulkan permasalah baru yang mana kemaksiatan sudah dilumrahkan serta tidak ada perlindungan utuh bagi perempuan dan anak-anak. Sehingga dengan mudahnya para pelaku didukung atas nama kebebasan dan berlindung dengan payung hukum itu sendiri. ,

Kekerasan seksual tetap menjadi wabah menjijikkan di negeri mayoritas muslim bila nilai dan sistem sekuler dipraktikkan. Bahkan mendefinisikan kekerasan seksual saja bisa terus mengalami perubahan. Anehnya hal yang dianggap menjijikan ini di sistem sekuler kapitalis malah disanjung sanjung serta lemahnya sanksi yang diberikan kepada pelaku tidak membuat efek jera.

Dan juga faktor lain salah satu pendukung peran media saat ini yang memiliki tujuan keuntungan semata tidak lagi memperhatikan baik buruk dari tampilan yang ditampilkan berupa penyimpangan seksual dan tontonan yang tidak mendidik pun marak dipertontonkan. Yang menjadikan penyebab bila suatu kemajuan teknologi bila tidak didasari agama yang benar pasti akan menimbulkan kerusakan.

Didalam Islam wanita begitu dijaga dan dilindungi kehormatannya dan begitu pula anak-anak akan benar-benar dijaga pergaulan dan tumbuh kembangnya. Tidak ada pemakluman terhadap pelaku kekerasan seksual dalam memberantasnya dengan sikap tegas dan hukuman menjerakan dan juga sebagai pengugur dosa di akhirat agar para pelaku kejahatan akan berpikir ulang.

Sanksi yang diberikan akan dijatuhkan sesuai keterlibatan mereka : pencabulan, pemerkosaan, penculikan, pelecehan akan diberikan sanksi tegas sesuai dengan tindakan tersebut. Sementara untuk para korban mereka bebas dari sanksi dikarenakan mereka dipaksa melakukan tindakan kriminal.

Inilah mulianya dalam Islam jangankan nyawa dan kehormatan manusia, nasib seekor keledai pun amat diperhatikan para pemimpin, sebagaimana perkataan Khalifah Umar bin Khaththab ra. yang masyhur, “Jika ada anak domba mati sia-sia di tepi sungai Eufrat (di Irak), sungguh aku takut Allah akan menanyaiku tentang hal itu.” (HR Adz-Dzahabi).

Jangankan rakyatnya hewan saja dicemaskan nasibnya, namun hal ini jauh berbalik dengan sistem saat ini yang tidak mampu menangani masalah kekerasan seksual disebabkan aturan yang lahir bukan dari Sang Pencipta. Yakni hanya dengan Islam yang memiliki solusi kompherensif mampu memberantas segala problematika umat dengan sebab Islam memiliki sikap tegas dan hukuman menjerakan mustahil lahir dari sistem sekuler liberal seperti saat ini. ,

Wallahu a’lam bish-shawab.,

Penulis : Suci Hati, S.M., Aktivis Dakwah dan Staff di Lembaga Sosial, Alumni UMSU Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen

Post a Comment for "Kekerasan Seksual, Kriminal atau Kebebasan?"