Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hanya Islam solusi tuntas untuk Afghanistan

Sebaiknya saudara-saudara di Afghanistan khususnya Taliban bahwa hanya dengan Islamlah bisa mengusir penjajah. Ketika mereka berkuasa, seharusnya dengan Islam itu juga mereka berkuasa dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, dengan menerapkan Islam kaffah penjajahan dapat diusir dan tidak akan bisa masuk karena tidak ada kompromi dan kerja sama dengan negara penjajah.

Negeri muslim di dunia saat ini sedang diperebutkan oleh negara penjajah, selama sistem tidak berubah penjajahan akan tetap ada.

Afghanistan sekarang sedang diperebutkan oleh beberapa negara karena Afganistan adalah negara kaya.

Pada 2010, seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa Afghanistan memiliki cadangan mineral alam yang melimpah yang dapat mengubah situasi ekonominya. Bahkan, mereka menggambarkan Afghanistan sebagai kandidat untuk menjadi ‘seperti Arab Saudi dalam lithium’, mengacu pada kelimpahan logam mulia di dalam wilayahnya, yang semakin hari semakin penting dalam pembuatan baterai dan elektronik.

AS telah memperkirakan bahwa cadangan litium Afghanistan dapat menyaingi cadangan di Bolivia, yang terbesar di dunia. Logam seperti besi, tembaga, dan emas, serta logam langka seperti lithium merupakan elemen kunci dalam baterai isi ulang. Lithium dan kobalt juga semakin diminati karena dunia mencoba beralih ke mobil listrik dan teknologi energi bersih lainnya untuk mengurangi emisi karbon.

Sayangnya, Afghanistan memiliki tantangan keamanan, kurangnya infrastruktur, dan kekeringan parah sehingga penambangan mineral paling berharga itu tidak mungkin dilakukan. Kemungkinan, situasi ini tidak bisa segera berubah setelah Taliban menguasai negara itu.

Para pengamat mengatakan, meski situasi Afghanistan saat ini dikepung oleh kekacauan, tidak menyurutkan minat dari negara-negara seperti China, Pakistan, dan India, mencoba untuk terlibat dalam penambangan mineral ini.

Selama ini, China menjadi rumah utama dan produsen logam tanah jarang. Para ahli memperkirakan kemungkinan China akan menjadi mitra bisnis yang dapat dituju oleh Taliban setelah kelompok itu menguasai Afghanistan.

Beijing telah menjangkau kepemimpinan Taliban pada bulan Juli, jauh sebelum runtuhnya pemerintah yang didukung AS di Kabul, dan telah menjadi salah satu dari sedikit kekuatan besar yang tetap membuka kedutaannya di ibu kota Afghanistan dalam beberapa hari terakhir.

Upaya China untuk mengembangkan lapisan tanah Afghanistan semasa pemerintahan Presiden Ashraf Ghani sejauh ini berakhir dengan kegagalan.

Rata-rata mobil listrik membutuhkan logam enam kali lebih banyak daripada mobil konvensional, menurut Badan Energi Internasional, dengan lithium, nikel dan kobalt menjadi komponen utama dalam baterai.

Jaringan listrik juga membutuhkan tembaga dan aluminium dalam jumlah besar, sementara elemen/logam tanah jarang digunakan dalam magnet yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin angin.

CNN menulis pada Kamis (19/8), Badan Energi Internasional mengungkapkan bahwa pasokan global lithium, tembaga, nikel, kobalt dan logam tanah jarang perlu meningkat tajam atau dunia akan gagal dalam upayanya untuk mengatasi krisis iklim. Tiga negara, yaitu China, Republik Demokratik Kongo, dan Australia, saat ini menyumbang 75 persen dari produksi global lithium, kobalt, dan logam tanah jarang

Pengambilalihan Afghanistan oleh Taliban memperlihatkan kebersamaan Rusia dan China. Kedua negara, di samping Iran dan Pakistan, telah membuka kedutaan mereka dan berkomunikasi secara teratur dengan perwakilan Taliban, walaupun belum mengakui Taliban secara resmi.

"China selama ini memelihara kontak dan komunikasi dengan Taliban Afghanistan atas dasar menghormati sepenuhnya kedaulatan Afghanistan dan kehendak semua faksi di negara itu, dan memainkan peran konstruktif dalam mempromosikan penyelesaian politik masalah Afghanistan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying, dilansir dari The Week, Rabu (18/8).

Bahkan AS tampaknya mengakui "pertemuan" Rusia dan China itu. Negara pertama yang dijangkau AS setelah runtuhnya Kabul adalah Rusia dan China. Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken menjangkau negara-negara yang memiliki hubungan panas dan dingin dengan AS.

Blinken berbicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara terpisah. Mereka membahas situasi dan upaya untuk mengevakuasi orang dengan aman. Blinken dan Lavrov juga membahas hubungan Moskow dengan berbagai kekuatan politik Afghanistan yang bertujuan membantu memastikan stabilitas dan ketertiban umum.

Keduanya, baik Rusia dan AS, setuju untuk melanjutkan konsultasi dengan partisipasi China, Pakistan, dan negara-negara lain yang berkepentingan untuk menetapkan kondisi yang tepat untuk memulai dialog tentang Afghanistan yang inklusif di bawah kondisi baru.

China ingin mencegah radikalisasi Islam di tanahnya dan membutuhkan Taliban untuk mencegah limpahan fundamentalisme Islam melalui perbatasan timur laut Afghanistan. Beijing saat ini berada di bawah radar negara-negara Barat karena telah memenjarakan lebih dari satu juta orang yang sebagian besar adalah Muslim Uighur dan minoritas lainnya. China juga bersekutu dengan Pakistan, yang dikenal sebagai pendukung Taliban. China juga ingin Taliban mengendalikan Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM).

China juga mengkhawatirkan keamanan proyek infrastruktur utamanya di bawah BRI (Belt and Road Initiative). Tanpa kesepahaman dengan Taliban, proyek-proyek BRI di kawasan, terutama CPEC, akan rentan terhadap serangan teroris. Media China menyebut Afghanistan sebagai "kuburan kekaisaran yang jatuh".

China masih mewaspadai kehadiran AS di Afghanistan, dan berharap untuk melangkah ke dalam kekosongan yang telah diciptakan akibat penarikan militer AS dari Afghanistan. Tentunya mengincar sumber daya alam Afghanistan berupa kekayaan mineral, sambil berharap untuk mengamankan kepentingan strategis dan ekonomi. Merujuk sejarah China dengan India, Beijing memandang Taliban sebagai infrastruktur dan mitra investasi yang berharga.

Selain itu, China dan Pakistan telah berbagi hubungan baik. Terlibat dalam hubungan persahabatan dengan Taliban akan membawa China dan Pakistan lebih dekat, sambil menjaga pengaruh India keluar.

Menjauhkan AS dari Afghanistan adalah prioritas bagi China dan Rusia. Kalau pun kehadiran AS membuat Taliban dan organisasi lain tetap terkendali, Rusia maupun China merasa tidak nyaman dengan kehadiran AS di halaman belakang mereka. Bagi para perencana keamanan mereka, kehadiran Amerika merupakan mimpi buruk strategis yang besar.

Untuk saat ini, Rusia tetap diam, tetapi, Zamir Kabulov, utusan presiden Rusia untuk Afghanistan, telah menyarankan agar Rusia mengakui pemerintah Taliban berdasarkan "perilaku otoritas baru". Dan tentu saja Taliban akan menganggap ini sebagai kemenangan besar.

Rusia sudah lama menyatakan niatnya untuk memerangi terorisme. Namun meski menyebut Taliban sebagai kelompok teroris, Rusia terbuka terhadap gagasan untuk terlibat dengan Taliban sehingga militan tidak melancarkan serangan terhadap sekutunya di Asia, yakni Uzbekistan dan Tajikistan.

Bulan lalu, Rusia melakukan latihan militer dengan Uzbekistan dan Tajikistan, serta juga melakukan latihan militer dengan China. Ini indikasi kuat bahwa Moskow tetap bertekad dalam perangnya melawan terorisme.

Terlepas dari itu, China dan Rusia menganggap Taliban yang sekarang cenderung tidak begitu radikal sehingga yakin bisa berbisnis dengan kelompok yang terorganisir itu. Apalagi, tidak seperti pada 1990-an, ketika Rusia dan Iran bergandengan tangan dengan India untuk menopang Aliansi Utara melawan Taliban, kali ini tidak ada pemimpin pemberontak yang berpengaruh untuk melawan Taliban. Ditambah lagi, Taliban telah mengambil alih wilayah perbatasan utara dan lainnya dan menetralisir hampir semua oposisi potensial.

Rencana pemerintah Afghanistan baru yang akan tetap menjalin hubungan dengan Amerika, sikap terhadap penjajah itu adalah harus memutus hubungan sama sekali dengan penjajah, karena penjajah tetaplah penjajah , mereka akan menguasai semua kekayaan untuk dikeruk untuk kepentingan penjajah

Apa yang terjadi di Afghanistan saat ini adalah buah negosiasi-negosiasi yang sudah cukup lama dan berbahaya bagi Afghanistan.

Poin yang dianggap berbahaya adalah bahwa pemerintah Afghanistan ke depan harus menjamin keamanan Amerika dan tidak memberikan jalan kepada kelompok-kelompok yang mengancam kepentingan Amerika.

“Itu akan jadi alat pemukul Amerika untuk melegalkan tindakannya. Apapun yang oleh Amerika tidak sejalan dengan kepentingannya mereka menggunakan poin ini. Artinya penjajahan masih berlangsung,” jelasnya.

Selain itu, yang juga sangat berbahaya, adalah akan dibangun kerja sama-kerja sama ekonomi, melibatkan Amerika dan negara-negara lain untuk membangun Afghanistan pasca mundurnya Amerika dari Afghanistan. “Ini juga racun yang sangat berbahaya. Artinya apa? Penjajahan Amerika akan masuk dalam bentuk lain, dalam bentuk ekonomi, dalam bentuk politik,”.

Menurutnya, jika itu dipatuhi Taliban, maka Amerika berhasil menjalankan strateginya. “Kalau itu dipatuhi oleh Taliban, maka Amerika berhasil menjalankan strateginya, karena itulah sebenarnya yang diinginkan oleh Amerika".

Sebaiknya saudara-saudara di Afghanistan khususnya Taliban bahwa hanya dengan Islamlah bisa mengusir penjajah. Ketika mereka berkuasa, seharusnya dengan Islam itu juga mereka berkuasa dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah, dengan menerapkan Islam kaffah penjajahan dapat diusir dan tidak akan bisa masuk karena tidak ada kompromi dan kerja sama dengan negara penjajah.

Post a Comment for "Hanya Islam solusi tuntas untuk Afghanistan"