Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Enggan Mendengarkan Musik, Patutkah Santri Penghafal Qur'an Disebut Radikal ?

Opini massif mengenai radikal, masih menjadi salah satu senjata ampuh yang dilontarkan sekuler untuk mengintimidasi Islam. Hal itu justru akan menciptakan perbedaan pemahaman yang bisa menimbulkan perpecahan umat dan saling mencibir antar sesama muslim. Masyarakat seharusnya mampu memandang dari segi rasa toleran dengan saling menghormati atas kepentingan masing-masing individu. Selain itu, juga tidak cepat menghakimi bahkan menilai buruk atas sebuah tindakan yang bisa merugikan atau mengganggu orang lain.

Oleh : Mauli Azzura

Negara dengan sistem kapitalis sekuler, yang memisahkan agama dengan kehidupan, makin terlihat keburukannya. Bahkan segala hal yang dipandang dekat dan berbau agama senantiasa menjadi serangan yang dianggap berbahaya dengan julukan radikalis.

Seperti kejadian yang dilansir dari republika.co.id (14/09/2021) saat para santri dari pondok pesantren Girikesumo, Banyumeneng, Mranggen, Demak, Jawa Tengah dalam kegiatan vaksinasi kepada 1.700 santri yang diselenggarakan mabes TNI bersama kodam lV/Diponegoro dan Pemkab Demak guna mempercepat program pemerintah untuk mencapai kekebalan komunal menuju Indonesia sehat bebas covid-19, menunjukan sekumpulan santri yang sedang mengantri vaksin, menutup telinga saat mendengar musik yang diputar di ruang tunggu.

Maraknya hal yang demikian itu menuai cibiran dari beberapa orang bahkan mengecap radikal bagi para santri tersebut lantaran enggan mendengarkan musik. Maka perlu kita ketahui bahwa hukum musik pada dasarnya adalah mubah, namun bisa menjadi haram ketika musik tersebut melantunkan nyanyian yang berisi syair-syair kotor dan jorok atau juga menyebabkan lalai dan meninggalkan kewajiban seperti meninggalkan sholat atau menunda-nunda dan lain-lain.

Tentu perbuatan yang tidak bisa dibenarkan jika dengan mudahnya mengecap radikal pada para santri tahfidz Qur'an yang sedang berupaya menghafal dan menjaga hafalan. Mereka pasti memiliki kiat tersendiri yang dilakukan demi meminimalkan interaksi sementara dengan dunia luar termasuk suara musik.

Dilansir dari Healthline, Jumat (17/9/2021), musik dan belajar adalah kedua aktivitas yang cukup rumit. Ada beberapa orang yang menjadikan musik sebagai alat yang dapat membantu mereka berkonsentrasi saat belajar atau bekerja.

Namun, tidak sedikit orang yang juga merasa tidak mungkin bisa berkonsentrasi dengan kebisingan atau adanya musik di sekitar mereka.

Musik memang menawarkan banyak manfaat baik, tetapi musik juga bisa memberikan efek buruk yang mungkin merugikan bagi beberapa orang.

Lalu apa yang menjadi kesalahan para santri sehingga menuai cibiran radikal ? Dari sini sudah jelas bahwa masalah terbesar negara yang memakai paham sekuler ialah islamophobia. Dimana Islam terus disudutkan dan dianggap mengancam. Pemikiran liberal-pluralisme seolah punya misi mengadu domba dengan mengait-ngaitkan agama sebagai hal berbahaya yang akan memecah belah NKRI.

Opini massif mengenai radikal, masih menjadi salah satu senjata ampuh yang dilontarkan sekuler untuk mengintimidasi Islam. Hal itu justru akan menciptakan perbedaan pemahaman yang bisa menimbulkan perpecahan umat dan saling mencibir antar sesama muslim. Masyarakat seharusnya mampu memandang dari segi rasa toleran dengan saling menghormati atas kepentingan masing-masing individu. Selain itu, juga tidak cepat menghakimi bahkan menilai buruk atas sebuah tindakan yang bisa merugikan atau mengganggu orang lain.

Wa llahu a'lam Bishowab

Post a Comment for "Enggan Mendengarkan Musik, Patutkah Santri Penghafal Qur'an Disebut Radikal ?"