Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Demokrasi Yamete Kudasai, Khilafah Arigato Gozaimasu

sistem demokasi masih tetap diberlakukan, namun kehidupan masyarakat semakin tidak membaik. Harusnya hidup dalam demokrasi itu adalah kehidupan yang ideal. Korupsi bisa ditekan, kriminalitas jarang terjadi, dan agama bisa diamalkan secara Kaffah.  Yang ada hanyalah masa depan yang semakin suram dalam demokrasi. Ini berbeda 360 derajat dengan Sistem Islam, Khilafah. Dalam Khilafah, angka korupsi bisa ditekan dengan cara menggaji tinggi pejabat, audit kekayaan awal dan akhir pejabat dan vonis hukuman berat kepada para koruptor.

Oleh Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Demokrasi sistem warisan Barat yang diamalkan di banyak negeri Kaum Muslimin. Pertanyaannya adalah apakah rakyat tambah sejahtera dan mendapatkan keadilan. Atau kah semakin sengsara dan dizhalimi.

Utang negara semakin besar. Ada yang memprediksi di akhir periode kedua rezim yang berkuasa saat ini utang negara akan mencapai Rp.10.000 Trilyun Rupiah. Terlalu besar untuk bisa dilunasi.

Bukan saja masalah utang, korupsi pun semakin subur meski dalam suasana pandemi. Penegakkan hukum kepada koruptor tidak tegas dan vonis nya pun ringan. Hanya dijatuhi sanksi beberapa tahun saja.

Banyak koruptor mendapatkan pemotongan masa tahanan. Bahkan ada mantan napi koruptor yang dijagokan untuk jadi duta lembaga anti rasuah. Artis yang divonis melakukan kejahatan pedofilia mendapatkan remisi tahanan 30 bulan.

Ketika keluar dari tahanan disambut bak pahlawan perang yang memenangkan peperangan besar. Padahal dia melakukan kejahatan seksual kepada anak di bawah umur. Sebagian stasiun TV malah mengundangnya sebagai duta edukasi. Edukasi seperti apa yang dimaksud ingin diajarkan kepada masyarakat?

Bulan September pun diramaikan dengan banyaknya aksi penyerangan kepada para Ustadz. Ada Ustadz yang ditembak di Tangerang hingga tewas dan ada yang hampir dibunuh di Masjid daeah Batam. Ini lah aksi radikalisme brutal terhadap para Ustadz.

Para pengemban dakwah Islam selalu dicurigai dan distigma negatif sebagai gerakan radikal atau garis keras. Padahal istilah garis keras (dalam konotasi negatif) tidak pernah ditemukan dalam khazanah Islam. Kata radikal sendiri bermakna netral.

Radikal berarti perubahan mendasar. Bisa bermakna positif atau negatif tergantung pada jenis perubahan yang diinginkan. Jika perubahannya dari jahiliyah ke Islam maka itu perubahan radikal yang patut dicontoh.

Contoh perubahan ini adalah dakwah Rasulullah SAW pada fase Mekah dan Madinah. Ada perubahan sistem yang mendasar disitu. Perubahan mendasar seperti ini bagus selama tidak menggunakan cara yang berlawanan dengan Syariah Islam atau menggunakan kekerasan.

Sekarang sistem demokasi masih tetap diberlakukan, namun kehidupan masyarakat semakin tidak membaik. Harusnya hidup dalam demokrasi itu adalah kehidupan yang ideal. Korupsi bisa ditekan, kriminalitas jarang terjadi, dan agama bisa diamalkan secara Kaffah.

Yang ada hanyalah masa depan yang semakin suram dalam demokrasi. Ini berbeda 360 derajat dengan Sistem Islam, Khilafah. Dalam Khilafah, angka korupsi bisa ditekan dengan cara menggaji tinggi pejabat, audit kekayaan awal dan akhir pejabat dan vonis hukuman berat kepada para koruptor.

Hasilnya, terbentuklah pemerintahan yang bersih dari korupsi. Contoh fakta sejarahnya ada pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab ra dan Umar bin Abdul Aziz. Bukan saja minim korupsi kekayaan pun merata di tengah masyarakt. Tidak dikuasai kelompok kapitalis tertentu.

Dalam masa keemasan Khilafah itu, para Ulama dihargai. Orang-orang yang tidak berakhlak mulia tidak pernah dijadikan sebagai tuntunan atau public figure. Khilafah pun sebagai negara yang seringkali menghentikan pelecehan terhadap Islam dan Nabi Muhammad SAW.

Khilafah pernah menghentikan drama Voltaire yang mau menghina Nabi Muhammad SAW. Drama ini gagal tayang di beberapa negara Eropa karena takut dengan ancaman Khilafah Islamiyah. Berbeda dengan sekarang dimana ketika seorang perwira polisi memukul penista agama demi melindungi kehormatan Nabi SAW, perwira itu malah mau dipenjarakan.

Pada masa keemasannya pula, Khilafah pernah surplus pendapatan. Tanpa berutang luar negeri. Bahkan mampu menolong AS dan Eropa yang terkena wabah kelaparan besar (The Great Hunger).

Kalau pun Khilafah akhirnya runtuh dan banyak utangnya itu disebabkan oleh makar jahat serangan pemikiran dan budaya dari Barat. Bukan karena ajaran Islam itu sendiri.

Oleh karena itu, segera stop sistem yang rusak. Terima kasih Khilafah. Semoga Allah SWT memberikan kekuatannya kepada umat ini agar dapat menegakkan kembali sistem Islam ini. []

Bumi Allah SWT, 21 September 2021

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Demokrasi Yamete Kudasai, Khilafah Arigato Gozaimasu"