Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fatamorgana Pertumbuhan Ekonomi di Negeri Demokrasi

Pertumbuhan ekonomi sesungguhnya adalah sebuah ilusi. Fatamorgana di tengah kehausan rakyat akan kehidupan yang sejahtera. Penguasa ingin terlihat berhasil dalam memajukan ekonomi rakyatnya dalam bentuk angka, bukan realita. Dan apalah daya, jeritan rakyat yang kelaparan dan kesusahan tidak berpengaruh pada perhitungan PDB. Sekalipun mereka mati di jalanan, tidak ada yang peduli kecuali hanya dijadikan sebagai bahan berita di media.

Oleh : Fauziya

Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan memuaskan pada kuartal II (Q2) 2021. Di mana pertumbuhan tercatat 7,07% dibanding Q2 2020 5,3%. Namun sayangnya, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ini adalah "pertumbuhan ekonomi semu", karena menggunakan base rendah di tahun 2020. (www.cnbcindonesia.com)

Serangan keras juga dilontarkan oleh PDIP kepada pemerintah. Pengumuman itu dianggap hanya merupakan klaim sepihak pemerintah karena pada faktanya hal itu sama sekali tak sejalan dengan kondisi riil di lapangan saat ini. (fajar.co.id)

Di tengah kelesuan ekonomi publik karena pandemi yang belum juga berakhir, pengumuman meningkatnya pertumbuhan ekonomi seolah dianggap sebagai kebohongan publik. Masyarakat yang berada di lapangan justru merasakan sebaliknya yaitu kesulitan ekonomi yang semakin mencekik.

Utang pemerintah yang tinggi dan angka pengangguran yang terus meningkat harusnya menjadi gambaran bahwa ekonomi Indonesia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Bisa dikatakan ekonomi negeri ini sedang mengalami krisis yang tersembunyi dibalik angka-angka yang menunjukkan pertumbuhan.

Hal ini tentu saja kembali bermuara pada akar masalah yang belum juga terselesaikan di negeri ini yaitu penerapan ekonomi kapitalis. Sistem yang berpihak hanya pada pemilik modal ini berhasil menggerus kesejahteraan ekonomi rakyat yang seharusnya bisa didapatkan ketika negara dijalankan dengan aturan yang benar.

Pertumbuhan ekonomi hanya dilihat dari pencapaian rata-rata penduduk di suatu negara tanpa peduli banyak individu yang ternyata kesulitan bahkan untuk mendapatkan sebungkus makanan. Ditambah lagi tingginya biaya kesehatan sehingga banyak mereka yang memilih untuk tidak berobat walaupun penyakit menggerogoti tubuhnya.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat karena biaya pendidikan yang bisa menghabiskan anggaran belanja rumah tangga juga menyebabkan menurunnya kualitas generasi. Padahal lapangan pekerjaan yang layak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki pendidikan tinggi. Jenjang pendidikan menjadi syarat diterimanya seseorang bekerja di sebuah lembaga atau perusahaan.

Lalu bagaimana nasib mereka yang tidak mengecap pendidikan di bangku sekolah? Sebagian besar dari mereka memilih menjadi pekerja serabutan, buruh kasar atau jika ada sedikit modal bisa menjadi seorang pedagang. Nasib baik jika tidak berakhir menjadi preman atau pelaku kriminal.

Inilah fakta yang terjadi dalam negeri demokrasi. Pertumbuhan ekonomi sesungguhnya adalah sebuah ilusi. Fatamorgana di tengah kehausan rakyat akan kehidupan yang sejahtera. Penguasa ingin terlihat berhasil dalam memajukan ekonomi rakyatnya dalam bentuk angka, bukan realita. Dan apalah daya, jeritan rakyat yang kelaparan dan kesusahan tidak berpengaruh pada perhitungan PDB. Sekalipun mereka mati di jalanan, tidak ada yang peduli kecuali hanya dijadikan sebagai bahan berita di media.

Betapa jauh berbedanya membandingkan sistem kapitalisme ini dengan aturan dalam sistem Islam. Bahkan sejarah pernah mencatat bahwa pernah masyarakat Islam hidup tanpa ada yang berhak menerima zakat karena sejahteranya mereka. Ini terjadi di masa kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz.

Pendidikan dan kesehatan yang mudah dijangkau tanpa harus mempedulikan biaya yang harus dikeluarkan karena negara yang mensubsidi itu nyata. Maka tidak aneh lahir ilmuwan-ilmuwan besar yang menguasai berbagai bidang. Tidak perlulah merantau ke luar negeri untuk menimba ilmu karena gudang ilmu ada di dalam negara Islam itu sendiri.

Maka sebuah kekeliruan yang fatal ketika kini umat Islam meninggalkan aturan Islam yang sempurna demi mengikuti jejak para kapitalis dalam menjalankan negaranya. Kesejahteraan hanya angan-angan yang dijanjikan agar rakyat terbuai dalam upaya penguasa memperkaya diri mereka sendiri.

Harapan yang besar tentu ada di tangan umat Islam. Umat yang besar dan mulia ini, semoga segera bangun dari mimpi-mimpi demokrasi yang ditanamkan dalam waktu yang lama di benak mereka. Perjuangan mengembalikan peradaban Islam semoga semakin bergelora hingga tidak terbendung lagi kedatangannya. Kapitalisme yang menyajikan fatamorgana​ semoga luluh lantah dengan kebobrokannya. Pertolongan Allah itu nyata bagi hamba yang meyakini-Nya.

Post a Comment for "Fatamorgana Pertumbuhan Ekonomi di Negeri Demokrasi"