taat syariat
Oleh: Masyi
Tak terasa, Hari Raya Idul Adha tahun ini akan segera tiba. Namun sayang, untuk kedua kalinya, Idul Adha ini kita rayakan masih dalam kondisi pandemi Covid-19. Dari hari ke hari korban makin banyak yang berjatuhan. Ribuan orang meninggal. Puluhan ribu orang terinfeksi virus Covid-19. Bahkan jumlah orang yang terinfeksi virus ini makin meningkat. Itu baru yang terdata, entah berapa yang belum terdata.
Sebagai orang yang beriman, menyikapi segala sesuatu yang Allah turunkan kepada kita, maka kita wajib mengimani bahwa hanya Allah SWT yang kuasa menghidupkan dan mematikan manusia. Semuanya ada dalam genggaman-Nya. Sakit maupun sembuh, baik ataupun buruk, semuanya ada dalam kuasa-Nya.
Begitu pun saat ditimpa musibah, kaum Muslim seharusnya muhasabah dengan cara sering bertaubat, meningkatkan taqarub kepada Allah dengan banyak-banyak melakukan ibadah, banyak berdoa dan melaksanakan berbagai amalan lainnya yang bisa membuat Allah ridha kepada kita. Nah saat ini adalah momen untuk kembali kepada Allah SWT dengan taubat yang sesungguhnya. Wujud taubat itu sendiri adalah dengan menjalankan ketaatan atas semua perintah dan larangan Allah SWT. Tentu saja Ketaatannya total, tidak setengah-setengah. Lalu seperti apa bentuk ketaatan total itu?
Ketaatan total kepada Allah SWT telah dicontohkan secara paripurna oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as, dalam sebuah peristiwa yang sangat monumental, sebagaimana yang telah dikisahkan dalam Al-Quran.
Pada Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1442 H ini, kita kembali mengenang peristiwa agung tentang dua kekasih Allah SWT ini. Betapa besar pengorbanan Nabi Ibrahim as. dalam menaati perintah Allah SWT. Beliau rela diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail as. Bagi Nabi Ibrahim as., Ismail as. adalah buah hati, harapan dan kecintaannya yang telah lama beliau dambakan. Namun, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah SWT kepada beliau untuk mengorbankan putra kesayangannya itu. Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
“Tatkala anak itu telah mencapai usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Anakku, sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih dirimu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.” (TQS ash-Shaffat [37]: 102). Atas perintah Allah SWT tersebut, Nabi Ibrahim as, mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah SWT. Sebaliknya, beliau segera menyingkirkan kecintaan yang rendah, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.
Perintah amat berat itu pun disambut oleh Ismail as. dengan penuh kesabaran. Beliau bahkan mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya dengan mengatakan:
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar” (QS ash-Shaffat [37]: 102).
Dari kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as tersebut, seharusnya menjadi teladan bagi kita saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Namun, Kedua kekasih Allah SWT ini juga merupakan teladan dalam berjuang dan berkorban. Tentu saja demi mewujudkan ketaatan kepada Allah SWT secara total.
Teladan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. sungguh sangat berarti bagi kita dalam menjalankan semua perintah Allah SWT, yakni dengan mengamalkan dan menerapkan syariah-Nya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kewajiban dalam memutuskan perkara dengan hukumNya.
Spirit sami’nâ wa atha’nâ (kami dengar dan kami taat) sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as, jelas membutuhkan pengorbanan. Dalam konteks ini, kita patut bertanya kepada diri kita sendiri, sudah sejauh manakah pengorbanan kita dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT?
Semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslim untuk menjalankan ketaatannya secara kaffah, agar kedekatan kita sama Allah semakin dekat, bukan hanya individu-individunya tapi masyarakat maupun negaranya. Dan akhir kalimat, Semoga kita pun termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dan berkorban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan kehidupan Islam. Aamiin
Wallahu a’lam bi ash-shawwab.
COMMENTS