Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rekor Baru Covid-19, Indonesia Juara Pertama di Asean

Hari demi hari rekor lonjakan kasus Corona (COVID-19) dalam sehari semakin mengerikan. Kini angka kasus Corona sehari sudah mencapai 20 ribuan kasus. Pada Juni 2021, rekor-rekor baru terkait kasus Corona terus datang. Rekor-rekor Corona ini juga terjadi di beberapa wilayah. jika dirunut dalam sepekan terakhir, kasus Corona terus melonjak.

Oleh: Fath A. Damayanti, S.Si (Pemerhati Lingkungan dan Politik)

Hari demi hari rekor lonjakan kasus Corona (COVID-19) dalam sehari semakin mengerikan. Kini angka kasus Corona sehari sudah mencapai 20 ribuan kasus. Pada Juni 2021, rekor-rekor baru terkait kasus Corona terus datang. Rekor-rekor Corona ini juga terjadi di beberapa wilayah. jika dirunut dalam sepekan terakhir, kasus Corona terus melonjak.

Berikut ini lonjakan kasus baru Corona dalam sepekan terakhir: 14 Juni: 8.189, 15 Juni: 8.161, 16 Juni: 9.944, 17 Juni: 12.624, 18 Juni: 12.990, 19 Juni: 12.906, 20 Juni: 13.737, 21 Juni: 14.536, 22 Juni: 13.668, 23 Juni: 15.308, 24 Juni: 20.574 (detik.com, 25/6/2021). Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang mencatat 2 juta kasus Covid-19 pada Senin (21/6/2021). Jumlah tersebut dicapai setelah terjadinya lonjakan kasus virus corona beberapa minggu terakhir. Bahkan Indonesia mencatat rekor kasus Covid-19 harian tertinggi pada Rabu (23/6/2021) dengan 15.308 kasus, sehingga total kasus menjadi 2.033.421 kasus. Dengan adanya lonjakan ini, kasus aktif pun ikut melonjak dengan 160.524 kasus (kompas.com, 24/6/2021).

Sebagian kecil masyarakat Indonesia "menolak menaati protokol kesehatan karena terpapar berita menyesatkan, namun sebagian lainnya bersikap apatis lantaran tidak mendapat keteladanan dari pejabat pemerintah" terkait penanganan Covid-19, kata pengamat. Windhu Purnomo selaku ahli penyakit menular dari Universitas Airlangga, Surabaya, mengatakan sebagian masyarakat mempercayai informasi Covid-19 yang disampaikan pemerintah jika narasi para pejabat publik tidak saling bertentangan. Dia mencontohkan kebijakan pemerintah tentang larangan mudik Lebaran, namun di sisi tidak melarang kunjungan ke lokasi wisata (bbc.com, 17/6/2021).

Kasus terpapar covid-19 yang terus meningkat membuat berbagai rumah sakit terancam kolaps karena tak mampu menampung pasien, bahkan sudah ada beberapa rumah sakit yang terpaksa menutup pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena kapasitas sudah tidak memadai, ditambah lagi dengan kekurangan fasilitas untuk menangani pasien covid. Hal ini diperparah dengan keadaan masyarakat yang sebagian masih abai dengan protokol kesehatan (prokes) di tempat-tempat umum. Terlebih jika di lokasi wilayah mereka belum ada yang terpapar virus corona, akhirnya menganggap aman-aman saja keluar rumah tanpa prokes yang memadai. Bahkan ada ketakutan untuk berobat ketika sakit dengan gejala yang hampir mirip dengan covid dengan alasan nanti di covid kan oleh pihak medis.

Belum lagi banyaknya opini-opini dan berita-berita di media yang belum bisa dipastikan keakuratannya, beredarnay berita hoax mengakibatkan masyarakat juga kebingungan dengan kondisi saat ini dan tak sedikit yang termakan isu yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan di satu sisi, kebijakan pemerintah juga belum optimal dalam mengatasi pandemi. Kebijakan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, bahkan sekarang menjadi 5 M yang ditambah menjauhi kerumunan dan membatasi mobilisasi dan interaksi, tak akan efektif jika tidak silakukan secara optimal. Demikian pula 3T yakni Testing, Tracing, dan Treatment. Vaksin yang dijadikan sebagai “senjata” pun sampai saat ini belum berjalan dengan optimal, lagi-lagi ketidakpercayaan masyarakat terhadap solusi yang diambil pemerintah menjadi salah satu kendala berjalannya program-program tersebut.

Sejak awal terjadi pandemi sampai saat ini Indonesia masih menjadi negara dengan kasus yang tinggi. Bukannya fokus pada penanganan secara tuntas pandemi tetapi justru fokus pada promosi pariwisata. Lonjakan kasus covid di berbagai daerah menegaskan gagalnya kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah. Kewajiban negara untuk membuatkan kebijakan yang berfokus menghentikan wabah dan memberi jaminan pemenuhan rakyat, bukan mengedepankan kelangsungan bisnis kaum kapitalis. Tempat wisata dibuka, Mall dibuka, wisatawan asing dan lokal bebas keluar masuk.

Sejatinya Islam telah memberikan contoh bagaimana dalam menghadapi pandemi, dengan cara lockdown. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya.” (HR Muslim).

Konsep ini diterapkan dengan penuh persiapan dan pengurusan yang tepat. Fasilitas terpenuhi, bahan makanan, obat-obatan, juga terpenuhi. Selain itu sebagai seorang muslim dengan keimanannya akan menyadari bahwa segala sesuatu terjadi atas qadha’ Allah maka akan menjadikan wabah tersebut sebagai bahan untuk muhasabah dan tetap ikhtiar.

Maka sinergi antara individu, masyarakat dan negara sangatlah diperlukan dalam mengatasi wabah. Mengutip dari Ust Oemar Mitta “Corona adalah makhluk Allah, supaya kita faham arti saling menjaga, karena terlalu takut adalah salah tetapi terlalu meremehkan adalah fatal”. Mari senanatiasa tingkatkan imun, iman dan aman.

Wallahua’lam bishawab [*]

Post a Comment for "Rekor Baru Covid-19, Indonesia Juara Pertama di Asean"