Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rakyat berguguran, tanggungjawab siapa?

Duka negeri akibat pandemi belum ada tanda akan berakhir, bahkan dikabarkan angka pasien COVID-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri meningkat. Tim Lapor COVID-19 mencatat hingga Minggu (11/7) terdapat 450 orang meninggal. Ada setengah juta lebih masyarakat dengan kasus isoman dan meninggal, tak luput tenaga kesehatan yang juga turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona.

Oleh : Nur Arofah ( aktivis dakwah)

Duka negeri akibat pandemi belum ada tanda akan berakhir, bahkan dikabarkan angka pasien COVID-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri meningkat. Tim Lapor COVID-19 mencatat hingga Minggu (11/7) terdapat 450 orang meninggal. Ada setengah juta lebih masyarakat dengan kasus isoman dan meninggal, tak luput tenaga kesehatan yang juga turut gugur saat menangani pasien yang terpapar virus Corona.

"Data mereka yang meninggal di rumah saat isoman, tim data Lapor Covid sejak Juni sampai hari ini terdapat setidaknya 675 warga yang melakukan isoman dan meninggal dunia. Beberapa di antaranya mengalami penolakan dari rumah sakit. Lalu bulan ini saja, nakes di Indonesia yang meninggal, ini belum genap sebulan, tapi ada 206 nakes yang meninggal," kata Koordinator LaporCovid-19, Irma Hidayana, dalam konferensi pers virtual, (detikNews.com 18/7/2021).

Tim Lapor Covid mencatat jika ditotalkan, ada 1.371 nakes yang meninggal selama 1,5 tahun pandemi mewabah di Tanah Air. Pihaknya juga masih menerima laporan masyarakat yang kesulitan mendaftar vaksinasi di beberapa daerah. Lanjut Irma,(detikNews.com 18/7/2021).

Rakyat yang terpapar dan dinyatakan positif Covid-19 tak terkendali, dilema bagi rakyat. Rumah sakit penuh dan kewalahan tidak sanggup menerima pasien, terpaksa yang dinyatakan positif harus isoman di tempat tinggal mereka.

Tak hanya di Pulau Jawa, pasien Covid-19 yang meninggal saat isoman juga terjadi di beberapa daerah, di antaranya lima orang di Riau serta Lampung, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur masing-masing tiga orang. Terakhir, dua orang di Kepulauan Riau dan satu orang di Kalimantan Barat, (Kompas.com 14/7/2021).

Tanpa bekal ilmu dan fasilitas memadai selama isoman, banyak nyawa rakyat melayang, siapa yang harus bertanggungjawab ?.

Anggapan melonjaknya kasus Covid-19, karena abainya protkes dari rakyat membuat pemerintah sulit menyelesaikan pandemi, benarkah?.

Ingin rasanya rakyat melakukan aktifitas sesuai anjuran penguasa, namun apa daya tak ada jaminan pasti dengan kelangsungan hidup mereka. Mau tidak mau mereka harus menjemput rezeki di luar rumah. Akhirnya rakyat memilih antara mati kelaparan atau mati karena wabah.

Di tengah kondisi ekonomi rakyat yang Morat Marit. Beberapa waktu lalu dari kalangan pejabat mentweet aktifitasnya menonton sinetron yang sedang melejit di masyarakat. Bahkan sampai mengomentari dengan rinci alur ceritanya. Ada pula pejabat pariwisata, meminta komedian dalam negeri berkolaborasi menghibur masyarakat. Untuk meningkatkan imunitas atau kekebalan di tengah meningkatnya kasus Covid-19, (Tempo.co 14/7/2021).

Lontaran para pejabat tersebut hanya menambah perih dan pedih kondisi rakyat, yang dibutuhkan rakyat adalah jaminan psikis berupa jaminan kesehatan dan ekonomi. Dalam keadaan isoman dan diterapkan PPKM. Luka rakyat semakin perih, dilarang beraktifitas. Namun distribusi logistik bagi rakyat baik yang terpapar atau terimbas wabah, pemerintah terkesan abai dan lambat. Tidak semua rakyat mendapat gaji bulanan, banyak yang mengandalkan penghasilan harian.

Inilah bukti buruknya tatanan sistem kapitalisme, landasan kebijakan yang diambil dalam bernegara dan bermasyarakat adalah ekonomi atau untung rugi. Sistem yang menghasilkan manusia-manusia yang minim nurani, miskin empati, hanya memikirkan kesenangan pribadi. Akal manusia menjadi acuannya dalam membuat aturan.

Dalam Islam pemimpin adalah pelayan umat, maka akan bersungguh-sungguh menunaikan kewajiban mengurus dan menjaga umat. Ia khawatir dan takut jika tidak amanah. Sabda Rasulullah SAW : "Sungguh jabatan adalah amanah. Pada hari kiamat nanti jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambil jalan itu dengan hak dan menunaikan amanah yang menjadi kewajibannya".(HR.Muslim).

Pemimpin atau khalifah sangat serius dalam mengurusi rakyatnya, mengambil dan menetapkan kebijakan untuk menuntaskan setiap masalah hanya dengan aturan Allah SWT. Mendorong ketakwaan masyarakat dengan syar'iat kaffah, sehingga mereka menjaga diri dari segala tindakan mudharat.

Pemimpin yang amanah, empati dan memudahkan urusan rakyatnya, hanya bisa terwujud dalam sistem khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian.

Wallahu A'lam Bishowab

Post a Comment for "Rakyat berguguran, tanggungjawab siapa?"