Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liberalisasi Sex, Racuni Keluarga Muslim

Salah satu permasalahan yang tengah di hadapi oleh generasi muda saat ini dan juga para orang tua adalah masalah pornografi termasuk di dalamnya adalah film porno. Saat ini keberadaannya merebak dimana-mana dan sangat mudah diakses. Salah satunya melalui telepon genggam yang dimiliki anak. Bermula dari iseng atau penasaran membuka situs porno. Maka setelah dua atau tiga kali dilakukan akan memiliki efek ketagihan. Jika sudah ketagihan maka akan banyak sekali efek negatifnya diantaranya adalah melakukan seks bebas.

Oleh Verawati S.Pd (Pegiat Opini Islam)

“(Aku selalu nanya) Gimana nonton ini? Misalnya kayak gitu. Asyik nggak? (Mereka bilang) Bunda kamu jangan gini-gini (bicara soal film porno). (Lalu dijawab) Aduh, biasa aja bro. Aku begitu," tegas Yuni, (detik news 26/6/2021). Ini adalah kutipan jawaban Yuni Sarah saat ditanya Vena Melinda dalam wawancaranya yang menjadi viral. Menurut artis tersebut bahwa dirinya akan menemani anaknya untuk melihat film porno dan akan memberikan penjelasan atau pendidikan seks.

Menanggapi hal ini ketua KPAI Susanto angkat bicara, menurutnya bahwa film porno adalah film yang sangat berbahaya dan dampak negatifnya serius pada tumbuh kembang anak. Jadi tidak boleh anak-anak melihat film porno meski dalam menonton ditemani oleh orang dewasa atau orang tua. Sebab memiliki dampak buruk (detik news 26/6/2021).

Salah satu permasalahan yang tengah di hadapi oleh generasi muda saat ini dan juga para orang tua adalah masalah pornografi termasuk di dalamnya adalah film porno. Saat ini keberadaannya merebak dimana-mana dan sangat mudah diakses. Salah satunya melalui telepon genggam yang dimiliki anak. Bermula dari iseng atau penasaran membuka situs porno. Maka setelah dua atau tiga kali dilakukan akan memiliki efek ketagihan. Jika sudah ketagihan maka akan banyak sekali efek negatifnya diantaranya adalah melakukan seks bebas.

Benarkah cara mengajarkan seks pada anak seperti itu? Apa penyebab utama maraknya film porno dan bagaimana cara Islam dalam mengatasinya?

Kapitalisme Sumber Masalah

Penyebab utama merebaknya pornografi di tengah masyarakat adalah sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan. Sebab dalam pandangan kapitalisme jika sesuatu ada nilai ekonomis atau barang tersebut bernilai ekonomis akan dijual meski mengandung bahaya, termasuk film porno dinilai sebagai barang ekonomis. Selama ada orang yang mau melihat atau membelinya akan diproduksi dan dijual belikan atau ditayangkan. Sebab menghasilkan keuntungan, meski memiliki dampak negatif atau berbahaya. Inilah sumber utamanya.

Oleh karenanya, negara yang menerapkan sistem kapitalisme akan membolehkan untuk memproduksi dan menjualnya. Jika pun dilarang tetap saja ada yang dibolehkan atau penjagaannya tidak ketat. Seperti banyaknya situs-situs porno yang beredar. Mereka tetap ada dan tidak mendapatkan sanksi apa pun dari pemerintah.

Ditambah lagi cara berpikir liberal dan gaya hidup hedonis. Mereka berpikir bahwa tayangan porno adalah hiburan dan seseorang bebas-bebas saja untuk melihatnya. Gaya hidup hedonis yang hanya mementingkan kebahagiaan sendiri adalah faktor semakin merebaknya film-film porno. Saking sudah maraknya maka hal itu dianggap biasa. Bahkan tadi ada orang tua orang tuanya membolehkan untuk melihat film-film tersebut.

Islam Sebagai Solusi

Tidak ada yang menafikan bahaya melihat film porno ini. Baik dilihat oleh orang dewasa maupun remaja dan anak-anak. Para ahli di bidang psikologi atau terkait dengannya sudah menjelaskan dengan gamblang. Apa dampak dan efek negatif dari melihatnya. Lalu untuk mengurangi atau menanggulangi masalah ini. Para ahli atau terkait dibidangnya dan juga pemerintah membuat suatu rancangan. Diantaranya adalah pendidikan kesehatan dan produksi untuk remaja. Pendidikan seks komprehensip dan lain sebagainya. Akan tetapi solusi tersebut hanya bersifat pragmatis dan parsial saja. Tidak menyentuh pada akar permasalahan.

Berbeda dalam sistem Islam. Islam berpandangan bahwa apa yang ada dimasyarakat adalah hal-hal yang memang seharusnya ada dan dibutuhkan oleh masyarakat. Patokannya adalah hukum syara atau perintah Allah SWT. Maka ketika hukum syara mengharamkan sesuatu, seperti film porno. Maka negara akan melarang untuk memproduksi dan mengedarkannya. Negara tidak melihat ada nilai ekonomis atau tidak, tetapi berpatok pada hukum syara dan bahaya yang dikandungnya.

Inilah bentuk penjagaan negara terhadap akal dan juga akidah serta nyawa manusia. Dengan melarangnya maka masyarakat akan mendapatkan keamanan dan kenyamanan hidup. Selain itu, negara hanya akan membolehkan siaran atau situs-situs yang bermanfaat dan berguna untuk peningkatan keimanan, pengetahuan masyarakat dan akan memberikan sanksi yang tegas kepada siapa saja yang menyiarkan situs porno atau hal-hal yang akan merusak akal dan akidah masyarakat.

Kemudian, negara juga akan mendorong dan mendidik setiap individu memiliki ketakwaan dan keimanan yang tinggi. Diantaranya, melalui dunia pendidikan mulai tingkat anak-anak hingga perguruan tinggi. Semuanya akan dibentuk dengan tsaqofah Islam yang baik. Sehingga dengan takwa dan iman ini akan mampu mencegah dari perbuatan maksiat seperti membuat dan mengedarkan serta melihat film porno.

Ditambah kontrol masyarakat yang tinggi. Dengan dorongan amar Maruf nahi Munkar, masyarakat saling memberikan nasehat dan berupaya untuk mencegah satu sama lain berbuat maksiat. Suasana ini mampu mencegah masyarakat berbuat maksiat.

Inilah sistem Islam yang memberikan penyelesaian terhadap masalah secara tuntas dan menyentuh pada akar permasalahan. Masyarakat hidup tenang dan damai serta mendapatkan keridhaan dan keberkahan dari Allah SWT. Bukankah ini sesuai dengan doa yang selalu kita panjatkan? “Robbana aatinaa fiidduniyaa Hasanah wafil akhiroti Hasanah waqina adzabannar artinya wahai tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa neraka. Aamiin Yaa Robbal Alamiin

Wallahu ‘alam bish-showab

Post a Comment for "Liberalisasi Sex, Racuni Keluarga Muslim"