Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Liberalisasi Seksual : Arus Global Meracuni Muslim

Saat ini dengan arus globalisasi maka sarana yang mudah untuk bisa mengakses perkembangan gaya hidup yang ingin adalah Internet. Ini terjadi terutama pada gebetasi muda. Teknologi ini erat kaitannya dengan remaja. Perkembangan teknologi ini tidak bisa dihindari. Namun internet ini membawa dampak sosial masyarakat. Dengan perkembangan ini orang dengan mudah menemukan berbagai macam hal yang diinginkan dan dibutuhkan dengan sangat mudah dan cepat. Tapi di sisi lain tanpa disadari ini membawa perubahan pada individu dalam masyarakat. Terutama dalam gaya hidup.

Oleh: Melani

Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, mengatakan bahwa Hungaria tidak lagi punya tempat di Uni Eropa karena meloloskan rancangan undang-undang yang melarang konten isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di sekolah. "Bagi saya, Hungaria tidak lagi punya tempat di Uni Eropa," kata Rutte kepada wartawan sebelum menghadiri pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa pada Kamis (24/6).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Uni Eropa telah memberikan dukungan kepada kaum LGBTQ. Meski sebelumnya pernah terjadi penganiyaan terhadap kaum lebian dan gay dari masa kekaisaran Romawi hingga abad 20. Namun saat ini kaum tersebut lebih di terima di Eropa. Bahkan lima dari tujuh yang telah melegalisir pernikahan sejenis terletak di Eropa. Ini secara tidak langsung telah mengesahkan Eropa sebagai negara zona terbuka bagi kaum LBGTIQ. Bukan hanya di Eropa, bahkan negara Amerika sejak tahun 2015 telah melegalkan perkawinan sejenis. Mereka akan mendapatkan hak yang sama dengan pasangan hiterogen, seperti mendapat surat kelahiran dan kematian.

Eropa dan Amerika adalah negara-negara yang menerapkan sistem Kapitalis liberal. Pergaulan bebas telah marak di negara tersebut bahkan tanpa ada batasan tertentu. Apalagi Amerika merupakan negara yang dijadikan ikon kebebasan. Di negara tersebut kebebasan sangat diagungkan. Hingga keberadaanya dilindungi dalam bentuk Undang - Undang. Kebebasan ini pada akhirnya akan memberikan inspirasi dan motivasi bagi negara lain.

Saat ini dengan arus globalisasi maka sarana yang mudah untuk bisa mengakses perkembangan gaya hidup yang ingin adalah Internet. Ini terjadi terutama pada gebetasi muda. Teknologi ini erat kaitannya dengan remaja. Perkembangan teknologi ini tidak bisa dihindari. Namun internet ini membawa dampak sosial masyarakat. Dengan perkembangan ini orang dengan mudah menemukan berbagai macam hal yang diinginkan dan dibutuhkan dengan sangat mudah dan cepat. Tapi di sisi lain tanpa disadari ini membawa perubahan pada individu dalam masyarakat. Terutama dalam gaya hidup.

Internet memang dapat digunakan untuk hal positif. Akan tetapi jika dipergunakan untuk hal negatif, internet akan menjadi sarana penyebab dari munculnya perlakuan pergaulan bebas. Remaja berpotensi terbawa arus bebas karena mereka berada dalam masa pencarian jati diri. Pada akhirnya banyak remaja yang terjerumus pada pergaulan bebas. Penyebab terjadinya pergaulan bebas ini adalah dikarenakan minimnya bekal ketrampilan dalam memilih teman sehingga pada akhirnya mereka mengikuti gaya hidup barat (hedonis). Selain itu juga rendahnya pengatahuan tentang agama. Kurang perhatian dari orang tua dikarenakan kedua orang tua bekerja. Ini semua pada akhirnya membawa anak pada pergaulan bebas.

Dari data yang ada Gerakan LGBTIQ sudah menjajah hampir di seluruh Indonesia. Data Kementerian Kesehatan pada 2012 menunjukkan bahwa terdapat 1.095.970 Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay yang tersebar di semua daerah. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah LSL terbanyak. Sebanyak 300.198 orang yang terindikasi merupakan gay. Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.895 orang merupakan penderita HIV/AIDS. Tidak hanya di Jawa Barat, Jawa Tengah juga memiliki penderita gay dengan jumlah 218.227. Dari jumlah tersebut sebanyak 11.951 orang terindikasi merupakan penderita HIV/AIDS. Di ibu kota ,sebanyak 27.706 warga ibu kota, merupakan gay. Dari puluhan ribu gay di ibu kota, sebanyak 5.550 orang diduga menderita HIV/AIDS (Republika 23 Jan.2016)

Tidak hanya di pulau Jawa. Di luar Jawa Sumatra Barat merupakan penyumbang terbanyak mencapai angka 18000 orang, angka tersebut didapat dari data hasil tim konselor penelitian dan pengembangan penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuni Deficiency Syndrome (AIDS). Bahkan gerakan LGBT ini sudah masuk ke dalam kampus, masuk melalui konselor yang isinya menyebarkan perlakuan menyimpang ini. Salah satu lembaga yang menyuarakan LGBT ini adalah lembaga konseling Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) di Universitas Indonesia (UI). Ini membuat kalangan itu kembali eksis di kampus. Aktifnya SGRC pun mengundang pertanyaan mengingat pendiri SGRC juga berasal dari kalangan LGBT (TribuneNews.com 6/12/2019).

Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender. Namun yang juga mengkhawatirkan adalah lewat akun Twitter ditemukan komunitas gay yang terang-terangan berkata-kata mesum dan jorok untuk menarik perhatian kaum sesama lain. Akun ini mengatasnamakan gay SD SMP. Akun tersebut memiliki pengikut 980 akun. Bahkan untuk akun lain yang mengatasnamakan SMP Bekasi memiliki 17 ribu pengikut. Angka yang cukup tinggi dan mengkwatirkan.

Menyikapi persoalan ini badan dunia Who kemudian menganjurkan pendidikan sex di usia dini di sekolah. Juga mengajarkan cara penanggulan kekerasan di kalangan remaja dan rehabilitasi bagi pecandu narkoba.

Namun sejatinya pangkal pemasalahan yang terjadi saat ini adalah pemikiran sekuler liberal. Negri ini sudah menerapkan ide kebebasan bertingkah laku. Demokrasi telah dijadikan asas kebebasan ini. Akan tetapi sesungguhnya hal tersebut justru menjatuhkan tingkat martabat manusia yang lebih rendah dari binatang. Ini sebagai mana firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 43-44 yang artinya:

"Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?"

"Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya."

Kedua ayat tersebut menjelaskan melalui bentuk pertanyaan dari Allah SWT untuk menunjukkan dan meyakinkan nabi Muhammad akan kaum musyrikin yang menjadikan hawa nafsu sebagai Ilah (sesuatu yang diikuti dan dituruti).

Selanjutnya pada ayat 44 Allah SWT lebih tegas lagi menyatakan bahwa orang-orang yang demikian itu orang yang tidak mau mendengar (ajakan tauhid) kemudian memahaminya sebagai kebenaran. Mata, telinga dan hati mereka telah terkunci dari menerima dakwah Islam. Orang yang seperti ini seperti binatang ,bahkan lebih rendah darinya.

Namun meskipun negri ini mayoritas berpenduduk muslim, akan tetapi sudah semakin jauh dari Islam. Bahkan negeri ini sudah tidak lagi menerapkan norma agama. Kaum muslimin tidak malu untuk melanggar perintah Allah SWT yaitu dengan melakukan seks bebas dan hal-hal yang mengarahkan kepada pergaulan bebas. Bahkan kaum muslimin semakin terjerumus pada maksiat kepada Allah SWT. Ini disebabkan negeri ini telah mengganti hukum Allah SWT dengan aturan demokrasi liberal. Dalam masyarakat demokrasi pergaulan bebas adalah sah. Ini karena telah di sahkan dalam undang undang ditetapkan oleh negara. Bahkan di negara lain perkawinan sejenis telah dilegalkan. Mereka kaum pelaku LGBTIQ tidak henti-henti nya menyuarakan hak-hak mereka untuk disahkan sebagaimana perkawinan laki laki dan perempuan. Mereka bahkan masuk dari berbagai lini.

Begitulah nilai-nilai demokrasi liberal telah dipaksakan untuk diterapkan di negri ini. Padahal sudah jelas nilai telah diharamkan oleh Allah SWT. Islam jelas telah mengatur hubungan laki dan perempuan. Islam juga melarang perzinaan karena zina akan merusak nasab. Begitu juga ada sanksi untuk pelaku LGBTIQ. Juga ada aturan yang mendorong manusia untuk menjauh dari perbuatan zina. Namun semua itu tidak akan bisa diterapkan tanpa sebuah sistem yang menerapkan aturan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Post a Comment for "Liberalisasi Seksual : Arus Global Meracuni Muslim"