Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Isoman Ala Kapitalisme Berujung Kematian

Sudah dua tahun lamanya kita hidup dalam masa pandemi, semakin hari kian meroket saja kasus Covid-19 di Indonesia. Hingga kini Kebijakan yang di ambil oleh penguasa Negeri kapitalis belum bisa mengatasi wabah tersebut. Berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah terapkan, namun tidak pernah memberikan solusi tuntas untuk masyarakat. Dari PSBB hingga sekarang PPKM darurat. Namun angka kematian pasien tetap saja tinggi, mengakibatkan seluruh rumah sakit penuh dengan pasien Covid-19, pada akhirnya pasien bergejala ringan hanya di isoman di rumah saja

Oleh ; Ross A.R (Aktivis dakwah Medan Johor)

Sudah dua tahun lamanya kita hidup dalam masa pandemi, semakin hari kian meroket saja kasus Covid-19 di Indonesia. Hingga kini Kebijakan yang di ambil oleh penguasa Negeri kapitalis belum bisa mengatasi wabah tersebut. Berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah terapkan, namun tidak pernah memberikan solusi tuntas untuk masyarakat. Dari PSBB hingga sekarang PPKM darurat. Namun angka kematian pasien tetap saja tinggi, mengakibatkan seluruh rumah sakit penuh dengan pasien Covid-19, pada akhirnya pasien bergejala ringan hanya di isoman di rumah saja.

Seperti yang dilansir oleh CNNIndonesia.com Kasus positif virus corona (Covid-19) bertambah 49.071 pada hari ini, Jumat (23/7). Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 di Indonesia sejak Maret 2020 mencapai 3.082.410.

Untuk kasus aktif atau pasien yang masih dalam perawatan dan isolasi mandiri hingga hari ini mencapai 569.901 orang atau bertambah 8.517.

Dibalik fenomena banyaknya pasien Covid-19 isolasi mandiri di beberapa wilayah yang meninggal dunia, kemungkinan sebagian pasien memiliki pneumonia namun tidak diperiksa oleh tim medis. Berdasarkan data LaporCovid-19 tercatat setidaknya ada 712 pasien isoman yang meninggal dunia di seluruh Indonesia.

Pendataan dilakukan sejak awal Juni, tetapi penambahan korban mayoritas terjadi pada bulan Juli.

Pasien isolasi mandiri paling banyak meninggal di Jawa Barat, yaitu 248 orang, Daerah Istimewa Yogyakarta 134 orang, Jawa Tengah 114 orang, Jawa Timur 72 orang, Banten 68 orang, dan DKI Jakarta 53 orang, sisanya di luar Jawa.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban menyebutkan kemungkinan ini terjadi karena rumah sakit yang sedang penuh oleh pasien dengan gejala berat. Dan untuk gejala ringan di isoman Kompas.com ( 25/7/2021 )

Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh penguasa kapitalis tidak ada yang bisa mengurai masalah pandemi, tidak bisa menyentuh akar masalah sama sekali, justru memberikan masalah di atas masalah. Lagi-lagi rakyat semakin dibuat tidak berdaya oleh kebijakan yang ada saat ini, edukasi dan program 3T yang digaungkan pun tidak berjalan dengan baik, jangankan untuk 3T, untuk melakukan test bagi warga yang bergejala saja masih harus melewati tahapan birokrasi yang sulit.

Demikian juga dengan ketersediaan obat-obatan dan oksigen bagi rakyat yang isoman, menjadi barang langka di saat terjadi PPKM Darurat. Sehingga banyak ditemukan kasus meninggal ketika rakyat melakukan isoman. Belum lagi mereka yang mencari nafkah harus dikejar-kejar oleh petugas yang sedang patroli ketika terjadi PPKM Darurat, serta sanksi-sanksi yang di terima oleh masyarakat yang melanggar, padahal mereka hanya sekedar mencari makan di tengah bahaya yang mengintai mereka. Karena kebutuhan mereka tidak dijamin oleh negara, lantas memaksa masyarakat untuk tetap keluar rumah demi memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Ironisnya melihat pandemi yang tidak terkendali, namun kebijakan yang diterapkan selalu saja ada ketimpangan. Inilah konsekuensi dari sebuah sistem kapitalis sekuler yang jauh dari pengaturan syariat Islam.

Berbagai kebijakan-kebijakan yang diterapkan selalu saja menimbulkan masalah, dari PSBB hingga PPKM Darurat tidak bisa mengurai masalah yang ada, justru semakin menambah beban derita bagi rakyat kecil, yang sakit semakin sulit, pun demikian yang sehat semakin terpuruk karena ekonomi yang menghimpit. Namun, justru PPKM Darurat ini diperpanjang, dengan alasan agar ekonomi bisa tetap berjalan. Kenyataannya justru ekonomi bukanlah cara untuk mengatasi pandemi, sebanyak apapun dana yang dicanangkan tetap saja ekonomi akan kolaps. Semua itu akibat diterapkannya ekonomi berbasis kapitalis sekuler, yang segala sesuatunya diukur dari keuntungan materi yang didapat.

Hal ini akan berbeda dengan sistem Islam dalam mengatasi dan memberikan solusi terbaik dalam mengatasi pandemi, baik secara individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Karena pada hakekatnya rakyat tidak butuh perubahan istilah baru maupun perpanjangan kebijakan. Penanganan pandemi yang tidak relevan. Rakyat butuh ada kebijakan tegas untuk lockdown dan ada jaminan pemenuhan kebutuhan pokoknya.

Dalam Islam kesehatan adalah kebutuhan dasar publik yang mutlak menjadi tanggung jawab Negara. Dan Negara wajib menyediakan segala kebutuhan rakyatnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik dari Negara. Pelayanan kesehatan yang terbaik ini tentunya akan diberikan oleh Negara. Anggaran Negara yang kokoh karena sistem ekonomi dan keuangan Islam sebagai penopangnya.

Hanya dengan sistem Islam yang mampu memberikan solusi tuntas untuk seluruh problematika umat, termasuk dalam mengatasi wabah dan menanganinya.

Solusi atasi pandemi serta buruknya ekonomi harus kembali kepada aturan Allah SWT, yaitu aturan Islam. Menjaga kesehatan rakyatnya disaat terjadi pandemi dengan meningkatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Dengan ditopang oleh kestabilan sistem ekonomi Islam. Lalu memberlakukan lockdown syar'i untuk mengatasi pandemi, menjamin kebutuhan rakyat yang terdampak, serta senantiasa berserah kepada Allah, memohon pertolongan agar bisa keluar dari pandemi.

Post a Comment for "Isoman Ala Kapitalisme Berujung Kematian"