Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DOA BERSAMA, MAMPUKAH HENTIKAN WABAH?

Pada hari pertama pemberlakuan PPKM Darurat tepatnya tanggal 3 Juli 2021 Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada Kepala Desa, Pendamping Desa dan warga Desa untuk menggelar doa bersama. Dalam surat resminya, Beliau menyampaikan agar melakukan doa bersama keluarga di rumah masing-masing

Oleh : Deti Murni (Pegiat Opini)

Pada hari pertama pemberlakuan PPKM Darurat tepatnya tanggal 3 Juli 2021 Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengirimkan surat resmi kepada Kepala Desa, Pendamping Desa dan warga Desa untuk menggelar doa bersama. Dalam surat resminya, Beliau menyampaikan agar melakukan doa bersama keluarga di rumah masing-masing.

Tak puas dengan penyampaian secara resmi pada tanggal 4 Juli 2021 beliau juga menyampaikan melalui cuitan di akun Twitter @halimiskandarnu. Beliau menyampaikan pada hari kedua pemberlakuan PPKM Darurat beliau menghimbau warga desa tetap di rumah, mohon ditahan dulu segala bentuk aktifitas di luar rumah kecuali ada keperluan yang sangat mendesak.

Beliau juga menyampaikan pesan untuk tetap waspada jaga kesehatan, patuhi protocol kesehatan, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, selalu pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, kurangi mobilitas dan jangan lupa selalu memanjatkan doa.

Setali tiga uang apa yang disampaikan Mendes, dipertegas kembali oleh Bapak Joko Widodo dalam sambutannya pada acara doa bersama bertajuk #PrayFromHome, Bapak Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat Indonesia menundukan kepala, memanjatkan doa bersama kepada Allah SWT adar pandemic Covid-19 segera berakhir.

Skenario doa bersama yang dihimbau Mendes dan Presiden apakah mampu menghentikan wabah?

Apabila melihat dari data terakhir sebaran Covid-19 per Kamis tanggal 15 Juli 2021 kasus baru Covid-19 di Indonesia 56.757 kasus. Dari hari kehari tren selalu naik. Bisa dikatakan himbauan tersebut tidak berdampak signifikan dengan berkurangnya kasus covid-19 justru sebaliknya kasus nyaris tak terkendali.

Timbul lagi pertanyaan; Apakah doa kita yang salah? Apakah doa kita yang tidak sungguh-sungguh? Ataukah dosa kita sebagai mahluk ini yang menyebabkan doa tak berjawab. Ada baiknya himbauan ini bukan saja ditujukan kepada masayarakat khususnya masyarakat pedesaan yang dalam kehidupan kesehariannya sangat bersahaja. Mengapa doa bersama ini tidak ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali, dari pemimpin negeri sampai rakyat jelata.

Ada baiknya negeri ini muhassabah total yaitu seruan taubatan nashuha; mohon ampun atas apa yang telah diperbuat sehingga doa tak lagi berjawab. Tidakkah kita menyadari sang pencipta murka atas maksiat yang kita lakukan dengan sangat jumawa menabrak aturan dari sang Pencipta.

Bagaimana hakikat doa dalam Islam?

 Doa tidak dapat mengubah ilmu Allah

 Doa tidak dapat mengubah Qodha Allah

 Doa tidak dapat mengubah Qodar Allah

 Doa tidak dapat mengubah hukum sebab musabab

Oleh karena itu dalam Islam doa tidak boleh dijadikan jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah.

Dalam Islam kedudukan doa adalah paling utama. Tapi tak cukup hanya doa tanpa usaha, apatah artinya doa kalau kita tidak melakukan usaha yang maksimal. Setelah usaha yang maksimal apabila hal tersebut masih terjadi maka disinilah seorang muslim harus pasrah menerima ketentuan/qodha Allah SWT.

Dalam Islam kita juga harus berpegang pada hukum sebab musabab, tidak akan mungkin suatu permasalahan terjadi tanpa hukum sebab musabab. Bisa kita contohkan dalam kasus pandemic ini, tidak mungkin wabah ini kian mengganas apabila penyebab wabah segera diatasi. Tetapi hal ini tidak dilakukan sehingga wabah tidak terkendali.

Rasullah SAW, bersabda;

“Apabila kalian mendengar di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya”. (HR Muslim)

Dalam Islam dalam menghadapi suatu masalah bisa melakukan dua solusi yaitu pertama Prepentif dan kedua kuratif.

Solusi prepentif dilakukan di awal pandemic dengan melakukan lockdown atau karantina wilayah atas daerah yang suspect pandemi. Sedangkan solusi kuratif adalah memisahkan antara orang yang sakit dengan orang yang sehat maka hal yang buruk bisa cepat diatasi.

Apabila solusi Islam dilaksanakan di awal pandemic maka pandemic ini tidak akan berlarut-larut. Sehingga mengorbankan ribuan bahkan jutaan nyawa.

Solusi dari semua permasalahan kehidupan di dunia ini adalah kembali kepada aturan dari pemilik kehidupan yaitu Allah Azza Wajallah. Sehingga kehidupan rahmatan lil ‘alamin akan terwujud, doa-doa akan terkabul karena manusia patuh, tunduk dan taat dengan aturan dan perintah Allah SWT. Wallahu’alam Bish-shawwaf

Sumber:

https://news.detik.com/berita/d-5629856/mendes-imbau-masyarakat-doa-bersama-di-rumah-agar-ri-bebas-covid-19

https://news.detik.com/beritad-5630879/covid-19-melonjak-mendes-minta-warga-desa-doa-bersama-keluarga

https://m.antaranew.com/berita/2260766/agar-pandemi-segera-berakhir-presiden-ajak-masyarakat-berdoa-bersama

Post a Comment for "DOA BERSAMA, MAMPUKAH HENTIKAN WABAH?"