Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sertifikasi Wawasan Kebangsaan Bagi Da'i, Untuk Siapa?

Menteri Agama akan mengeluarkan kebijakan untuk melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da'i. Sebab, hal tersebut terlihat sebagai upaya dalam menyetir materi dakwah para da'i terhadap masyarakat. Pembungkaman kebenaran ajaran Islam yang berasal dari Allah Swt seolah sengaja diperkuat dengan adanya TWK ini. Mereka berupaya untuk diotak-atik syariat Islam mana yang boleh dan mana yang tidak, sebelum disampaikan kepada masyarakat.
Oleh Betiya

Melansir dari Republika.co.id, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR menyebut akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i dan penceramah. Sertifikasi ini dilakukan dalam rangka penguatan moderasi beragama. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Dr Amirsyah Tambunan menolak rencana tersebut. Karena, menurut Amirsyah, sertifikasi ini tidak jelas manfaat yang diterima oleh penceramah dan da’i yang akan disertifikasi. Ia mengungkapkan, selama ini para da’i dan penceramah yang berasal dari NU, Muhammadiyah, dan Al Wasliyah sudah memperoleh wawasan kebangsaan yang dilaksanakan MUI dengan da’i bersertifikat dalam program penguatan kompetensi da’i, termasuk wawasan kebangsaan (4/6/2021).

Sertifikasi Da'i Untuk Siapa?

Sangat aneh memang ketika Menteri Agama akan mengeluarkan kebijakan untuk melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da'i. Sebab, hal tersebut terlihat sebagai upaya dalam menyetir materi dakwah para da'i terhadap masyarakat. Pembungkaman kebenaran ajaran Islam yang berasal dari Allah Swt seolah sengaja diperkuat dengan adanya TWK ini. Mereka berupaya untuk diotak-atik syariat Islam mana yang boleh dan mana yang tidak, sebelum disampaikan kepada masyarakat.

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah dalam sabdanya, “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama su’; mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa masa mereka untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu” (HR Al-Hakim).

Mereka merasa ketika tidak segera mengeluarkan kebijakan untuk para da'i, maka akan mengancam kekuasaan mereka. Sebut saja yang dilakukan Kemenag di tengah riuh isu kerugian BUMN dan korupsi yang menggila. Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR menyebut akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para da’i dan penceramah. Sertifikasi ini dilakukan dalam rangka penguatan moderasi beragama.

Bagi manusia yang senantiasa ingkar terhadap kebenaran, hati dan pikirannya condong kepada kesesatan, maka tidak akan ada kebaikan yang dia lihat dan dia dengar dari Islam, melainkan semua itu hanya membawa ketakutan dan kekhawatiran terhadap dunia. Setiap pembawa kebenaran akan selalu menjadi musuhnya, meskipun akalnya jelas melihat kebenaran itu.

Ulama Yang Lurus

“Ulama adalah kepercayaan para rasul selama mereka tidak bergaul dengan penguasa dan tidak asyik dengan dunia. Jika mereka bergaul dengan penguasa dan asyik dengan dunia, maka mereka telah mengkhianati para rasul. Karena itu, jauhilah mereka” (HR Al-Hakim).

Dari hadits di atas, sangat jelas peringatan yang disampaikan Rasulullah kepada para ulama. Jika ulama bergaul dengan penguasa dan sering mendatanginya, maka dia menjadi penikmat dunia dan telah mengkhianati para Rasul. Berbeda halnya dengan ulama yang datang untuk beramar makruf nahi mungkar dan mengoreksi penguasa, maka dia akan menjadi kepercayaan para Rasul.

Maka, Seorang da’i haruslah orang yang terpercaya, jauh dari sifat khianat, mencintai kebenaran, tegas menghadapi kemungkaran, lemah lembut terhadap para penuntut ilmu, memiliki sifat kasih sayang pada umat, takut hanya kepada Allah, terdepan dalam beramal saleh dan menghindari perkara yang sia-sia dan senda-gurau.

Selain itu, para ulama juga tidak boleh takut terhadap celaan orang-orang yang suka menyela dan tetap berdiri teguh berjalan menuju tegaknya kehidupan Islam kembali dengan menegakkan syariat dan Khilafah yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak akan menjual agama demi remah-remah dunia yang fana (sementara). Kebahagiaannya hanyalah ketika bisa meraih keridaan Allah Swt.

Demikian pula, seorang dai tidak boleh menyerukan seruan-seruan jahiliah seperti nasionalisme, demokrasi, pluralisme, feminisme, liberalisme, komunisme, ateisme, dan semua isme yang ada. Justru mereka menjaga umat dari segala pemikiran, hukum dan pendapat yang batil. Semua demi meraih satu gelar yaitu wali (kekasih) Allah. Wallahu a’lam bish showwab.

Post a Comment for "Sertifikasi Wawasan Kebangsaan Bagi Da'i, Untuk Siapa?"