Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ritel Gulung Tikar,Siapa yang bertanggungjawab?

Sektor bisnis ritel menjadi salah satu sektor yang terkena dampak covid-19. Selain permintaan pasar yang menurun, tantangan juga datang komponen-komponen biaya pengeluaran tetap alias fixed cost yang mesti dibayarkan pengusaha. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani mengatakan, fenomena-fenomena seperti pemotongan gaji hingga perumahan karyawan yang dijumpai pada sektor swasta berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat.

Oleh:Esnaini Sholikhah,S.Pd

Sektor bisnis ritel menjadi salah satu sektor yang terkena dampak covid-19. Selain permintaan pasar yang menurun, tantangan juga datang komponen-komponen biaya pengeluaran tetap alias fixed cost yang mesti dibayarkan pengusaha. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani mengatakan, fenomena-fenomena seperti pemotongan gaji hingga perumahan karyawan yang dijumpai pada sektor swasta berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat.

Ketua (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia/Aprindo) menyatakan prihatin dan berduka terhadap anggota Aprindo (Hero Supermarket) yang harus menutup gerai Giant-nya, karena kondisi terdampak pandemi covid-19 juga penyebab mobilitas berkurang, seperti adanya PSBB dan PPKM dan rendahnya daya beli. Pandemi COVID-19 yang terjadi menambah tekanan terhadap hypermarket. Hal ini seiring ada pembatasan kegiatan aktivitas. Di sisi lain, Wawan menilai ada perubahan tren di masyarakat menyusul tumbuhnya minimarket lebih dekat dengan perumahan masyarakat."Masyarakat kini lebih suka datang ke minimarket. Alfamart melalui Sumber Alfaria dan Indomaret lewat Indoritel Makmur Internasional atau DNET sehingga bisa bertahan saat pandemi COVID-19,”kata Wawan saat dihubungi Liputan6.com,(5/6/2021).

Pelaku ekonomi yang tidak siap menghadapi perubahan bukan tidak mungkin akan terancam gulung tikar karena tidak mampu bertahan ditengah situasi yang serba sulit seperti sekarang ini. Pandemi virus corona covid-19 menjadi momok yang sangat menakutkan bagi dunia. Saat ini, ratusan ribu nyawa telah hilang karenanya. Kegiatan ekonomi juga ikut hancur karena pembatasan wilayah di mana-mana. Terlebih di negara-negara yang berperekonomian kapitalistik, sangat terasa dampaknya. Perusahaan tidak bisa bergerak karena pembatasan kegiatan yang tidak memungkinkan pekerjanya untuk keluar rumah dan menghabiskan upah.


Oleh karena itu, muncul anggapan bahwa pandemi virus corona ini merupakan tanda dari akhir ekonomi kapitalis. Covid-19 ini dianggap sebagai mimpi buruk bagi kapitalisme dan menyebabkan dampak yang lebih kompleks pada sistem ekonomi.

Dampak tersebut terlihat dari kegiatan negara-negara besar dalam merespons pandemi ini. Seperti penutupan kegiatan di sebagian besar Cina, India, sebagian besar Eropa dan banyak negara di Amerika. Kemudian kerusakan signifikan terhadap reputasi pemerintah dan elit politik yang menolak keseriusan wabah ini. Atau terbukti tidak mampu memobilisasi sistem perawatan kesehatan sebagai bentuk penanggulangan krisis.

Terpuruknya sektor ritel utamanya dipengaruhi oleh krisis global yang juga berimbas seluruh negara di dunia , termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat masyarakat menurunkan konsumsi ke produk yang lebih murah dan cenderung mengurangi konsumsinya. Termasuk di dalamnya fast moving consumer goods (FMCG) yang disodorkan toko ritel ikut mengalami penurunan. Ketakstabilan ekonomi dalam negeri yang ditandai dengan defisit neraca perdagangan, kebijakan impor yang mematikan produsen lokal, serta inflasi yang menyebabkan melemahnya mata uang rupiah yang menyebabkan harga barang dan jasa cenderung meningkat. Jika harga barang/jasa tinggi, tentu akan menurunkan daya beli masyarakat.
Selain itu, pendapatan masyarakat yang makin berkurang pun akan menurunkan daya beli. Apalagi ditambah angka pengangguran yang tinggi, tentu menyebabkan daya beli masyarakat makin turun drastis lantaran masyarakat tak memiliki uang untuk membeli barang yang harganya tinggi. Inilah yang menyebabkan toko ritel besar tak memiliki pembeli.

Oleh karena itu, fenomena tutupnya toko ritel bukan disebabkan karena pandemi yang mengubah perilaku belanja dari offline menuju online. Melainkan karena krisis global yang menghantam seluruh negara. Adapun pandemi hanyalah sebagai pemicu makin terjerembabnya krisis ekonomi yang berujung pada krisis multidimensi.

Hanya Islam solusi riil problem kehidupan
Andai saja sistem kehidupan diatur oleh Islam, penanggulangan wabah tak akan berlama-lama. Sebab, satu nyawa saja bagi kaum muslim, harganya setara dengan seluruh dunia dan isinya. Misi menyelesaikan pandemi akan didorong dengan spirit menyelamatkan umat manusia, bukan sekadar menyelamatkan ekonomi dunia.

Andai dunia mau tunduk pada aturan Islam, pandemi dan juga krisis global—atas izin Allah Swt.akan cepat berakhir. Oleh karena itu, wahai kaum muslim, sungguh dunia membutuhkan Islam dalam mengatasi kekacauan yang dibuat oleh sistem busuk kapitalisme. Dunia membutuhkan Islam agar umat manusia kembali menghirup udara sejuk yang menyegarkan jiwa raganya.
Maka dari itu, perjuangan mewujudkan kehidupan Islam dalam bingkai daulah Khilafah Islamiah adalah perkara yang mendesak untuk dilakukan.

Post a Comment for "Ritel Gulung Tikar,Siapa yang bertanggungjawab?"