Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Palestina, Gencatan Senjata, dan Urgensitas Penegakkan Khilafah

Kesepakatan gencatan senjata Israel-Palestina terjadi setelah Israel membombardir Jalur Gaza selama 11 hari. Selama itu pula serangan udara dan tembakan artileri Israel menewaskan 254 warga Palestina, termasuk 66 anak dan beberapa prajurit. Sementara itu roket dan tembakan-tembakan lain dari Gaza merenggut 12 nyawa di Israel, termasuk seorang anak, satu remaja Arab-Israel, dan satu tentara Israel, menurut petugas media

Oleh: Wity

Lagi-lagi gencatan senjata diusulkan sebagai solusi mengatasi masalah Palestina. Dengan dimediasi oleh Mesir, gencatan senjata Israel-Palestina mulai berlaku pada Jumat (21/05/2021) pukul 02.00 waktu setempat. (cnbcindonesia.com, 22/05/2021)

Negeri-negeri Muslim pun menyambut baik deklarasi tersebut. Sudan melalui Kementerian Luar Negerinya mengapresiasi upaya Mesir, regional, dan internasional untuk mencapai kesepakatan tersebut. (kumparan.com, 22/05/2021)

Uni Emirat Arab pun siap memfasilitasi upaya perdamaian antara Israel dan Palestina, seusai keduanya sepakati gencatan senjata. Sementara Organisasi Kerja sama Islam (OKI) menyatakan bahwa untuk mencapai perdamaian abadi harus dengan dialog, solusi dua negara, dan resolusi PBB (aceh.tribunnews.com, 23/05/2021).

Gencatan Senjata Bukti Lemahnya Pembelaan Pemimpin Dunia Islam

Kesepakatan gencatan senjata Israel-Palestina terjadi setelah Israel membombardir Jalur Gaza selama 11 hari. Selama itu pula serangan udara dan tembakan artileri Israel menewaskan 254 warga Palestina, termasuk 66 anak dan beberapa prajurit. Sementara itu roket dan tembakan-tembakan lain dari Gaza merenggut 12 nyawa di Israel, termasuk seorang anak, satu remaja Arab-Israel, dan satu tentara Israel, menurut petugas media. (kompas.com, 28/05/2021)

Lantas apakah gencatan senjata ini akan mengakhiri penderitaan Palestina? Omong kosong. Watak Yahudi yang licik dan pendusta tentu tidak bisa dipercaya. Bukankah sudah berulang-kali Israel melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata? Kali ini pun sama. Baru beberapa jam setelah terjadi kesepakatan gencatan senjata, polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat. (cnbcindonesia.com, 22/05/2021)

Pada Selasa (25/05/2021), pasukan Israel membunuh seorang pemuda Palestina dalam penangkapan di dekat kota Ramallah, Tepi Barat. Sehari sebelumnya pasukan Israel menembak mati seorang warga Palestina berusia 17 tahun. (kompas.com, 28/05/2021)

Hal ini menunjukkan betapa rapuhnya gencatan senjata itu. Sekaligus menjadi bukti tidak adanya pembelaan sempurna oleh pemimpin dunia Islam atas saudara Muslim Palestina.

Di sisi lain, usulan gencatan senjata ini sama saja dengan memberi kesempatan pada zionis Israel untuk berlindung dan memulihkan kekuatan di balik istilah gencatan senjata dan perdamaian semu. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Joe Biden yang berjanji akan memasok kembali sistem pertahanan rudal Iron Dome ke Israel setelah mengonfirmasi gencatan senjata tersebut. (kompas.com, 21/05/2021)

Satu Solusi: Kirimkan Militer, Bukan Berdamai

Satu-satunya cara untuk mengakhiri penderitaan Palestina adalah dengan mengirimkan militer, bukan berdamai atau solusi dua negara. Dengan mengirimkan bantuan militer, niscaya kita bisa menghentikan kebiadaban zionis Israel sekaligus mengusir mereka dari tanah Palestina negeri yang diberkahi.

Sudah saatnya umat Islam menyadari betapa besar potensi yang mereka miliki. Bukan hanya jumlah penduduknya yang terbesar di dunia, melainkan kekuatan militer yang patut diperhitungkan. Sebagaimana dilansir dalam repuplika.co.id (09/09/2020), setidaknya ada lima negeri Muslim dengan kemampuan militer mumpuni, yaitu Mesir, Turki, Iran, Pakistan, dan Indonesia.

Mesir dalam skala dunia menempati peringkat ke-9 dari 138 negara. Memiliki total 920 ribu personel militer, dengan rincian personel aktif 440 ribu, personel cadangan 480 ribu.

Kekuatan militer udara Mesir meliputi jet tempur, pesawat militer untuk misi khusus, pesawat serang, helikopter dan helikopter serang serta lainnya. Kekuatan daratnya meliputi tank dan kendaraan lapis baja. Sedangkan kekuatan lautnya meliputi kapal selam dan angkatan laut. Selain itu, kekuatan militer Mesir dari aspek sumber daya alam dan logistik juga besar. Produksi minyak Mesir mencapai 589.400 barel per hari (bph).

Adapun kekuatan militer Turki berada di peringkat ke-11, Iran, Pakistan, dan Indonesia berturut-turut berada di peringkat ke-14, 15, dan 16.

Indonesia tercatat memiliki total 800 ribu personel militer, dengan rincian personel aktif 400 ribu, personel cadangan 400 ribu.

Kekuatan militer udara Indonesia meliputi jet tempur, pesawat militer untuk misi khusus, pesawat serang, helikopter dan helikopter serang serta lainnya. Kekuatan militer darat meliputi tank dan kendaraan lapis baja. Kekuatan militer laut meliputi angkatan laut dan kapal selam. Sementara produksi minyak Indonesia mencapai 801.700 barel per hari (BPH).

Bukankan itu kekuatan yang cukup besar? Belum lagi jika digabungkan dengan kekuatan negeri-negeri Muslim lainnya, maka tak ada alasan bagi pemimpin dunia Islam untuk takut pada Amerika Serikat, apalagi sekadar Israel. Namun, mengapa para pemimpin dunia Islam seolah enggan mengirimkan pasukannya?

Terkungkung Nasionalisme, Tersandera Utang

Sangat disayangkan, potensi militer yang dimiliki dunia Islam tidak dimanfaatkan untuk membebaskan tanah Al-Quds. Ini karena negeri-negeri Muslim telah terkungkung nasionalisme. Nation State telah menutup mata pemimpin negeri-negeri Muslim dari penderitaan saudara Muslim lainnya. Bahkan menganggap urusan Palestina bukan urusan kita.

Tak hanya itu, politik ekonomi kapitalisme pun telah berhasil menyandera dan mengikat tangan-tangan penguasa Muslim. Jeratan utang membuat mereka tidak bisa bergerak bebas.

The Economist mencatat utang Arab Saudi mencapai US$118,37 miliar pada 2020. Utang Uni Emirat Arab mencapai US$174,46 miliar di 2020. Utang Qatar mencapai US$63,03 miliar di 2020.

Sedangkan negara Islam lainnya, yang juga memiliki utang versi data Bank Dunia antara lain, Mesir sebesar US$98,70 miliar di 2018, Iran sebesar US$6,32 miliar, Lebanon US$79,34 miliar, Turki US$445,13 miliar, Tunisia US$34,66 miliar, dan Turkmenistan US$907,33 juta.

Bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada akhir Mei 2020 sebesar US$404,7 miliar. Nilai itu setara Rp5.922 triliun (kurs Rp14.633 per dolar AS) (cnnindonesia.com, 20/07/2020).

Utang-utang yang diberikan kepada negeri-negeri Muslim tersebut tidak hanya membebani mereka dengan bunga yang besar, tapi juga dengan kesepakatan-kesepakatan politik yang berbuntut panjang.

Tegakkan Khilafah, Bebaskan Palestina

Sungguh, gencatan senjata atau perjanjian damai hanyalah solusi semu mengatasi persoalan Israel-Palestina. Hal itu pun hanya akan menjadi pembenaran atas penjajahan Israel.

Umat Islam harus meruntuhkan batas-batas nasionalisme dan menghimpun seluruh wilayah Islam dalam satu kepemimpinan, yakni Khilafah Islamiyah. Saat itulah Khilafah akan menyatukan kekuatan-kekuatan militer yang tersebar di seluruh dunia Islam dan menyerukan jihad untuk melawan dan mengusir Israel dari bumi Palestina.

Sungguh, hal itu tidaklah mustahil. Allah SWT. telah berjanji bahwa Islam akan kembali memimpin dunia, menggantikan kepemimpinan kapitalisme yang rusak. Jika saat itu tiba, bukan hanya Palestina yang dibebaskan, tapi juga Uighur di Cina, Pattani di Thailand, Rohingya di Myanmar, dan seluruh permasalahan kaum muslimin lainnya di dunia dapat diselesaikan.

Wahai kaum Muslimin tidakkah kalian menyadari betapa pentingnya menegakkan Khilafah ini?[]

Post a Comment for "Palestina, Gencatan Senjata, dan Urgensitas Penegakkan Khilafah"