Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

TENGGELAMNYA KRI NANGGALA DAN IRONI ALUTSISTA NEGERI MARITIM

Tenggelamya KRI Nanggala mengingatkan publik bahwa negeri maritim ini tidak serius dalam menangani dan mengantisipasi bidang pertahanan keamanan kelautan. Semestinya Negara Maritim seperti Indonesia memiliki Armada kelautan yang canggih dan pelaut-pelaut yang handal. Karena negeri ini terdiri dari gugusan pulau-pulau. Sudah seharusnya keamanan kelautan menjadi prioritas utama.

Oleh : Deti Murni (Pegiat Opini)

Indonesia kembali berduka, kehilangan pemuda-pemuda terbaik bangsa. Bagaimana tidak! Kapal selam yang membawa 53 manifes prajurit terbaik TNI AL yang menjadi ABK Nanggala dinyatakan gugur. Hampir satu pekan media sosial, media massa maupun media elektronik memberitakan tentang tenggelamnya kapal selam tersebut.

Pengamat Militer, Susaningtyas Kertopati, menyatakan bahwa tenggelamnya Kapal Selam KRI Nanggala 402 merupakan kecelakaan kapal selam pertama di Indonesia. TNI resmi menyatakan KRI Nanggala 402 tenggelam (subsunk) setelah sebelumnya dinyatakan hilang kontak (submiss). Kapal selam TNI AL itu tenggelam di kedalaman 850 meter di perairan Bali utara.

Kapal selam KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam di laut utara Bali. Sejumlah fakta terungkap usai KRI Nanggala-402 dinyatakan masuk fase tenggelam.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengungkapkan rasa kehilangan dan keprihatinan atas kejadian ini. Hadi mengajak semua pihak berdoa agar proses pencarian KRI Nanggala-402 bisa berjalan dengan baik. Beliau menyampaikan kita semua merasa sangat kehilangan dengan kejadian ini. Dan beliau juga ingin menyampaikan bahwa kepada seluruh awak KRI Nanggala dan prajurit yang on board di KRI Nanggala, beliau sebagai Panglima TNI dan atas nama seluruh prajurit dan keluarga besar TNI, menyampaikan rasa prihatin yang mendalam," kata Hadi dalam konferensi pers di Bali, Sabtu (24/4/2021).

Di tengah pencarian KRI Nanggala 402 di perairan Utara Bali, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berbicara soal modernisasi alutsista di tiga matra-TNI AD, TNI AL, TNI AU.

Menteri Pertahanan menyampaikan kita memang perlu meremajakan alutsista, Banyak alutsista kita memang karena keterpaksaan dan karena kita mengutamakan pembangunan kesejahteraan belum modernisasi lebih cepat (Kamis, 22 April 2021).

Co-founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, melihat tragedi tenggelamnya KRI Nanggala bisa menjadi momen peremajaan alutsista nasional.

Khairul Fahmi mengatakan slogan 'kerja kerja kerja' dalam upaya menunjukkan negara hadir melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara, tetap saja tak boleh mengabaikan keselamatan prajurit dan kondisi alutsista itu sendiri. (Tempo, Ahad, 25 April 2021).

Direktur Eksekutif Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi mengingatkan kembali bahwa hilangnya Nanggala adalah "insiden serius ketiga pada armada TNI AL". Kasus ini menurutnya menyingkap kembali permasalahan pengelolaan alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia. Ada 2 KRI lain yang mengalami insiden selain Nanggala. Pertama adalah KRI Rencong-622 buatan Korea Selatan tahun 1979 yang terbakar dan tenggelam di Papua Barat pada September 2018; kemudian KRI Teluk Jakarta-541 buatan Jerman Timur tahun 1979 tenggelam di Jawa Timur pada Juli 2020. Fahmi menyoroti apakah pemeliharaan maupun perawatan alutsista yang memang sudah tua itu memadai atau tidak. "Apakah sudah dibarengi dengan upaya pemeliharaan dan perawatan yang maksimal? Itulah yang harus dievaluasi, termasuk juga menjawab apakah alokasi anggaran sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan tersebut," kata Fahmi kepada reporter Tirto, Kamis. "Anggaran kita belum bisa diandalkan untuk menjawab kebutuhan itu,beliau menambahkan.

Terlalu mahal harga nyawa anggota TNI kita, apalagi negara berkewajiban melindungi seluruh tumpah darah Indonesia. Jangan mereka menjadi korban akibat kelalaian peremajaan alutsista kita justru saat latihan, kata Bapak Sukamta anggota Komisi 1 DPR RI asal dapil DI Yogyakarta itu (Tirto.com, Kamis, 22/04/2021).

Serupa, Wakil Ketua Komisi I Utut Adianto mengatakan kejadian Nanggala kembali menjadi alarm untuk peremajaan alutsista Indonesia. Ia kembali mengajak pemerintah, DPR, dan TNI untuk membahas hal tersebut secara serius.

PERAN NEGARA

Tenggelamya KRI Nanggala mengingatkan publik bahwa negeri maritim ini tidak serius dalam menangani dan mengantisipasi bidang pertahanan keamanan kelautan. Semestinya Negara Maritim seperti Indonesia memiliki Armada kelautan yang canggih dan pelaut-pelaut yang handal. Karena negeri ini terdiri dari gugusan pulau-pulau. Sudah seharusnya keamanan kelautan menjadi prioritas utama.

Tapi sungguh disayangkan ternyata pemerintahan kita menomorduakan masalah keamanan ini. Dengan berbagai alasan sehingga tidak memprioritaskan Alutsista dengan alasan anggaran terbatas.

Apalagi ini bukan kejadian pertama, seharusnya pihak-pihak yang terkait segera berbenah dan membuat langkah-langkah serius. Apalagi ini adalah kerugian yang besar bukan hanya asset yang hilang tapi 53 prajurit terbaik gugur. Seharusnya belajar dari pengalaman, kalau tidak kita harus siap kehilangan pemuda-pemuda terbaik bangsa pada waktu yang akan datang.

Skala prioritas yang tidak tepat yang mengakibatkan kerugian yang besar. Seandainya kita contohkan sebuah rumah kebutuhan pokok adalah utama namun factor keselamatan juga tak kalah utama. Apatah artinya apabila kita kenyang namun keselamatan terancam. Tentu sangat mudah orang berniat jahat kepada kita dalam keadaan lemah.

Apalagi bicara masalah Negara pemerintahan adalah ibarat orang tua bagi rakyat. Tentu saja kesejahteraan rakyat adalah kewajiban Negara memenuhinya sama halnya keamanan rakyat tak kalah penting.

Apabila Kesalahan dalam menentukan prioritas ini terus terjadi, maka dampak yang sangat besar bukan saja harta yang hilang namun korban jiwa pada prajurit terlatih, pihak-pihak musuh akan memandang sebelah mata dan dampak yang amat menyedihkan pada akhirnya kedaulatan Negara terancam. Dan dengan mudahnya negeri ini akan terjajah.

BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG KEJADIAN INI?

Dalam Islam kejadian ini bisa dilihat dari dua sudut padang;

1. Qodarullah

Tragedi tenggelamnya kapal Nanggala 402 adalah bagian dari qodha Allah. Betapa lemahnya kita sebagai insan. Setiap insan telah ditetapkan tengat waktunya tidak akan dimajukan dan dimundurkan barang sedetikpun.

Dengan memahami makna ajal ini maka kita umat Islam harus bersabar menerima ketetapan Allah. Sesuai dengan firman Allah SWT bahwa “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati” (TQS. Al-Anbiya (21):35)

2. Sebab Akibat

Sebagai seorang muslim wajib bersabar dengan ketetapan Allah, tentu saja kita juga harus melihat hukum sebab akibat. Pertanyaannya mengapa tragedi bisa terjadi? Apakah murni faktor alam, ataukah ada campur tangan manusia. Apabila semua telah terkondisi dengan baik keamanan, keselamatan, kesiapan menghadapai masalah telah diupayakan artinya semuanya telah sesuai SOP maka apabila terjadi tragedy setelahnya kita pasrahkan kepada Allah.

PERTAHANAN NEGARA DALAM ISLAM

Islam memiliki konsep untuk mewujudkan sistem pertahanan Negara yang tangguh. Tentu saja untuk membangun system pertahanan yang tangguh harus didukung dengan system ekonomi yang mumpuni.

Dalam Islam, untuk menciptakan pertahanan dan keaman Negara, yang harus menjadi perhatian adalah; Pertama, Sistem ekonomi negara diatur oleh Baitul Mal, sumbernya dari bagian fai’ dan kharaj, bagian kepemilikan umum (minyak, gas, listrik, pertambangan serta kekayaan alam yang menjadi milik umum ); bagian dari sedekah (zakat mal, ternak dll).

Melihat sumber keuangan yang berlimpah tentu tidak sulit untuk pengadaan alutsista, membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk menunjang system pertahanan dan kemaritiman.

Kedua, Sistem keamanan Negara oleh Direktorat peperangan menanggani seluruh urusan yang berkaitan dengan kekuatan bersenjata baik pasukan, persenjataan, peralatan, logistic dan sebagainnya. Juga semua akademi militer, semua misi militer dan segala hal yang menjadi tuntutan baik tsaqafah islamiyah, maupun tsaqofah umum bagi pasukan.

Ketiga, Direktorat Perindustrian menangani seluruh urusan yang berhubungan dengan industry, baik industry berat seperti industry mesin dan peralatan, industry otomotif dan transfortasi, industry bahan baku dan industry elektronika; maupun industry yang ringan. Baik pabrik itu termasuk kepemilikan umum atau pabrik-pabrik yang termasuk kepemilikan individu, tetapi memiliki hubungan dengan industry militer; dan segala jenis industry, semuanya wajib dijalankan berdasarkan politik perang.

Kunci pertahanan Negara adalah ada dalam bidang industry, apabila industry kita masih tergantung dengan Negara lain, apalagi impor senjata ataupun peralatan perang dari Negara lain, apalagi Negara pengekspor tersebut memusuhi islam resiko keamanan Negara dipertaruhkan. Secara logika saja apabila peralatan perang Negara kita impor dari Negara asing tentu saja sisi lemah dari alat perang tersebut telah diketahu kawan maupun lawan. Ini artinya politik ataupun strategi keamanan Negara lemah.

Dalam Islam tidak sulit menciptakan para ilmuan cerdas dibidangnya kita sebut saja Ibnu Sina, kharizmi dan banyak lagi ilmuan cerdas yang terlahir dari peradaban Islam. Karena system Islam adalah system sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari sitem ekonomi, system pendidikan, system pertahanan keamanan, hukum semua diatur dalam Islam.

Tentunya sangat cerdas apabila kita merenung sejenak, banyak musibah di negeri yang kita cintai ini tanpa henti silih berganti. Kenapa kita tidak kembali kepada solusi yang Islam tawarkan.

Wallahu’alam bis-showwab

Sumber:

https://fokus.tempo.co/read/1456183/kri-nanggala-tenggelam-pemerintah-didorong-modernisasi-alutsista

https://tirto.id/kasus-kri-nanggala-peremajaan-alutsista-yang-tak-kunjung-berjalan-gdsE

https://www.wartaekonomi.co.id/read338614/kri-nanggala-402-tenggelam-pengamat-militer-evaluasi-alutsista-penting

Https://www.muslimahnews.com/bit.ly/3vp0seb- tragedi nanggala, Ironi alutsista negeri maritime-Muslimah News

Post a Comment for "TENGGELAMNYA KRI NANGGALA DAN IRONI ALUTSISTA NEGERI MARITIM"