Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sadarlah, Nestapa Gaza Urusan Kita!

Tanggal 21 Mei viral di media sosial "Gaza Menang" usai Israel-Hamas menghentikan gencatan senjata. Kejadian ini disambut baik oleh kaum muslim di dunia. Wajar, lebih dari seratus hari militer Israel terus menggempur Gaza dan kompleks Masjid al-Aqsha. Bahkan di bulan Ramadhan yang notabenenya bulan suci, zionis laknatullah semakin bengis menghalangi kaum muslim untuk beribadah di masjid Al Aqsa. Total korban di pihak warga Palestina mencapai 232 orang, 65 di antaranya anak-anak

Oleh : Annisa Al Maghfirah (Relawan Media)

Tanggal 21 Mei viral di media sosial "Gaza Menang" usai Israel-Hamas menghentikan gencatan senjata. Kejadian ini disambut baik oleh kaum muslim di dunia. Wajar, lebih dari seratus hari militer Israel terus menggempur Gaza dan kompleks Masjid al-Aqsha. Bahkan di bulan Ramadhan yang notabenenya bulan suci, zionis laknatullah semakin bengis menghalangi kaum muslim untuk beribadah di masjid Al Aqsa. Total korban di pihak warga Palestina mencapai 232 orang, 65 di antaranya anak-anak.

Respon Kontradiktif

Di tengah gelombang solidaritas terhadap tanah Palestina muncul suara sumbang yang berkebalikan. Adalah mantan Kepala BIN Hendropriyono. Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais), Soleman B. Ponto, mereka menyatakan bahwa persoalan Palestina bukanlah urusan Indonesia dan Israel bukanlah penjajah. Serta menyatakan bahwa konflik Israel dan Palestina hanyalah perebutan wilayah.

Sejumlah negeri Muslim yang mengutuk Israel, ironinya mereka malah mengakui juga keberadaan negara Israel dan menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama lainnya seperti Mesir, Yordania, UEA, Maroko, Bahrain, Sudan dan Turki. Sangat kontradiktif!

Palestina Harga Mati

Pernyataan bahwa masalah Palestina tidak ada kaitannya dengan urusan agama Islam jelas merupakan dusta. Di Palestina juga terdapat Masjid al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama kaum Muslim dan tempat singgah perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam. Masjid al-Aqsha, memiliki keutamaan seperti Rasulullah sabdakan:

"Sesungguhnya Maimunah, pembantu Nabi saw., pernah berkata, “Wahai Nabi Allah, berilah kami fatwa tentang Baitul Maqdis.” Rasulullah menjawab, “Bumi tempat bertebaran dan tempat berkumpul. Datangilah ia. Lalu shalatlah di dalamnya karena sesungguhnya shalat di dalamnya seperti seribu kali shalat di tempat lain.” (HR Ahmad).

Palestina merupakan bagian dari negeri Syam sebelum dibagi-bagi oleh negara kafir penjajah bersama Suriah, Yordania, dan Libanon. Wilayah-wilayah ini menjadi bagian dari Khilafah Islamiyah melalui penaklukan yang berlangsung sejak zaman khalifah Abu Bakar As-Shiddiq radiyallahu anhu hingga zaman Khalifah Umar bin Khathab.

Khalifah Umar berhasil menaklukan wilayah ini dengan perjanjian damai di daerah Jabiyyah (barat daya Damaskus). Ketika itu, Uskup Agung yang memegang kunci Baitul Maqdis tidak mau membukakan pintu Baitul Maqdis kecuali Umar sendiri yang datang. Perjanjian ini dikenal dengan Ahdah Umariyyah. Karena itu, tanahnya disebut tanah kharaj yang ditetapkan sebagai hak milik seluruh kaum muslim hingga hari kiamat nanti. Meski hak gunanya diserahkan kepada penduduk setempat.

Dengan alasan inilah, haram hukumnya mengakui keberadaan negara Zionis di Palestina. Haram pula mengambil solusi dua negara yang diusulkan PBB, negara-negara Barat hingga pemimpin negeri muslim sebagai boneka Barat. Pembagian tanah Palestina untuk Israel hakikatnya sama dengan mengakui keberadaan negara agresor Zionis di tanah air kaum Muslim.

Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Mesir dicapai antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza pada Jumat (21/05/2021) dini hari, banyak disangka sebagai kemenangan. Hingga "Gaza Menang" menjamur di media sosial. Akan tetapi masih ada ketegangan di Yerusalem Timur di mana polisi Israel menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah salat Jumat (21/05/2021).

Lalu dirilis oleh cnbcIndonesia.com, Kantor berita Aljazeera, Sabtu (22/05/2021), melaporkan bahwa dari pendudukan Yerusalem Timur, ada penyerbuan kompleks Masjid Al-Aqsa oleh polisi Israel sacara tidak terduga. Ini mencerminkan betapa rapuhnya gencatan senjata itu. Bahwasanya genjatan senjata bukan pertanda kemenangan larena Kaum Zionis memanglah tidakboleh dipercayai. Selama ini tanah gencatan senjata hanya sebagai masa rehat sementara Israel tidak menyerang namun perlahan demi perlahan mengambil tanah Palestina.

Masalah penjajahan kaum zionis laknatullah terhadap Palestina harus dihentuikan. Tanah Palestina adalah harga mati bagi kaum muslim. Yang tak hanya dibela saat viralnya kebengisan zionis Israel di media sosial. Ia harus dibela dan dibebaskan dari penjajah sekaligus pencuri yakni zionis Israel.

Jangan Berharap pada National State

Gencatan senjata bukan berarti Palestina merdeka. Tapi masih terjajah, wilayah Gaza masih diblokade. Salah seorang warga Gaza bernama Ramadhan Smama (53 tahun) mengatakan bahwa tidak melihat prestasi (kemenangan) tapi saya berharap akan ada prestasi."

Patut diakui kehebatan Hamas membuat takut pula zionis Israel. Namun akan lebih menakutkan dan membuat lari terkencing-kencing si zionis Israel ketika umat Islam bersatu mengusir mereka (Israel) dalam satu perintah pemimpin negara Islam (khalifah).

Perlu umat Islam sadari bahwa nestapa Palestina telah berlangsung begitu lama dan diamini sekian lama oleh PBB dan negara national state. Selama ideologi kapitalisme beserta nasionalisme dan demokrasi selaku produknya masih mencengkram kaum muslimin maka selama itu pula kemenangan hakiki hanya ilusi.

Jangan berharap kepada pemimpin negeri muslim hasil national state. Sebagaimana perkataan syaikh Issam Amira :

"Andaikan para pemimpin negeri-negeri Islam memerintahkan militernya untuk membebaskan Palestina, maka tidak akan ada permasalahan ini. Sebaliknya mereka berkolaborasi dengan penjajah dan itu yang membuat penjajahan Israel bertahan."

Dan demikian, tugas kita saat ini sembari memberi bantuan berupa donasi uang, berdoa, dan memberi bahan pokok juga diperlukan dakwah untuk menyadarkan umat Islam untuk kembali kepada aturan Allah atau Islam. Bersatu menjadi 1 daulah (negara), 1 bendera dan 1 kepemimpinan bukan malah menjadi seperti buih dilautan juga makanan yang diperebutkan.

Wallahu a'lam bishowwab

Post a Comment for "Sadarlah, Nestapa Gaza Urusan Kita!"