Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

“Palestina Semakin Mencekam, Dunia Bungkam?”

Melihat konflik antara Palestina dan zionis memang seolah tak berkesudahan. Selama hampir 70 tahun lebih, saudara muslim Palestina hidup dalam tekanan penjajah. Setiap detik nya mereka harus berjaga-jaga apabila tiba-tiba kaum zionis menyerang mereka. Namun, sepertinya dunia mulai muak dengan perlakuan zionis terhadap penduduk Palestina. Hingga akhirnya belakangan ini marak dukungan dari beberapa negara atas nama kemanusiaan untuk Palestina. Dukungan ini menyeruak masuk melalui media sosial, hingga beberapa kali trending di beberapa sosial media. Aksi turun ke jalan pun dilakukan di beberapa negara, menunjukkan keberpihakan mereka kepada Palestina.

Doorr..Doorr..Doorr..Doorr..

Lagi-lagi suara peluru terlepas dari senjata para tentara zionis Israel. Jumat, 7 Mei 2021, bertepatan dengan hari ke 25 bulan Ramadhan. Penyerangan tersebut terjadi pada saat jamaah sedang melaksanakan sholat tarawih di Masjidil Aqsa. Mereka bahkan melemparkan granat kejut dan peluru karet kearah jamaah. Hampir seluruh tempat di Masjidil Aqsa dan tempat-tempat strategis lain seperti tempat dimana pintu gerbang masuk Damaskus pun tak luput dari serangan para tentara zionis. Korban terluka pada saat penyerangan tersebut mencapai kurang lebih 230 orang (pikiranrakyat.com, 08/05/2021).

Penyerangan terjadi bermula saat zionis Israel mulai menduduki salah satu tanah milik Palestina di daerah Sheikh Jarrah. Dimana dalam sidang sebelumnya yakni pada tanggal 10 Mei 2021, pengadilan distrik Yerussalem memutuskan bahwa rumah-rumah yang ada di daerah Sheikh Jarrah adalah legal bagi kaum yahudi. Namun, penduduk Palestina yang sudah hidup bertahun-tahun lamanya memberikan bukti bahwa mereka telah memperoleh rumah tersebut dari otoritas Yordania yang pada saat itu menguasai Yerussalem Timur antara tahun 1948 hingga 1967 silam.

Melihat permasalahan yang seolah tak berujung ini, Amerika Serikat (AS) dan Eropa hanya menyerukan kedua negara tersebut untuk menahan diri. Sementara itu Iran dan Turki mengecam keras tindakan yang dilakukan zionis di kawasan Masjidil Aqsa tersebut (cnbcindonesia.com, 09/05/2021).

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pun dalam pertemuan virtual nya, yang digelar pada Ahad, 16 Mei 2021. Melalui menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, berharap supaya Majelis Umum PBB dapat segera menghentikan serangan dan mampu mengupayakan de-eskalasi di wilayah Palestina (Tempo.com, 16/05/2021).

Namun, apakah cukup hanya dengan melakukan kecaman dan mengemukakan beberapa resolusi yang tak kunjung diekseskusi?

Lalu apakah hanya dengan hal tersebut penduduk Palestina dapat kembali menikmati hidup di tanah suci tanpa keresahan dalam hati?

Keberpihakan Negara Adidaya

Melihat konflik antara Palestina dan zionis memang seolah tak berkesudahan. Selama hampir 70 tahun lebih, saudara muslim Palestina hidup dalam tekanan penjajah. Setiap detik nya mereka harus berjaga-jaga apabila tiba-tiba kaum zionis menyerang mereka. Namun, sepertinya dunia mulai muak dengan perlakuan zionis terhadap penduduk Palestina. Hingga akhirnya belakangan ini marak dukungan dari beberapa negara atas nama kemanusiaan untuk Palestina. Dukungan ini menyeruak masuk melalui media sosial, hingga beberapa kali trending di beberapa sosial media. Aksi turun ke jalan pun dilakukan di beberapa negara, menunjukkan keberpihakan mereka kepada Palestina.

Namun, pemimpin dunia seolah bungkam. Pemimpin negara-negara adidaya seperti AS, Inggris, dan yang lainnya seolah bungkam mendengar dan melihat jeritan serta tangisan menuntut hak atas kemanusiaan dari penduduk Palestina. Mereka terlihat netral, namun sejatinya mereka hanya mendukung penjajah laknatullah tersebut. Hal ini terbukti dengan adanya pernyataan resmi dari Presiden AS, Joe Biden, yang mengakui peristiwa yang terjadi di Armenia pada tahun 1915 merupakan peristiwa genosida (Cordova Media, 20/05/2021). Dukungan lain pun diberikan AS dalam bidang persenjataan militer kepada Israel.

Pertanyaannya…

Mengapa Joe Biden mengakui peristiwa di Armenia sebagai genosida, sedangkan seolah membuta dan menuli terhadap penyerangan yang terjadi di Palestina?

Hal yang sama pun terjadi dari beberapa pimpinan negara muslim, mereka banyak mengecam, namun kurang dalam melakukan aksi pembelaan. Palestina sejatinya paling membutuhkan dukungan militer dan politik yang kuat dari beberapa negara muslim. Karena tanpa perlawanan secara militer dan sistem politik yang kuat, maka penjajah zionis tidak akan pernah pergi dari kiblat pertama umat Islam tersebut.

Dalam kekangan sistem buatan barat seperti sekarang ini, umat Islam layaknya buih di lautan. Mereka banyak, namun terombang-ambing tanpa tujuan karena terpecah belah oleh sekatan nasionalisme.

Ada yang beranggapan bahwa konflik di Palestina bukanlah urusan kita, bukanlah masalah agama, namun hanya masalah kedaulatan semata. Inilah buah dari adanya sekatan nasionalisme. Mereka seolah tidak peduli dengan kondisi sesamanya di luar negeri nya. Padahal sejatinya umat Islam berdasarkan sabda Rasulullah SAW adalah ibarat satu tubuh. Apabila salah satu tubuh merasa sakit. Maka, tubuh yang lain pun merasakan sakit pula. Dan sudah selayaknya tubuh tersebut melakukan aksi nyata untuk memulihkan rasa sakit tersebut. Namun, hal ini mustahil terjadi di era sekulerisme seperti sekarang ini.

Meskipun beberapa hari yang lalu sempat tersebar kabar bahwa Israel menyetujui genjatan senjata bersyarat dari Hamas, namun tidak selang 1 hari. Penjajah laknatullah tersebut kembali menyerang penduduk Palestina yang ada di dalam kawasan Masjidil Aqsa. Jelas bahwa penjajah tersebut telah khianat.

Kondisi Umat Islam dalam Peradaban Islam

Kondisi berbeda terjadi pada masa peradaban Islam. Dimana seluruh peraturan kehidupan dijalankan berdasarkan syariat Islam, yang mana wilayah pemerintahan Islam atau wilayah Khilafah pada saat itu, merupakan satu wilayah yang utuh dengan kepemimpinan tunggal. Dan ini terbukti berjalan sukses selama kurang lebih 14 abad lamanya, dalam memimpin 2/3 bagian dunia.

Pada masa khilafah Islamiyah seluruh wilayah kekuasaan Khilafah akan dilindungi dengan sekuat tenaga oleh khalifah. Bahkan, pada masa khalifah Abdul Hamid II, beliau menolak permohonan dari perwakilan yahudi untuk meminta sebidang tanah di Palestina. Beliau mengatakan bahwa yahudi tidak berhak atas tanah Palestina meskipun sejengkal. Karena tanah itu merupakan tanah milik umat Islam. dan jika ia masih hidup, yahudi tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Kecuali ketika beliau sudah wafat.

Dan benar saja, hal itu akhirnya terjadi hingga sekarang ini. Maka, apakah kita tidak ingin memiliki sistem pemerintahan yang mampu menyatukan seluruh umat Islam baik dalam pemikiran, perbuatan dan seluruh aspek kehidupan dalam satu naungan? yakni Khilafah Islamiyyah?

Sudah selayaknya kita turut berjuang untuk mewujudkan tegaknya khilafah Islamiyyah di muka bumi ini. Karena ketika seluruh aturan Islam diterapkan, maka akan membawa rahmat untuk seluruh alam. Dan insyaaAllah saudara-saudara muslim kita di Palestina tidak akan lagi terkekang oleh penjajahan.

Wallahua’lam Bishowab.

Penulis : Dewi Wulansari | Muslimah Pekalongan

Post a Comment for "“Palestina Semakin Mencekam, Dunia Bungkam?”"