Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Palestina Dibela Setengah Hati, Israel Didukung Adidaya

Serangan terhadap Palestina ini sudah tersebar di media massa di berbagai negara. Banyak yang melihat dan mengutuk serangan tersebut. Namun tak ada yang mampu menolong. Tak ada negara yang mau menurunkan militernya secara langsung. Padahal negeri-negeri muslim memiliki kekuatan militer yang memadai untuk menyelamatkan warga di Gaza. Memang betul berbagai kecaman dan resolusi dilakukan oleh pemimpin negeri muslim di negara Arab dan dunia Islam lewat OKI. Tapi hanya menunjukkan pembelaan setengah hati.

Oleh : Tri Melinda

Jalur Gaza kembali memanas. Serangan udara diikuti serangan darat dilancarkan Israel secara bertubi-tubi. Keganasan pasukan Zionis ini telah memakan korban dari kalangan anak-anak dan perempuan serta memberikan imbas yang mendalam.

Total warga Palestina meninggal dalam serangan udara di Jalur Gaza hingga Rabu, 19 Mei 2021, mencapai 221 orang. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat dari total tersebut, 63 korban anak-anak dan 36 lainnya perempuan. Dilansir dari laman Anadolu Agency, serangan udara terbaru Israel juga melukai beberapa warga Palestina. Total korban luka ini menyentuh angka 1.507 (www.medcom.id, 19/05/2021).

Korban yang terus bertambah, bukannya menghentikan serangan malahan PM Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militernya terus menggempur Gaza. Seperti yang dilansir Republika.co.id (19/05/2021) bahwa : "Benjamin Netanyahu menegaskan kepada Joe Biden bahwa Israel bertekad melanjutkan operasi militer ke Gaza. Netanyahu pun berterima kasih kepada Biden karena negaranya terus memberikan dukungan ke Israel."

Serangan terhadap Palestina ini sudah tersebar di media massa di berbagai negara. Banyak yang melihat dan mengutuk serangan tersebut. Namun tak ada yang mampu menolong. Tak ada negara yang mau menurunkan militernya secara langsung. Padahal negeri-negeri muslim memiliki kekuatan militer yang memadai untuk menyelamatkan warga di Gaza. Memang betul berbagai kecaman dan resolusi dilakukan oleh pemimpin negeri muslim di negara Arab dan dunia Islam lewat OKI. Tapi hanya menunjukkan pembelaan setengah hati.

Dilansir dari news.detik.com (16/05/2021), Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menghadiri Extraordinary Open-ended Ministerial Meeting of the OIC Executive Committee yang digelar virtual. Dihadiri 16 menteri dan wakil menteri luar negeri anggota OKI. Pertemuan digelar khusus untuk membahas agresi Israel di wilayah Palestina. Khususnya Al-Quds Al-Shareef atau Yerusalem dan jalur Gaza.

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia mengusulkan tiga langkah kunci untuk menghentikan agresi Israel terhadap Palestina.

Pertama, memastikan adanya persatuan di antara negara anggota OKI dan pemangku kepentingan di Palestina. Tanpa persatuan, OKI tak akan mampu menjadi penggerak bagi dukungan internasional untuk Palestina. Di saat yang sama, bangsa Palestina hanya bisa mencapai cita-citanya untuk merdeka apabila mereka bersatu.

Kedua, OKI harus mengupayakan terciptanya gencatan senjata segera. Retno menyerukan agar masing-masing negara OKI menggunakan pengaruhnya untuk mendorong gencatan senjata secepatnya. Dan semua tindakan kekerasan harus segera dihentikan.

Ketiga, OKI tetap fokus membantu kemerdekaan bangsa Palestina. Dalam kaitan ini, OKI harus lebih keras berupaya untuk mendorong dimulainya kembali negosiasi multilateral yang kredibel. Yang berpedoman pada parameter-parameter yang telah disetujui secara internasional. Dengan tujuan mencapai perdamaian yang lestari berdasarkan prinsip solusi dua negara.

Solusi Tuntas Islam

Pengamat politik internasional, Ustadz Farid Wadjdi menegaskan bahwa berbagai solusi apa pun kalau tak berujung pada pengusiran penjajah Yahudi, tak akan menyelesaikan masalah. Solusi dua negara ini sebenarnya solusi lama Amerika. Yang mengakui entitas penjajah Yahudi. Meskipun dengan bahasa yang kelihatan indah seperti hidup berdampingan secara damai, tapi kenyataannya solusi dua negara itu melegalkan penjajahan Yahudi (muslimahnews.com, 19/05/2021).

Melihat kembali pada sejarah, Palestina adalah milik umat Islam sejak masa pemerintahan Khalifah Umar ibnu Al-khaththab (tahun 637 M). Dengan kekuatan iman, militer dan strategi perang yang gemilang menghantarkan kemenangan kaum muslimin di perang Yarmuk melawan ratusan ribu kaum Romawi. Inilah awal kemenangan Al-Quds. Setelah dikepung selama 6 bulan oleh Abu Ubaidah, akhirnya kunci kota Al Quds diserahkan kepada Khalifah Umar oleh pemimpin gereja kristen Patriach Sophoronius dengan jaminan perlindungan (voa-islam.com, 24/05/2019).

Palestina selamanya milik umat Islam hingga akhir zaman. Tak boleh satupun kelompok atau negara yang diperkenankan merebutnya dan menguasainya. Sudah saatnya kaum muslim mengambil solusi ideologi Islam, bukan mengharapkan solusi dari PBB atau OKI. Solusi tuntas sampai ke akarnya. Yaitu umat muslim dunia bersatu untuk membebaskan Al-Aqsa dari cengkraman zionis Israel dengan mengerahkan militer. Karena sejarah membuktikan Israel ‘bebal’ dengan diplomasi dan hanya mengenal bahasa kekerasan untuk melawannya.

Bersatunya kaum muslim ini membutuhkan institusi negara yang mampu memobilisasi kekuatan fisik dan materi melawan penjajah Israel. Institusi tersebut adalah khilafah yang tegak atas ideologi Islam. Sebagaimana sistem ini telah terbukti pernah berhasil melumpuhkan rencana kafir untuk menduduki Palestina yaitu masa Shalahuddin al Ayyubi atau Sultan Abdul Hamid II.

Selama ada khilafah yang melepaskan sekat nasionalisme, musuh-musuh Islam tak akan punya nyali menjajah ataupun menghinakan kaum muslim. Khilafah ini hanya akan terwujud melalui jalan dakwah sesuai metode Rasulullah SAW serta para sahabat terdahulu. Inilah urgensinya seluruh kaum muslimin memperjuangkan khilafah dalam aktivitas dakwah Islam.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Post a Comment for "Palestina Dibela Setengah Hati, Israel Didukung Adidaya"