Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Palestina Kita Belajar

Seorang anak Palestina ditanya, "Kamu nggak takut sama Yahudi? Nggak takut kena bom lalu mati?" Anak tersebut menjawab, "Nggak, biasa saja. Kalau mati insyaAllah syahid." Video itu diunggah akun instagram milik @muhammadhusein_gaza beberapa hari yang lalu. Betapa mental anak-anak itu mengingatkan kita arti pejuang sejati. Tangguh dan kokoh.

Oleh Chusnatul Jannah

Seorang anak Palestina ditanya, "Kamu nggak takut sama Yahudi? Nggak takut kena bom lalu mati?" Anak tersebut menjawab, "Nggak, biasa saja. Kalau mati insyaAllah syahid." Video itu diunggah akun instagram milik @muhammadhusein_gaza beberapa hari yang lalu. Betapa mental anak-anak itu mengingatkan kita arti pejuang sejati. Tangguh dan kokoh.

Di penghujung ramadan, dunia dikejutkan dengan peristiwa memilukan. Palestina kembali bergemuruh laksana perang. Israel mengusir penduduk Palestina di Syeikh Jarrah dan menyerang ratusan warga saat sedang mekukan salat tarawih di Masjidilaqsa. Hingga detik ini, Israel masih terus menyerang Gaza dengan keji. Bahkan belasan anak menjadi korban kebengisan Israel.

Tatkala warga Palestina menyambut hari raya dengan desingan peluru dan bom, kita di sini merayakannya dengan petasan dan suka cita. Hari raya idulfitri memang istimewa. Palestina menyambutnya dengan duka dan air mata. Kebahagiaan bagi mereka adalah saat syahid di jalan Allah.

Sementara kita menyambut dengan berkumpul bersama keluarga besar dan merasakan indahnya hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Sambil merasakan kebahagiaan bersama keluarga, jangan lupakan doa kita untuk mereka sembari terus melakukan ikhtiar untuk menyuarakan kepada dunia bahwa masalah Palestina adalah problem umat Islam dunia.

Setelah sebulan berpuasa, gelar terbaik bagi hamba yang berhasil melakukan treatment selama ramadan adalah menjadi hamba bertakwa. Takwa dalam arti menjaga ketaatannya kepada Allah selama sebelas bulan ke depan. Menjaga keistiqomahan ibadah dan kebiasaan amal salih yang sudah dilakukan di bulan ramadan. Itulah makna kemenangan idulfitri hakiki.

Ibnu al-Mubarak pernah bertanya kepada seorang ahli ibadah, "Kapan hari raya Anda?" Ia menjawab:

كل يوم لا أعصى الله فيه فهو يوم عيد

"Setiap hari yang di dalamnya saya tidak bermaksiat kepada Allah, itulah hari raya." (Adab ad-Dunya wa ad-Din, I/131).

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga pernah mengatakan, "Hari raya itu bukan milik orang yang berpakaian baru. Akan tetapi hari raya adalah milik orang yang takut terhadap hari pembalasan."

Mereka yang senantiasa menjaga ketaataannya selepas ramadan, merekalah yang pantas disebut pemenang. Dari Palestina kita belajar. Menjaga iman dalam kondisi apapun adalah harga mati bagi seorang muslim.

Dari Palestina kita belajar. Perjuangan menjaga masjid ketiga umat Islam mengingatkan kita tentang perjuangan mewujudkan khilafah sebagai perisai kaum muslim. Khilafah adalah hal yang mendesak dan tidak bisa ditunda lagi.

Dari anak-anak Palestina kita belajar. Mental pejuang itu bukan mental tempe. Tapi mental baja sekuat gatotkaca. Dari Palestina kita diingatkan. Problem kaum muslimin dunia tak akan berhenti hingga umat terbaik ini memiliki rumah sendiri. Institusi yang mampu melindungi kehormatan kaum muslim serta kemuliaan Islam.

Persoalan Palestina adalah masalah umat. Jangan pernah berharap pada lembaga dunia atau PBB. Mereka tak lebih sekadar formalitas menolak kekerasan. Tapi, aktualnya merekalah sejatinya penjaga Israel. Deklarasi 1948 yang mengesahkan berdirinya negara Israel menjadi bukti tak terbantahkan bahwa PBB hanyalah stempel legal yahudi merebut Palestina.

Oleh karenanya, umat harus memahami, Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslim hanya dengan kekuatan militer negara khilafah. Bukan nation state yang lemah tak berdaya. Semoga, Allah segerakan lahirnya pembebas Al Aqsha layaknya Shalahudin Al Ayubi generasi abad ini. Semoga Allah hadiahkan hari raya kemenangan ini dengan datangnya fajar khilafah sebagai puncak kebangkitan Islam.

Post a Comment for "Dari Palestina Kita Belajar"