Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bagaimana Islam dan Khilafah Memaknai Toleransi Beragama?

Toleransi bukan berarti berceramah di rumah ibadah agama lain. Hal tersebut bukan lah cara yang baik dan tepat untuk mendakwahkan Islam. Selain bisa saja menimbulkan fitnah, tindakan itu sangat kontraproduktif dengan dakwah Islam.

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Toleransi bukan berarti berceramah di rumah ibadah agama lain. Hal tersebut bukan lah cara yang baik dan tepat untuk mendakwahkan Islam. Selain bisa saja menimbulkan fitnah, tindakan itu sangat kontraproduktif dengan dakwah Islam.

Ceramah di rumah ibadah agama lain merupakan bentuk toleransi yang kebablasan. Apalagi kalau ceramahnya bukan mengajak kepada Islam tetapi kepada toleransi yang tidak pada tempatnya hanya menggerus makna Islam sebagai agama dakwah.

Banyak cara untuk menyampaikan dakwah tanpa harus berceramah di rumah ibadah agama yang lain. Banyak cara yang menjadi tuntunan dalam Islam dan ada prakteknya dalam Sejarah Islam.

Islam menghargai toleransi dan memiliki istilah khusus bagi toleransi yang dikenal dengan tasamuh. Bagi Islam, toleransi artinya membiarkan umat lain beribadah menurut keyakinan agamanya tanpa mengganggunya sama sekali.

Tidak pernah memaksa orang lain masuk Islam. Laa ikraha fiddin (Lihat QS. Al Baqarah: Ayat 256). Tetapi Islam sangat terbuka jika ada yang mau masuk Islam.

Dan tercatat sebuah survei pernah menyebutkan Islam sebagai agama yang paling banyak diminati dan berkembang pesat selama 14 abad terakhir ini. Dan memang dalam Islam, Rasulullah SAW dan para Sahabat Rhum tidak pernah berceramah di dalam rumah ibadah agama lain. Menurut riset Pew Research Center, Seperti dikutip dari CNN, Jumat, (17/3/2017), studi tersebut memperkirakan pada 2010-2050, populasi muslim meningkat 73 persen di seluruh dunia.

Rasulullah SAW dan para sahabat Rhum yang mulia senantiasa mengajak diskusi para pemuka agama Yahudi dan Nasrani untuk membahas tentang agama Islam. Beliau SAW mengajak mereka untuk memeluk Islam. Beliau SAW juga mengajak Kaum Musyrikin untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan peyembahan berhala.

Tidak ada pemaksaan untuk masuk ke dalam agama Islam. Bahkan ketika futuhat Makkah (penaklukkan kota Makkah), Beliau SAW tak pernah menggunakan kekuasaannya untuk memaksa kaum lainnya untuk masuk Islam.

Sikap tasamuh yang ditunjukkan oleh Peradaban Islam sejak zaman Rasulullah SAW malah menarik jutaan orang masuk Islam dengan sukarela. Jutaan Muallaf ini masuk Islam di berbagai daerah kekuasaan Islam seperti Jazirah Arab, Afrika, Asia, Sebagian Eropa, dan Amerika.

Bandingkan dengan Andalusia yang Kaum Muslimin serta Yahudi dipaksa murtad dari agamanya jika tidak ingin kehilangan nyawa. Ini menyebabkan banyak yang eksodus dari Andalusia ke Khilafah Abbasiyah. Disinilah kaum Yahudi mendapatkan perlindungan dari Khalifah untuk bebas menjalankan keyakinan agamanya.

Pada zaman Khulafaur Rasyidin, Khalifah Umar bin Khattab ra menolak untuk shalat dalam Gereja Makam Kudus di Yerusalem. Kala itu Yerusalem dikuasai Khilafah Islam.

Saat mengunjungi gereja tersebut, tiba-tiba waktu shalat Zuhur pun datang dan Patriach Sophronius menawarkan Khalifah Umar bin Khattab untuk shalat di dalam Gereja Makam Kudus itu.

Khalifah Umar bin Khattab menolak dengan sopan dan baik-baik dengan mengatakan, "Jika aku shalat di sini maka umat Muslim yang lain akan berkata bahwa Khalifah Umar bin Khattab pernah Shalat di sini, sehingga lambat laun gereja ini bisa berubah menjadi masjid."

Khalifah Umar bin Khattab shalat di luar Gereja Makam Kudus. Tempat shalat Khalifah ini kemudian menjadi Masjid Umar yang hingga saat ini masih digunakan untuk beribadah shalat di Palestina.

Inilah toleransi yang sebenarnya yang diajarkan oleh Islam. Yerusalem menjadi tempat paling toleran di dunia. Dimana semua agama bebas menjalankan keyakinan agamanya sambil menerima dengan sukarela Syariat Islam diterapkan dalam kehidupan masyarakat Syams (termasuk di dalamnya Palestina dan Yerusalem).

Inilah yang dipuji oleh para pakar Non Muslim dunia sekelas Will Durrant. Will Durant adalah seorang sejarahwan barat.

Will Durant justru memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan:

"Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka"

Semoga ini menjadi pelajaran bahwa ketika dakwah Islam disiarkan secara Kaffah, Islam bisa diterima oleh berbagai bangsa, suku, agama dan etnis. Tanpa harus melanggar batas-batas aqidah Islam. Bukankah kita merindukannya? []

Bumi Allah SWT, 22 Ramadhan 1442H (4 Mei 2021)

#DenganPenaMembelahDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Bagaimana Islam dan Khilafah Memaknai Toleransi Beragama?"