Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teroris Beraksi, Proyek Moderasi Mengintai

kita semua harus waspada, jangan sampai kita ikut arus program moderasi. Karena hakekatnya moderasi bukan berasal dari islam. Kita memang menentang aksi teroris, namun solusinya adalah belajar islam kaffah, agar tidak salah arah. Karena islam tidak mengajarkan tindak kekerasan. Islam jika diterapkan secara kaffah akan menghantarkan kepada kesejahteraan.

Oleh : Ummu Hanif, Pengamat Sosial Dan Keluarga

Isu terorisme kembali menguat akhir - akhir ini. Serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, yang terjadi pada hari Minggu (28/3/2021) kemarin, menjadikan paham radikalisme disorot kembali. Polisi melalui Detasemen Khusus (Densus) 88 bergerak cepat menangkap sejumlah orang yang dicurigai berjejaring dengan terduga pelaku.

Belum reda kegaduhan bom Makasar, publik kembali dihebohkan dengan aksi terorisme yang terjadi di Ibu Kota Negara, tepatnya di Mabes Polri , Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021).

Opini terus bergulir, ajaran islam kembali disorot dan dijadikan kambing hitam. Seakan terlihat bahwa ada upaya untuk mengkriminalisasi sejumlah ajaran Islam dan menimbulkan ketakutan untuk kembali pada syariat Islam kafah. Padahal Islam jelas tidak membenarkan segala bentuk kekerasan,

Isu terorisme sendiri bukanlah hal yang baru. Pasca peristiwa 911 yang meruntuhkan gedung World Trade Center (WTC) di Amerika tahun 2001 lalu, George Bush yang saat itu menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan genderang perang antarperadaban. Bush sampai membagi dunia dalam dua kubu, kubu terorisme dan kubu AS.

Pasca kejadian itu, negara-negara di dunia disibukkan dengan isu terorisme yang di masa Trump beralih jadi war on radicalism. Untuk itulah berbagai program untuk menangani apa yang disebut sebagai tindakan radikal dilakukan. Definisi radikalisme, ciri-ciri radikalisme, tindakan yang terkategori radikal terus diperdengarkan di tengah-tengah masyarakat. Yang kemudian opini publik digiring, melalui tokoh – tokoh yang diwawancarai, bahwa pengarusan islam moderat menjadi kebutuhan mendesak dalam rangka menanggulangi paham radikalisme.

Kata “moderat” atau jalan tengah sendiri mulai dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Konflik antara pihak pemuka gereja (yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat) dan kaum revolusioner yang berasal dari kelompok filosof (yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan) menghasilkan sikap kompromi. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Amerika Serikat memang merancang pendekatan yang amat halus dalam pertarungan ideologi antara Islam dan kapitalisme. Cheryl Benard–peneliti RAND Corporation—menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya. AS harus menyiapkan mitra, sarana, dan strategi demi memenangkan pertarungan.

Tujuannya adalah pertama, mencegah penyebaran Islam politik. Kedua, menghindari kesan bahwa AS “menentang Islam.” Ketiga, mencegah agar masalah ekonomi, sosial, dan politik akan menyuburkan radikalisme Islam (Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies/Cheryl Benard. Copyright 2003 RAND Corporation).

Oleh karena itu, kita semua harus waspada, jangan sampai kita ikut arus program moderasi. Karena hakekatnya moderasi bukan berasal dari islam. Kita memang menentang aksi teroris, namun solusinya adalah belajar islam kaffah, agar tidak salah arah. Karena islam tidak mengajarkan tindak kekerasan. Islam jika diterapkan secara kaffah akan menghantarkan kepada kesejahteraan. Wallahu a’lam bi ash showab.

Post a Comment for "Teroris Beraksi, Proyek Moderasi Mengintai"