Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tanpa Khilafah, Serangan Israel Akan Terus Terulang Kepada Penduduk Palestina di Bulan Ramadan

Ketenangan untuk menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan 1441 H tampaknya belum bisa dirasakan warga Jalur Gaza, Palestina. Mereka diliputi was-was karena gempuran rudal dari militer Israel pada Jumat pagi (16/4/2021)

Oleh : Hamsia (pemerhati umat)

Seluruh umat muslim di saentero dunia tentu menunggu-nunggu waktu ramadhan tiba. Hari di mana setiap amalan kebaikan akan dilipatgandakan berkali lipat dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Kebahagiaan tentu terpantri dari setiap insan yang menunggu datangnya bulan suci ramadhan.

Namun, hal ini tidak berlaku untuk warga Gaza. Jelang satu hari ramadhan serangan udara Israel memporak-porandakan pemukiman warga Gaza. Tak hanya itu, kantor media Anadolu pun tak luput dari serangan kejam Israel ini.

Ketenangan untuk menunaikan ibadah puasa pada Ramadhan 1441 H tampaknya belum bisa dirasakan warga Jalur Gaza, Palestina. Mereka diliputi was-was karena gempuran rudal dari militer Israel pada Jumat pagi (16/4/2021) melancarkan serangan udara terhadap sasaran udara di jalur Gaza, mencakup fasilitas pelatihan, pos peluncur rudal anti pesawat, pabrik produksi beton, dan infrastruktur terowongan. (kompas.com, 17/4/2021)

Kelamnya ramadhan di Gaza sungguh tidak pernah bisa kita bayangkan. Menjalani hari-hari terbaik di bulan ramadhan dengan kepungan bom yang sewaktu-waktu merenggut nyawa kita.

Sejatinya kehidupan di Gaza adalah kehidupan pengecualian dalam semua detailnya. Blokade yang mencekik selama kurang lebih 13 tahun, kehidupan rakyatnya yang berubah menjadi siksaan dan penderitaan, serta serangan berulang-ulang penjajah Israel yang menyebarkan kematian di mana-mana.

Eskalasi Israel secara biadab yang dilancarkan oleh geng-geng pemerintah penjajah Israel terhadap jalur Gaza, peristiwa ini mengingatkan kembali meemori berbarisme, akan pembunuhan terhadap warga palestina di Gaza selama bulan suci ramadhan pada tahun 2014 di tengah-tengah agresi sengit Israel di Jalur Gaza.

Kala itu, terjadi penghancuran dan pembunuhan sistematis. Pasukan Israel menghancurkan bangunan-bangunan sipil, perumahan dan media, dan serangan itu berlanjutan sehingga Syawal dan merengut lebih dari 2,000 nyawa penduduk Gaza. Hal ini yang juga terjadi sejak sabtu pagi lalu.

Menurut data resmi pada Ahad (5/5) jumlah serangan udara yang dilakukan pasukan Israel sejak sabtu (4/5) sekitar 295 kali gempuran pesawat, artileri dan kapal perang menghancurkan 320 bangunan sipil. Merespon aksi keji tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan memasifkan bantuan ramadhan untuk Palestina. Ibnu Khajar, Vice President ACT menyampaikan sikap ACT terhadap kondisi duka yang dihadapi bangsa Palestina pasca serangan jelang Ramadhan.

“ACT mengecam apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina terlebih di bulan ramadhan yang suci ini. ACT melihat permasalahan ini bukan lagi masalah yang ringan karena sudah berlangsung setiap tahun dengan eskalasi yang semakin meningkat,” ujar Ibnu dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/5/2019).

Di sisi lain warga Palestina di Jalur Gaza juga menyambut kedatangan bulan suci ramadhan dengan kondisi ekonomi yang sangat buruk, dengan tingkat kemiskinan 85%, pengangguran lebih dari 60% untuk kaum muda, dan pendapatan per kapita hanya 2 dolar. banyak keluarga di Palestina di Jalur Gaza tidak tahu bagaimana menghadapi bulan ramadhan dengan segara urusan dan kebutuhan harus mereka urus. Mereka ketakutan dengan suara-suara ledakan bom-bom Israel disaat berbukadan makan sahur. (PIP)

Jika kita mengingat kebelakang, pada zaman Daulah Islamiyah. Pendeta Sophronius menatap gerbang Yerusalem. Ia gelisah menanti Umar bin Khatab. Ya dengan tegas ia mengatakn, tidak ada seorang pun yang boleh masuk Yerusalem. Sebelum ia bertemu sang khalifah. Begitu sosok yang ditunggunya tiba, ia terkesima. Terkage-kaget melihat pemandangan di depan matanya. Penduduk Yerusalem pun dibuat takjub. Sang khalifah namanya ditakuti lawan dan disegani kawan, datang dengan berjalan kaki. Sementara untanya ditunggangi oleh pelayannya. Negoisasi pembebasan Yerusalem berlangsung damai. Negoisasi ini pun dikenal dengan sebutan Umariyah Covenant. Hingga kini kesepakatan itu masih disimpan di Gereja Suci Sepulchre di Yerusalem.

Itulah sedikit kisah kali pertama Palestina dibebaskan. Benar-benar dibebaskan dalam arti sesungguhnya. Tanpa pertumpahan darah, tanpa ada perampasan harta benda. Bahkan darah, harta dan kehormatan penduduk Nasrani berada dalam perlindungan Islam. Itulah kemuliaan Islam yang berada dalam genggaman Sang Khalifah Umar bin Khattab.

Kali kedua Palestina dibebaskan melalui tangan Salahudin Al-Ayubi tepat pada 2 Oktober 1187, setelah 88 tahun dalam tirani pasukan salib, Palestina akhirnya kembali pangkuan Daulah Islam. Pertempuran Hattin menjadi saksi bagaimana Islam yang dipimpin Salahudin Al-Ayubi, berhasil menaklukan dan membebaskan kota suci itu dari kezaliman dan kebiadaban Pasukan Salib.

Namun kini di awal Ramdhan 1442 H, neraka berpindah di atas bumi Palestina. Hingga saat ini Jalur Gaza masih terus membara. Sedih, Ramadhan yang penuh berkah, dilewati dengan duka. Peluru dan rudal menjadi santapan kala sahur dan berbuka. Puluhan syuhada telah meninggalkan bumi Palestina dengan berpuasa.

Sungguh miris, ini kali ketiga Palestina menunggu dibebaskan. Menunggu Sang Khalifah dan Salahudin Al-Ayubi abad ini. Lalu adakah pemimpin yang seberani Sang Khalifah Umar dan setangguh Salahudin Al-Ayubi hari ini?

Hari ini kaum muslim dipisahkan oleh sekat nasionalisme semu sejak runtuhnya Khilafah pada tanggal 3 maret 1924. Rasa empati dan peduli terhadap derita kaum muslimin di belahan dunia yang lain mulai terkikis. Mirisnya, para pemimpin muslim justru bersembunyi dibalik ketiak musuh-musuh Islam. Tangan yang seharusnya diulurkan untuk menolong muslim Palestina, justru disembunyikan di belakang punggung mereka.

Palestina tak hanya membutuhkan doa, obat-obatan, makanan, pakaian dan tempat tinggal yang aman dan layak. Namun, lebih dari itu mereka butuh dibebaskan melalui tangan seorang pemimpin yang seberani Umar dan setangguh al-Ayubi.

Palestina butuh dibebaskan oleh Sang Khalifah dalam naungan Khilafah. Sebab khilafah adalah simbol persatuan umat Islam. Di mana keberadaannya menjadi alat pemersatu umat diseluruh dunia. Hanya dibawah khilafah, umat ini tiada lagi tercerai berai. Dan disatukan oleh satu ikatan akidah, aturan, pemikiran dan perasaan yang sama yaitu Islam.

Khilafah juga merupakan junnah/perisai. Di mana kaum muslimin berlindung di bawah naungannya. Sungguh hanya khilafahlah yang akan mengirimkan pasukannya untuk membebaskan palestina dan mengakhiri dominasi Yahudi atas bumi Palestina. Khilafahlah yang akan menjamin dan melindungi penduduk Palestina sepanjang eksistensinya. Wallahu al’lam bishawab.

Post a Comment for "Tanpa Khilafah, Serangan Israel Akan Terus Terulang Kepada Penduduk Palestina di Bulan Ramadan"