Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

SAMBUT RAMADHAN, BULAN PERJUANGAN

SAMBUT RAMADHAN, BULAN PERJUANGAN

Oleh: Indah Kartika Sari, SP (Pegiat Opini Islam)

Ramadhan segera datang……
Bersukacitalah……
Menyambut puasa, bulan penuh kurnia….…
Puasa ayo puasa…..
Allah sayangi kita…….
Suci lahir serta batin……
Terbukalah pintu surga…..

Demikian syair lagu Ramadhan yang diciptakan oleh AT Mahmud, pengarang lagu anak-anak yang terkenal dengan syair-syairnya yang mendidik…

Syair lagu di atas memang sesuai dengan perasaan dalam hati kita. Ramadhan adalah tamu agung yang dinantikan oleh setiap orang. Tak peduli tua muda, laki-laki perempuan, semuanya bersuka cita sambut Ramadhan. Walau rasa itu sama, terkadang gaya menyambutnya berbeda-beda. Ada yang sekedar gembira karena melihat momen Romadhon dari sisi manfaat belaka.

Namun ada juga menyambut Ramadhan dengan harap-harap cemas. Berharap agar Ramadhan dan keutamaannya segera datang disertai berbagai persiapan matang dalam menyambutnya. Bercampur aduk juga dengan perasaan khawatir, kalau-kalau usia tak sampai untuk menggapainya. Betapa banyak orang yang telah mendahului kita, tak sempat menikmati Romadhan karena ajal telah lebih dahulu sampai mendahului datangnya Ramadhan.

Oleh karena itu, banyak-banyaklah berdoa dengan doa yang diajarkan Rosulullah : “Allaahumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya’bana, wa ballighna Romadhoona…aamiin.(“Wahai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan..aamiin”). Doa ini tidak lain adalah sebagai bentuk kepasrahan luar biar seorang hamba di hadapan al Kholiq akan takdirnya dan secercah harapan agar Dia mempertemukan dengan Ramadhan. Bahkan setelah bertemu dengan Ramadhan pun, seorang hamba yang mengetahui hakekat Ramadhan berharap agar Ramadhan dapat berlangsung terus sepanjang tahun.

Rasulullah sedemikian indah menggambarkan ramadhan ini dalam hadistnya, “Sekiranya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan yang dikandung bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan agar Ramadhan berlangsung terus sepanjang tahun..”(HR Ibnu Abdi adDunya).

Rasulullah tentu tidak akan menyampaikan doa tersebut kepada kita, seandainya tidak ada keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, diantaranya :

1. Bulan Ramadhan adalah bulan terjadinya perang Badar al Kubro. Perang ini terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Saat itu pasukan Rasulullah SAW hanya berkisar 305 orang. Sementara pasukan Quraisy berjumlah 3 kali lipat dari pasukan kaum Muslimin. Walaupun dalam keadaan lapar dan dahaga, pasukan umat Islam berhasil memenangkan peperangan dengan pertolongan dari Allah dengan pasukan Malaikat yang datang berbondong-bondong…Maa syaa Allah.

Pada bulan Ramadhan pula, kaum Muslimin berhasil menaklukkan kota Makkah. Ka’bah dan sekitarnya dibersihkan dari berbagai kemusyrikan. Kaum Muslimin melepas kerinduan mereka dengan keluarga yang ditinggalkan selepas hijrah ke Madinah. Setelah Futuh Makkah, kekuasaan Rasulullah dengan berkah Ramadhan semakin bertambah luas hingga mencapai batas-batas Jazirah Arab. Dengan berkah Ramadhan, kekuatan dan kewibawaan kaum Muslimin semakin tak tertandingi. Selain itu beberapa peristiwa peperangan juga terjadi pada bulan Ramadhan seperti perang untuk menaklukkan Baitul Maqdis yang saat itu dilakukan oleh Sholahuddin al Ayyubi.

2. Bulan Ramadhan terdapat sebuah malam yang penuh dengan kemuliaan yaitu malam Qodar. Jika kita diberikan kesempatan beribadah di malam itu maka nilainya adalah seperti melaksanakan ibadah selama 1000 bulan. Muslim mana yang mampu beribadah selama itu tanpa diselingi oleh aktivitas lain. Disisi lain jika dibandingkan dengan usia kita, tentu amat jarang ada muslim yang diberikan nikmat umur panjang selama 1000 bulan atau lebih kurang 83 tahun. Dengan keutamaan yang sedahsyat ini, tentu seorang muslim tidak ingin mengalami kerugian dengan melewatkan malam tersebut tanpa melaksanakan aktivitas ibadah apapun.

3. Bulan Ramadhan adalah bulan turunnya al Qur’an yang mulia. Bulan dimana kekasih Allah siap mengemban Risalah yang tidak sanggup dipikul oleh langit dan gunung. Namun berkah Romadhan membuat Rosulullah siap untuk memikul tugas tersebut sehingga beliau mewariskannya hingga generasi akhir zaman. Oleh karena itu tidak ada aktivitas yang paling utama di bulan Ramadhan selain melakukan tadarrus al Qur’an sekaligus mentadabburinya. Dalam hadits riwayat Bukhory dan Muslim diceritakan bahwa setiap bulan Ramadhan, Rasulullah ditemani oleh malaikat Jibril melakukan mudarasah al Qur’an (saling membaca dan saling menyimak bacaan al Qur’an).

Tentu tak kalah penting, pada masa sekarang kaum Muslimin berjuang untuk membumikan al Qur’an sebagai sumber hukum-hukum Islam yang fungsinya sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang haq dan batil. Dengan berkah turunnya al Qur’an pada bulan Ramadhan maka Allah membuka keberkahan dari pintu-pintu langit dan bumi. Hal ini secara jelas dinyatakan Allah SWT, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)..” QS al Baqoroh : 185

4. Bulan Ramadhan merupakan sebuah bentuk kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman karena Allah memberikan kesempatan bertaubat dan mensucikan diri sekaligus melakukan berbagai amal ibadah yang bernilai pahala berlipat ganda sebagai persiapan dalam mengarungi bulan-bulan berikutnya. Bahkan puasa yang Allah perintahkan pada bulan Ramadhan merupakan bentuk syukur orang-orang yang beriman atas petunjuk dan hidayah yang datang dariNya lewat al Qur’an.

Demikianlah Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman berupa bulan Ramadhan dengan puasa sebagai amal unggulan yang diwajibkan kepada mereka sebagaimana seruannyaNya : "Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.." (TQS al Baqoroh : 185)

Masa-masa berpuasa adalah masa-masa yang indah. Kalau dulu di masa kanak-kanak, sering sekali didendangkan lagu rukun Islam yang lima. Maka saat kita dewasa, lagu itu hampir dipastikan selalu terngiang-ngiang di telinga kita. Bahkan mengingat lagu itu membuat kita makin semangat menjalankan puasa. Namun berjalannya waktu membuat kita semakin menyadari tentang hakikat puasa. Kalau dulu, bisa jadi kita berpuasa dengan semangat hanya karena iming-iming hadiah dari orangtua atau karena harus mengisi buku agenda Ramadhan. Sekarang tentu kadar puasa kita tingkatkan karena dorongan taqwa. Dalam berbagai haditsnya, kerapkali Rosulullah memberikan sindiran tentang rupa-rupa orang berpuasa.

Rosul bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang didapatkan hanya lapar dan haus saja..” (HR Thabrani). Tak heran, meski di dalam hadits dikatakan bahwa saat Ramadhan, setan-setan dibelenggu, namun masih banyak melakukan syiar-syiar Islam kepada kaum Muslimin tentang keutamaan Ramadhan agar mereka bersiap diri menyambut kedatangannya dengan persiapan sempurna. Sedemikian hormatnya beliau pada bulan Romadhan, sehingga beliau mengucapkan banyak tahniah kepada para sahabatnya sebagai kegembiraan akan datangnya tamu nan agung. 

Bahkan di penghujung bulan Sya'ban, beliau sebagai kepala Daulah di Madinah mempersiapkan orang-orang yang terpercaya. Mereka ini berjaga-jaga di seluruh negeri untuk melihat hilal Ramadhan sebagai tanda dimulainya awal Ramadhan. Setelah hilal terlihat, orang-orang terpercaya ini menginformasikan kepada Rosulullah untuk disampaikan kembali kepada seluruh umat Islam. Beliau melakukan ini semua seakan-akan Beliau tidak rela jika momen detik-detik pergantian bulan Sya’ban menuju bulan Ramadhan terlewatkan begitu saja.

Nah, bagaimana dengan kita ? Sudahkah kita menyambutnya dengan persiapan optimal agar puasa berkualitas bisa kita raih ? Puasa berkualitas untuk melakukan perubahan diri walaupun persentasenya sedikit demi sedikit. Puasa berkualitas untuk meraih kualitas keluarga dan umat terbaik. Tentu banyak kiat yang harus dilakukan untuk mencapai target diatas, diantaranya :

Pertama, luruskan niat bahwa puasa yang akan kita lakukan tahun ini adalah puasa yang kita lakukan karena mengharap keridhoan Allah semata. Buatlah komitmen bahwa puasa tahun ini haruslah puasa yang lebih baik dari puasa tahun lalu dan berusahalah untuk mewujudkan tujuan puasa yakni membentuk pribadi yang bertaqwa serta keluarga dan umat yang terbaik.

Kedua, pahami hakekat Ramadhan dan puasa dengan sebenar-benarnya. Pemahaman itu didapatkan dari berbagai kajian pra Ramadhan maupun dari berbagai referensi yang terkait dengan pembahasan seputar Ramadhan. Kuasai juga fiqh puasa Ramadhan dari A sampai Z sehingga puasa kita menjadi amal sholih yang diterima Allah SWT.

Ketiga, persiapkan amal-amal unggulan yang dilaksanakan selama Ramadhan untuk tambahan kebaikan bagi diri, keluarga dan umat. Bahkan kalau perlu diagendakan dan ditargetkan selesai saat berakhirnya bulan Romadhan. Misalnya jika dihari-hari biasa kita hanya bisa membaca al Qur’an satu juz maka saat bulan Ramadhan, dalam sehari bisa membaca 2 atau 3 juz. Jangan lupa untuk menghafal beberapa ayat al Qur’an beserta artinya setiap hari. Qiyamullail dan shodaqoh juga merupakan aktivitas unggulan yang biasa dikerjakan Rosulullah saat Romadhan. Dan yang lebih penting, aktivitas ibadah yang bernilai wajib jangan sampai ditinggalkan. Menuntut ilmu, melakukan tugas sebagai pendidik generasi bahkan berdakwah adalah aktivitas maha penting yang harus dilakukan pada bulan Ramadhan. Di saat umat, hatinya terpaut dengan zikir kepada Allah, dekat kepada ayat-ayat Qur’an tentu akan lebih mudah menyentuh hati dan pemikiran mereka untuk menerima dakwah dalam rangka membumikan al Qur’an dalam setiap sendi kehidupan mereka. Hatta, momen Romadhan sangat tepat untuk mengajak umat untuk kembali menegakkan Syariah dalam bingkai Khilafah. Fenomena kebijakan pemerintah yang zhalim serta sistem kapitalis sekuler yang banyak menyengsarakan rakyat menjadi entry point yang tepat untuk menggelorakan semangat perjuangan umat Islam kembali menjadi umat terbaik di bawah naungan Khilafah.

Keempat, banyak-banyak bertaubat kepada Allah SWT atas dosa-dosa kita kepadaNya. Bersilaturahmi kepada orang tua dan sanak saudara, bersilah ukhuwah kepada saudara-saudara seaqidah dalam rangka memohon maaf atas segala kesalahan sehingga Allah memudahkan jalan kita untuk menggapai Ramadhan.

Kelima, persiapkan keluarga untuk bersama meniti sakinah, mawaddah wa rahmah dalam berkah Ramadhan. Di tengah berbagai konflik yang mendera keluarga karena imbas sistem Kapitalisme, momen Ramadhan menjadi ajang introspeksi dari setiap anggota keluarga untuk menjadi keluarga unggul yang dapat mencetak generasi cemerlang. Madrasah Ramadhan menciptakan sekaligus mengembalikan keharmonisan keluarga yang mungkin sempat hilang atau mengalami kelesuan.

Nah, sudah siapkah kita sambut Ramadhan ? Sudah siapkan kita mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amal sholih sebagai bentuk perjuangan kita untuk kembali menjadi pribadi-pribadi Muttaqiin yang Mukhlisin ? In syaa Allah.

Post a Comment for "SAMBUT RAMADHAN, BULAN PERJUANGAN"