Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pelajaran Dari Karamnya KRI Nanggala 402

Alutsista sangat penting dalam pertahanan negara jika terjadi perang. Sementara KRI Nanggala 402 tenggelam saat latihan menembakkan torpedo. Sejumlah 53 prajurit terbaik meninggal dunia.

Oleh : Ummu Fillah

Ibu Pertiwi kembali berduka. Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402 buatan Jerman 1977 yang sudah beroperasi sejak 1981 merupakan kecelakaan ketiga di Indonesia. Setelah hilang kontak Rabu(21/4/2021) dan dinyatakan subsunk pada Sabtu (24/4/2021). Diperairan Bali. Tirto.id Pertama adalah KRI Rencong 622 buatan Korea Selatan tahun 1979 yang terbakar dan tenggelam di Papua Barat pada September 2018; kedua KRI Teluk Jakarta 541 buatan Jerman Timur tahun 1979 tenggelam di Jawa Timur pada Juli 2020.

Jika dilihat dari sudut pandang aqidah, kecelakaan terjadi atas kehendak Allah. Tak ada yang bisa menghindar sedikitpun. Diranah manusia kita hanya bisa evaluasi penyebabnya. Yaitu tentang pengelolaan alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia yang tidak laik pakai.

Alutsista sangat penting dalam pertahanan negara jika terjadi perang. Sementara KRI Nanggala 402 tenggelam saat latihan menembakkan torpedo. Sejumlah 53 prajurit terbaik meninggal dunia.

Apakah tidak ada Anggaran untuk kebutuhan alutsista negeri ini? Memang tak dapat dipungkiri, modernisasi alutsista membutuhkan dana yang sangat besar. Sedangkan beban hutang negara di bidang infrastruktur dari negara asing dan pajak sebagai penghasilan negara menjadikan kedaulatan negara kian rapuh.

Kemiliteran sangat penting bagi pertahanan negara. Hubungannya dengan politik internasional. Manuver politik suatu negara dilihat dari pertahanan militernya. Bayangkan! jika menyelesaikan pertahanan tidak di prioritaskan maka ketahanan sebuah negara tidak menggentarkan pertahanan musuh. Tidak mempunyai bargaining positition.

Pada zaman Rasulullah, umat Islam sudah menjadikan pertahanan militer suatu kewajiban. Membangun industri persenjataan wajib hukumnya untuk kesempurnaan kewajiban jihad. Sebagai wasilah menyebarkan dakwah Islam keseluruh dunia.

Jika pada masa Rasulullah, Salman Al farisi sudah membuat manjaniq sebagai pelontar merobohkan benteng musuh, seharusnya dengan kejeniusan akal manusia dan teknologi saat ini bisa lebih canggih. Hingga bisa mempertahankan kedaulatan negara.

Allahu a'lam bishowab.

Post a Comment for "Pelajaran Dari Karamnya KRI Nanggala 402"