Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DENGAN ISLAM SOLUSI KENAIKAN HARGA BISA DISELESAIKAN

Dari mekanisme pasar yang sesuai Islam akan memecahkan permaslahan kenaikan harga ini. Dan ketika mekanisme pasar yang tidak ada pegontrolan dari pemerintah, maka kenaikan harga dan kecurangan perdagangan bisa saja di gunakan pada momen Ramadhan. Pengontrolan, pengawasan, dan penjagaan pada harga pasar, dalam sistem ekonomi Islam sangat diperhatikan dengan serius. Islam akan menerapkan keadilan dan pemerataan kesejahteraan hakiki. Dimana Islam mewajibkan negara mewujudkan suasana tenang, dengan adanya jaminan pemenuhan kebutuhan terutama menjelang Ramadhan. Dan sistem ini hanya ada pada sebuah institusi negara, yaitu negara Islam.

Oleh : Ning Hari Wuriani

Ramadhan dan Lebaran merupakan masa rentan bagi harga dan stok bahan pokok. Momen ini merupakan kejadian berulang-ulang setiap tahun, tak pelak ini pun berdampak pada kenaikan harga bahan pokok. Sejumlah harga bahan pokok menjelang Ramadhan merangkak naik seiring dengan permintaan yang tinggi di pasar.

Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IkaPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, kenaikan harga ini masih akan terus terjadi hingga sepekan saat awal Ramadhan. Setelah itu, harga-harga akan kembali normal, dan mulai kembali naik saat lima hari sebelum lebaran. Hal ini karena persiapan lebaran, masyarakat berbelanja dengan kapasitas besar dan stok di rumah.

Di mata kaum kapitalis ini adalah celah manfaat yang mendatangkan keuntungan berlipat-lipat. Dalam sistem kapitalisme yang kini tengah diterapkan, kemajuan ekonomi ditentukan oleh besarnya investasi, pertumbuhan, dan lain-lain. Akibatnya, yang diperhatikan adalah para pengusaha. Sebab, merekalah yang dipandang pencipta kemajuan ekonomi. Kondisi rakyat serba kekurangan tidaklah jadi ukuran. Hal ini bisa dilihat dari apa yang diambil negara sebagai kebijakan, maslahat rakyat tak dijadikan tumpuan.

Mengapa kenaikan harga ini sering terjadi dan berulang setiap tahun?

Secara alami, harga ini ditentukan oleh supplay and demand (penawaran dan permintaan). Karena itu, jika barang yang ditawarkan jumlahnya melimpah, sedangkan permintaannya sedikit, maka harga akan turun. Jika barang yang ditawarkan jumlahnya sedikit, sedangkan permintaannya besar, maka harga akan naik.

Dengan demikian, harga akan mengikuti hukum pasar. Karena, hukum pasar tersebut ditentukan oleh faktor supplay and demand, maka untuk menjaga stabilitas harga di pasar, faktor yang harus diperhatikan oleh negara adalah faktor supplay and demand ini. Keseimbangan antara supplay and demand harus selalu diperhatikan oleh negara, sehingga harga tersebut benar-benar stabil.

Peran Penting Negara Untuk Menyediakan Pasokan Memadai dan Menghilangkan Semua Penghambat Pasar Yang Adil.

Peran pemerintah penting sekali dalam menjaga kestabilan harga. Kebijakan pemerintah lainnya bisa dengan memasok barang atau mengurangi pasokan barang ke pasar. Selain itu juga, pemerintah harus menjamin bahwa transaksi perdagangan di pasar, harus bebas dari spekulasi dan kecurangan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan, supaya harga bahan pokok stabil :

1. Mematok Harga dan Inflasi

Ketika harga barang naik, orang berpikir sederhana, agar tidak naik, maka pemerintah harus turun tangan, mematok harga. Pandangan ini sepintas benar, meski faktanya tidak. Dengan mematok harga, memang harga bisa stabil pada waktu tertentu, tetapi cara ini justru menyebabkan terjadinya inflasi. Karena, diakui atau tidak, pematokan harga ini mengurangi daya beli mata uang.

Karena itu, Islam mengharamkan negara untuk mematok harga. Harga, justru oleh Islam dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, supplay and demand. Ketika zaman Nabi, saat harga barang-barang naik, para sahabat datang kepada Nabi SAW meminta agar harga-harga tersebut dipatok, supaya bisa terjangkau. Tetapi, permintaan tersebut ditolak oleh Nabi, seraya bersabda, “Allah-lah yang Dzat Maha Mencipta, Menggenggam, Melapangkan rezeki, Memberi Rezeki, dan Mematok harga.” (HR Ahmad dari Anas). Dengan begitu, Nabi tidak mau mematok harga, justru dibiarkan mengikuti mekanisme supplay and demand di pasar.

Ketika Nabi mengembalikan kepada mekanisme pasar, bukan berarti negara kemudian sama sekali tidak melakukan intervensi. Tentu tidak. Hanya saja, tentu intervensinya bukan dengan mematok harga, namun dengan cara lain. Cara, yang tidak merusak persaingan di pasar.

2. Intervensi

Jika kenaikan harga barang itu terjadi, karena faktor supplay yang kurang, sementara demand-nya besar, maka agar harga barang tersebut bisa turun dan normal, negara bisa melakukan intervensi pasar dengan menambah supplay barang. Cara ini jelas tidak merusak pasar. Justru sebaliknya, menjadikan pasar tetap selalu dalam kondisi stabil. Kondisi ini bisa terjadi, karena boleh jadi di suatu wilayah telah mengalami krisis, bisa karena faktor kekeringan atau penyakit, yang mengakibatkan produksi barangnya berkurang. Akibatnya, supplay barang-barang di wilayah tersebut berkurang.

Untuk mengatasi hal ini, negara bisa menyuplai wilayah tersebut dengan barang-barang yang dibutuhkan dari wilayah lain. Kebijakan seperti ini pernah dilakukan oleh Umar, ketika wilayah Syam mengalami wabah penyakit, sehingga produksinya berkurang, lalu kebutuhan barang di wilayah tersebut disuplai dari Irak.

Jika kenaikan barang tersebut terjadi, karena supplay yang kurang, akibat terjadinya aksi penimbunan (ihtikar) barang oleh para pedagang, maka negara juga harus melakukan intervensi dengan menjatuhkan sanksi kepada pelaku penimbunan barang. Sanksi dalam bentuk ta’zir, sekaligus kewajiban untuk menjual barang yang ditimbunnya ke pasar. Dengan begitu, supplay barang tersebut akan normal kembali.

Jika kenaikan barang tersebut terjadi, bukan karena faktor supplay and demand, tetapi karena penipuan harga (ghaban fakhisy) terhadap pembeli atau penjual yang sama-sama tidak mengetahui harga pasar, maka pelakunya juga bisa dikenai sanksi ta’zir, disertai dengan hak khiyar kepada korban. Korban bisa membatalkan transaksi jual-belinya, bisa juga dilanjutkan.

3. Inflasi Nol

Inflasi terkait dengan daya beli mata uang, baik terhadap barang maupun jasa. Inflasi terjadi, bisa karena faktor mata uangnya, yang memang nilainya bisa berubah. Jika perubahan nilai mata uang tersebut karena nilai intrinsiknya, maka untuk menjaga stabilitas mata uang, sehingga inflasinya nol, tak ada cara lain, kecuali dengan menggunakan standar mata uang emas dan perak.

Inflasi juga bisa terjadi, karena uang yang ada dianggap tidak cukup untuk melakukan transaksi, akibat nilai nominalnya berkurang. Kondisi ini bisa diselesaikan, dengan diberlakukannya kebijakan larangan mematok harga dan jasa. Dengan begitu, uang yang tersedia akan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa.
Ketika harga barang dan jasa tersebut naik, misalnya, sementara daya beli masyarakat rendah, dengan sendirinya demand-nya berkurang. Jika demand-nya berkurang, maka harga barang dan jasa tersebut, dengan sendirinya akan turun. Begitu seterusnya, hingga akhirnya mata uang yang tersedia selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa.

Kebijakan mencetak uang, ketika daya beli masyarakat rendah, karena jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat sedikit, bukan meningkatkan daya beli masyarakat, justru mengakibatkan terjadinya inflasi. Karena jumlah mata uang yang banyak beredar di tengah masyarakat, ditambah dengan mata uang yang sudah ada sebelumnya, akan semakin menambah jumlah mata uang. Jika jumlah mata uang bertambah, otomatis akan terjadi inflasi. Karena, itu artinya, nilai mata uang tersebut turun.

Dari mekanisme pasar yang sesuai Islam akan memecahkan permaslahan kenaikan harga ini. Dan ketika mekanisme pasar yang tidak ada pegontrolan dari pemerintah, maka kenaikan harga dan kecurangan perdagangan bisa saja di gunakan pada momen Ramadhan. Pengontrolan, pengawasan, dan penjagaan pada harga pasar, dalam sistem ekonomi Islam sangat diperhatikan dengan serius. Islam akan menerapkan keadilan dan pemerataan kesejahteraan hakiki. Dimana Islam mewajibkan negara mewujudkan suasana tenang, dengan adanya jaminan pemenuhan kebutuhan terutama menjelang Ramadhan. Dan sistem ini hanya ada pada sebuah institusi negara, yaitu negara Islam.

Wallahu ‘alam bishawab.

Post a Comment for "DENGAN ISLAM SOLUSI KENAIKAN HARGA BISA DISELESAIKAN"