Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

"Market In Life And Death" Sampah Peradaban Kapitalisme

Kapitalisme berbasis ribawi, ibarat kapitalisme itu tubuh, maka darahnya adalah riba. Ekonomi yang nihil akan filosofi menebar sejahtera bagi semua, tak dikenal mekanisme shodaqoh juga infaq dan zakat, sebab begitulah titah "nabinya" kapitalisme Adam Smith yang konon adalah seorang gerejawan, bahwa dengan pengeluaran sekecil-kecil diperoleh untung sebesar-besarnya. Untung, uang dan materi itulah orientasinya.

By Rengganis Santika A,STP.

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh" (TQS. Al-Baqarah: 278).

"...sehingga harta jangan beredar hanya beredar diantara orang kaya saja" (TQS. Al Hasyr: 7).

"Welcome to the jungle of capithalism" inilah belantara kapitalisme. Sebuah tatanan ekonomi yang bertolak belakang dengan nilai-nilai mulia dari Allah ta'ala dalam dua ayat al qur'anil karim diatas.

Kapitalisme berbasis ribawi, ibarat kapitalisme itu tubuh, maka darahnya adalah riba. Ekonomi yang nihil akan filosofi menebar sejahtera bagi semua, tak dikenal mekanisme shodaqoh juga infaq dan zakat, sebab begitulah titah "nabinya" kapitalisme Adam Smith yang konon adalah seorang gerejawan, bahwa dengan pengeluaran sekecil-kecil diperoleh untung sebesar-besarnya. Untung, uang dan materi itulah orientasinya.

Disini berlaku mantra "Survival of fittest" yang terkuatlah yang bertahan. Dominasi uang menjadikan konglomerat jumawa dan kaum melarat merana.

Hukumnya berdiri diatas kebebasan mutlak, yang tak kenal batasan nilai moral, agama, apalagi syariat islam, no! Anak sultan mah bebas!! Makin kau cari nilai moral di belantara kapitalisme makin tersesat jauh dan sia-sia. Seperti Mark Manson bilang dalam bukunya "The Subtle Art of giving A Fuck", kebebasan mutlak itu justru membawanya pada kehampaan hidup.

Kebebasan kepemilikan adalah watak khas kapitalisme... Tak ada aturan kepemilikan umum dan kepemilikan negara, selama ada uang semua bisa jadi milik individu. Dalam nidzom iqtishodiy karya Syekh Taqiyuddin An Nabhani, Harga adalah mekanisme distribusi harta dalam kapitalisme, jadi yang mahal berkualitas untuk si kaya, sementara yang murah seadanya bagi si papa. Beginilah kesenjangan strata sosial yang sengaja dicipta. Serakah adalah hak asasi kaum kapitalis.

Itulah "sedikit" kengerian gelapnya belantara kapitalisme, borok-borok ideologi buah nafsu manusia ini tergambar di buku best seller Michael J. Sandels seorang profesor Universitas Harvard "What money can't buy". Dunia ini ibarat pasar besar, dimana berlaku mekanisme pasar bebas, ada uang apapun bisa dibeli, tak ada uang minggir!!

Jangan harap ada batasan moral, kapitalisme cuma menyisakan sampah peradaban. Di era ini semua bisa diperjual belikan, bahkan harga dirimu juga nyawamu bisa dibeli!! "Market in life and Death" pasar hidup dan mati mu bisa diperdagangkan, asuransi jiwa karyawan bisa dibeli korporasi! Ahli waris keluarga cuma gigit jari! Industri asurasi bahkan bisa menjual kecemasan akan masa depan, yang penting untung, begitu pikirnya!

Uang tak cuma alat tukar, demi untung uang bisa jadi komoditi, yang bisa didagangkan. Fakta ini adalah bagian strategi kebijakan moneter negara-negara kuat untuk menekan negara lemah. Ingat apa yang terjadi tahun 1998 di negri +62, ketika dollar diborong? Mister Sandel menguak fakta bagaimana hukum bisa dibeli, naluri keibuan bisa dibeli... Sandel mencoba menawarkan pentingnya batasan moralitas, bila dasarnya kapitalisme sia-sia bukan?

Menurut Daron Acemoglu dan James Robinson dalam bukunya yang menjadi best seller dua media raksasa The New York Times and Wall Street Journal yaitu "Why Nation Fail" bahwa kemakmuran sebuah negara ditentukan salah satunya oleh keputusan ekonomi dan politik yang di sengaja... kini banyak negara berstatus gagal/fail seperti negara-negara di Afrika karena gagal bayar hutang! Akhirnya negara pun terjual padahal kaya SDM sebagai akibat salah keputusan ekonomi politik. Tentu kesalahan itu berakar dari ideologi yang dianut negara. Apa kabar Indonesia? Negri zamrud khatulistiwa ini pun nyaris "sold out". Kita harus belajar!!

Begitu jelas fakta bobrok kapitalisme. Apa yang harus kita lakukan? Padahal hidup matinya seorang mu'min sudah "dijual" dijalan Allah swt. Memilih diam pasti mati dilindas rusaknya kapitalisme, atau memilih berjuang menghancurkan kapitalisme juga akan mati, sama-sama mati, tapi pilihan berjuang ada dalam kemuliaan, sebab kita melawan puncak kemungkaran.. Masih meragukan syariat islam? Masih alergi dengan hukum Allah? Atau masih ragu berjuang untuk meraih rahmatan lil alamin? Sebab Rasulullah saw. tak mencontohkan keberkahan hidup turun begitu saja dari langit tanpa berjuang..

Post a Comment for ""Market In Life And Death" Sampah Peradaban Kapitalisme"