Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kapitalisme-Sekuler Sebabkan Rapuhnya Ketahanan Keluarga: Ratusan Perempuan Purwakarta Jadi Janda

Mencengangkan! Dalam dua bulan terakhir, kasus perceraian di Purwakarta meningkat tajam. Ratusan perempuan pun menjanda. Ada apa gerangan?

Oleh: Wity

Mencengangkan! Dalam dua bulan terakhir, kasus perceraian di Purwakarta meningkat tajam. Ratusan perempuan pun menjanda. Ada apa gerangan?

Dilansir dalam Jabarnews.com, bahwa Pengadilan Agama Purwakarta mencatat 295 perkara perceraian yang terjadi pada Januari dan Februari 2021 ini. Dengan rincian 224 perkara cerai gugat dan 71 perkara cerai talak.

Kepaniteraan Muda Hukum Pengadilan Agama Purwakarta, Hj. Neneng Kesih mengungkapkan, sebanyak 75 perkara cerai gugat dan 34 perkara cerai talak terjadi pada Januari 2021. Adapun pada Februari 2021 cerai gugat menjadi 149 perkara dan cerai talak menjadi 37 perkara. (jabarnews.com, 03/03/2021)

Ia pun mengungkapkan bahwa perkara cerai gugat lebih banyak dilakukan pihak pasangan perempuan dibandingkan kasus cerai talak. Faktor yang mendominasi dari kasus gugatan tersebut disebabkan pertengkaran terus menerus dan meninggalkan salah satu pihak. Hal ini diduga karena faktor ekonomi, seperti suami tidak menafkahi istri atau penghasilan suami lebih kecil dari istri.

Banyaknya kasus perceraian yang diduga akibat masalah ekonomi tentu sangat memprihatinkan. Apa sebenarnya yang mendasari masalah ini?

Dampak Pemiskinan Sistematis

Sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dirasakan hampir sebagian besar masyarakat. Terlebih saat pandemi. Beban hidup terasa semakin menghimpit. Kondisi ini tak bisa lepas dari penerapan sistem ekonomi kapitalis. Kebijakan pemerintah menswastanisasi atau privatisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) menyebabkan kerugian bagi masyarakat umum sebagai pemilik asli SDA. Bagaimana tidak, kekayaan alam yang seharusnya dikelola negara dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan rakyat, justru diserahkan pengelolaannya terhadap asing. Hasil kekayaan alam yang melimpah ruah itupun akhirnya hanya dapat dinikmati oleh sebagian orang saja. Rakyat hanya mampu gigit jari. Miris.

Di sisi lain, akses untuk mendapat pekerjaan pun kian sulit. Di tengah banyaknya pengangguran, pemerintah justru membuka jalan lebar bagi TKA. Tenaga ahli di perusahaan-perusahaan asing yang melakukan investasi di Indonesia pun menggunakan TKA, sementara pribumi harus puas dengan menjadi buruh kasar.

Dengan kondisi demikian, bukankah jelas tekanan ekonomi yang dialami rakyat tidak lain akibat ulah penguasa? Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan pemerintah telah menyebabkan terjadinya pemiskinan sistematis. Inilah yang memengaruhi kehidupan keluarga masyarakat Indonesia, terlebih di tengah pandemi.

Dampak Racun Pemikiran Kufur

Selain faktor ekonomi, keretakan rumah tangga juga diakibatkan oleh pola fikir yang keliru atas standar kebahagiaan. Ideologi kapitalisme-sekuler yang menjadikan materi sebagai tolok ukur kebahagiaan telah meracuni pemikiran masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa kebahagiaan adalah ketika terpenuhinya materi. Sehingga, ketika materi tidak tercapai, kebahagiaan tidak terwujud dan memicu percekcokan dalam keluarga.

Pemikiran kufur lain yang juga telah meracuni pemikiran masyarakat adalah ide-ide feminisme. Ide ini tak henti-hentinya mengompori dan mempertentangkan peran gender yang berbeda agar setara. Akhirnya bangunan rumah tangga hanya dibentuk atas asas kemanfaatan dan kosong dari nilai ibadah. Rumah tangga semacam ini tentu sangat rapuh dan rentan terhadap guncangan. Misalnya, ketika mengalami kesulitan ekonomi, suami-isteri dengan mudahnya bercerai.

Sistem kapitalisme-sekuler yang dianut negeri ini telah menimbulkan banyak masalah, termasuk rapuhnya ketahanan keluarga. Ini pulalah yang menyebabkan ratusan perempuan di Purwakarta menjadi janda. Lantas adakah solusi mengatasi masalah ini?

Islam Menjamin Ketahanan Keluarga

Kesempurnaan Islam sebagai agama dan ideologi tak perlu diragukan lagi. Sistem ini tidak melulu mangatur masalah akidah dan ibadah. Iapun mampu menjamin ketahanan keluarga.

Berbeda dengan kapitalisme, sistem Islam merupakan sebuah konsep pemerintahan yang dilandaskan pada akidah Islam. Seluruh aspek bermasyarakat dan bernegara diatur dengan syariat Islam. Penerapan syariat Islam secara kaffah tidak hanya mewujudkan kesejahteraan rakyat, tapi juga ketenteraman hidup setiap warganya.

Sistem pemerintahan Islam memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sehingga mampu melahirkan generasi berkualitas. Hal ini dipastikan melalui penerapan serangkaian kebijakan yang lahir dari hukum syariat.

Islam mewajibkan kepada suami atau para wali untuk mencari nafkah. Negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal.

Adapun perempuan tidak harus bekerja keluar rumah. Mereka tidak perlu berpayah-payah mendapatkan uang karena telah dipenuhi suami atau walinya. Negara akan menindak suami yang tidak memenuhi kebutuhan keluarganya dengan baik.

Meski demikian, kedudukan perempuan tidak menjadi rendah di depan suaminya dan berpeluang besar dianiaya. Sebab, istri berhak mendapatkan perlakuan baik dari suaminya dan kehidupan yang tenang.

Kewajiban nafkah ada di pundak suami, yang bila dipenuhi akan menumbuhkan ketaatan pada diri istri. Pelaksanaan hak dan kewajiban suami-istri inilah yang menciptakan mawaddah wa rahmah dalam keluarga. Di sisi lain, standar kebahagian dalam Islam bukanlah materi melainkan keridhaan Allah semata. Seluruh anggota keluarga menjalankan peran dan fungsinya semata-mata demi meraih keridhaan Allah SWT.

Sedangkan terkait dengan kebutuhan pokok berupa jasa seperti keamanan, kesehatan, dan pendidikan, pemenuhannya mutlak sebagai tanggung jawab negara. Hal ini karena pemenuhan terhadap ketiganya termasuk ”pelayanan umum” dan kemaslahatan hidup terpenting. Negara berkewajiban mewujudkan pemenuhannya bagi seluruh rakyat, di mana seluruh biaya yang diperlukan ditanggung baitulmal.

Sungguh hanya dengan penerapan syariat Islam secara kaffahlah kesakinahan, kebahagiaan, dan kesejahteraan dalam keluarga dapat diwujudkan. Wallahu’alam.[]

Post a Comment for "Kapitalisme-Sekuler Sebabkan Rapuhnya Ketahanan Keluarga: Ratusan Perempuan Purwakarta Jadi Janda"