Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kaderisasi Ulama Perempuan Harus Sesuai Islam

saat ini ulama perempuan sangat langka. Program kaderisasi ulama perempuan sangat bagus untuk regenerasi mubaligah yang akan membimbing para muslimah di masa mendatang. Namun harus diingat, jangan sampai program kaderisasi yang dibutuhkan oleh umat ini terkotori oleh ide-ide batil yang berasal dari luar Islam. Jika itu terjadi, sama saja dengan mencampurkan yang haq (Islam) dengan yang batil, yang jelas dilarang oleh Allah SWT.

Oleh: Wati Ummu Nadia

Masjid Istiqlal telah meluncurkan 41 program baru dengan nama The New Istiqlal dengan memasukkan kaderisasi ulama perempuan sebagai salah satu programnya. The New Istiqlal ini disampaikan langsung oleh Imam Besar Nasaruddin Umar pada peringatan Milad Masjid Istiqlal ke-43 yang disiarkan di akun YouTube Masjid Istiqlal TV, Senin (22/2/2021) lalu (detik.com, 23/2/2021).

Nasaruddin mengatakan, program kaderisasi ulama perempuan yang dirancang dalam The New Istiqlal bisa menjadi yang pertama di dunia. Program ini dilatarbelakangi oleh minimnya ulama perempuan di Indonesia dan ambisi Istiqlal untuk mencetak ulama-ulama baru yang bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Nantinya para calon ulama perempuan akan mengkaji kitab-kitab sumber, khususnya Al-Quran dan hadits dalam perspektif kesetaraan gender. Sehingga diharapkan akan dapat mewujudkan kesetaraan dalam pengelolaan alam semesta.

Nasaruddin juga mengatakan program kaderisasi ulama perempuan ini adalah salah satu tindak lanjut atas nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), yang ditandatangani pada Jumat (19/2/2021). MoU itu berfokus pada pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berbasis masjid.

Memang benar, saat ini ulama perempuan sangat langka. Program kaderisasi ulama perempuan sangat bagus untuk regenerasi mubaligah yang akan membimbing para muslimah di masa mendatang. Namun harus diingat, jangan sampai program kaderisasi yang dibutuhkan oleh umat ini terkotori oleh ide-ide batil yang berasal dari luar Islam. Jika itu terjadi, sama saja dengan mencampurkan yang haq (Islam) dengan yang batil, yang jelas dilarang oleh Allah SWT.

Ide kesetaraan gender adalah ide yang muncul di Barat sebagai respon atas diskriminasi yang dialami perempuan selama berabad-abad yang lalu. Ide kesetaraan gender ini berpegang bahwa perempuan harus diperlakukan dan mendapat hak yang sama dengan laki-laki, tanpa ada perbedaan. Sekilas ide ini mengangkat derajat perempuan ke kelas yang tinggi. Padahal sejatinya menjerumuskan perempuan pada kehancuran.

Ketika kaderisasi ulama perempuan diaruskan dalam perspektif gender, maka akan tampak seolah-olah Islam mendiskriminasi dan tidak berpihak pada perempuan. Seolah-olah Islam tak mampu memuliakan perempuan. Aroma kriminalisasi terhadap ajaran Islam tampak semakin menguat. Ini tak lepas dari serangan pemikiran yang dilancarkan Barat ke negeri-negeri muslim. PBB sebagai alat penjajahan barat telah mengeluarkan General Recommendation 30 CEDAW yang menekankan negara untuk melindungi perempuan dari kekerasan berbasis gender akibat berbagai konflik, termasuk terorisme. Serangan pemikiran ini tidak akan berhenti selama ide kapitalisme sekuler masih mendominasi di wilayah kaum muslimin.

Di sisi lain, kaderisasi ulama perempuan berperspektif gender akan melahirkan rujukan publik yang mengaruskan moderasi dan penguatan ide sekulerisme. Padahal, pemahaman Islam moderat ini justru menjauhkan umat dari pemahaman Islam kaffah yang mampu menjadi pemersatu antargolongan.

Islam memiliki pandangan yang bertolak belakang dengan ide kesetaraan gender. Islam sebagai agama sempurna dan paripurna telah memenempatkan para wanita dalam posisi yang sangat mulia. Islam tidak pernah memandang wanita sebagai benda, sebagaimana yang dilakukan oleh Barat berabad lalu. Islam memberi penghormatan kepada wanita dengan posisinya sebagai al umm wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga).

Dengan perannya sebagai ibu, Islam menginginkan setiap wanita menjadi pendidik dan pencetak generasi yang bersyaksiyah (berkepribadian) Islam, yakni generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam yang kelak akan mampu memimpin peradaban umat manusia. Posisi ini mengharuskan setiap wanita menjadi orang yang cerdas, tangguh, berakhlakul karimah, dan memahami Islam secara utuh.

Sementara itu, dengan perannya sebagai pengatur rumah tangga, Islam menginginkan wanita memiliki kontribusi besar dalam menciptakan keluarga ideal, yakni keluarga yang harmonis, jauh dari konflik, serta senantiasa berada dalam ketaatan. Dua peran ini sangat penting untuk membentuk generasi ideal yang akan meninggikan kalimat Allah dengan dakwah dan jihad.

Untuk mewujudkan peran penting wanita tersebut, Islam mengharuskan negara (khilafah) menegakkan hukum-hukum yang menjaga dan menghormati hak-hak perempuan. Seperti hukum nafkah dan perlindungan bagi perempuan, hak menuntut ilmu yang seluas-luasnya bagi perempuan, juga hak untuk berkiprah dalam ranah publik tanpa meninggalkan peran utamanya sebagai al umm wa rabbatul bait.

Islam juga memberi kesempatan dan kewajiban kepada para wanita untuk berkiprah dalam aktivitas dakwah dan politik, termasuk di dalamnya adalah aktivitas untuk menngoreksi penguasa. Khilafah juga bertanggung jawab merealisasikan hukum-hukum yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga ideal, termasuk mencetak ulama yang akan berkontribusi dalam pembentukan keluarga ideal.

Sejatinya yang dibutuhkan umat Islam saat ini adalah lahirnya ulama-ulama yang menuntun umat menuju pemahaman Islam yang lurus. Sehingga umat mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Agar umat tidak terus-menerus dibodohi oleh ide-ide batil yang lahir dari pemahaman sekuler. Umat juga butuh ulama-ulama yang lantang menyampaikan koreksi kepada penguasa. Sebab, kebijakan penguasa yang berkiblat pada kapitalisme dan sekularisme inilah yang terbukti menyesatkan dan menyengsarakan umat. Munculnya ulama-ulama yang lurus ini diharapkan akan mampu membawa umat pada kebangkitan, yang ditandai dengan kesadaran umat untuk menjadikan akidah Islam sebagai dasar kehidupan.

Karena itu, kaderisasi ulama perempuan haruslah berdasar ajaran Islam yang lurus dan murni. Bukan malah menyesuaikan dengan perspektif gender dan prinsip moderasi, yang justru akan membawa umat pada kemunduran. Kaderisasi ulama perempuan haruslah untuk mencetak ulama pewaris nabi. Yakni ulama yang siap meluruskan penyimpangan di tengah masyarakat, meluruskan pemikiran umat, dan siap mengoreksi kezaliman penguasa. Kaderisasi ulama yang memiliki kompetensi seperti ini akan mudah diwujudkan ketika umat berada dalam naungan sistem khilafah.

Wallahu a'lamu bish shawab.[]

Post a Comment for "Kaderisasi Ulama Perempuan Harus Sesuai Islam"