Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Feminisme Merusak Harga Diri Para Perempuan

feminisme telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan bahkan telah dengan menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kegelapan. Karena kondisi kaum perempuan saat ini tak ada bedanya seperti perempuan di masa jahiliah, walau tampak terlihat tidak sama.

Oleh : Fadhillah Nur Syamsi (Mahasiswi STEI Hamfara Yogyakarta)

Dilansir dari tirto.id . International Women's Day atau Hari Perempuan Internasional 2021 diperingati pada 8 Maret 2021. Hari Perempuan Internasional diperingati untuk menyoroti wanita dan hak-hak mereka.

Mulai awal tahun 1900-an, IWD adalah “hari global yang merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan. Hari itu juga menandai seruan untuk bertindak mempercepat kesetaraan perempuan," demikian menurut situs resmi IWD. Kita semua bisa memilih untuk menantang dan menyerukan bias dan ketidaksetaraan gender. Kita semua dapat memilih untuk mencari dan merayakan pencapaian wanita.

UN Women mengumumkan tema Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret 2021 (IWD 2021) sebagai “Wanita dalam kepemimpinan: Mencapai masa depan yang setara di dunia COVID-19.”

Hal ini juga selaras dengan tema prioritas sidang ke-65 Komisi Status Perempuan, “Partisipasi penuh dan efektif perempuan, pengambilan keputusan dalam kehidupan publik, serta penghapusan kekerasan, untuk mencapai kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan dan anak perempuan ”, juga kampanye unggulan Kesetaraan Generasi, yang menyerukan hak perempuan untuk mengambil keputusan di semua bidang kehidupan, upah yang setara, pembagian yang sama atas perawatan tak berbayar dan pekerjaan rumah tangga, mengakhiri semua bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, serta layanan perawatan kesehatan yang menanggapi kebutuhan mereka.

Wanita berdiri di garis depan krisis COVID-19, sebagai pekerja perawatan kesehatan, pengasuh, inovator, pengorganisir komunitas dan sebagai beberapa pemimpin nasional yang paling teladan dan efektif dalam memerangi pandemi. Krisis telah menyoroti baik sentralitas kontribusi mereka maupun beban yang tidak proporsional yang ditanggung oleh perempuan.

Menurutnya, hal itu membanggakan di masa pandemi, secara nyata kaum perempuan telah menunjukkan peran yang signifikan. Tujuh perempuan kepala negara yang dipuji karena mengelola pandemi Covid-19 secara baik, yaitu Mette Frederiksen (Denmark), Kartin Jakobsdottir (Islandia), Sanna Marin (Finlandia), Angela Merkel (Jerman), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberf (Norwegia), dan Tsai Ing-wen (Taiwan).

“Kata-kata dan tindakan para perempuan pemimpin itu memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakatnya. Perempuan Indonesia di setiap masa menorehkan sejarah warisan kepemimpinan yang tidak hanya mengagumkan tetapi juga menginspirasi.”

Fakta Perempuan Saat Ini

Fakta menunjukkan bahwa sesungguhnya keberhasilan pemimpin perempuan menangani Covid-19 saja tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan perempuan. Faktanya, kondisi perempuan di dunia saat ini terpuruk dalam seluruh aspek kehidupan.

Menurut data PBB, 1/3 penduduk dunia hidup di bawah garis kemiskinan, 70% di antaranya adalah kaum perempuan (jurnalperempuan.com). Kondisi ini pun dialami Indonesia, negeri kaya raya tapi ironisnya lebih dari separuh penduduknya miskin, dan sebagian besarnya perempuan. Inilah yang menyebabkan kualitas hidup perempuan begitu rendah.

Sekitar Februari 2020, Polda Sulut mengamankan 20 anak muda dan menetapkan delapan di antaranya sebagai tersangka prostitusi anak di bawah umur. Prevalensi pelacuran anak di bawah 18 tahun, ada sekitar 30%. Sekitar 150.000 anak diperdagangkan untuk tujuan seksual (kompas.com, 06/02/2021).

Kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat. Di Jawa Timur, sepanjang 2020 terjadi 284 kasus dengan 551 korban ditangani LBH Surabaya. Bentuk pelanggaran yang kerap adalah KDRT, disusul kekerasan nonfisik. Sedangkan terhadap anak adalah penganiayaan, pemerkosaan dan pencabulan (liputan6.com, 24/12/2020).

Kemiskinan pun telah mendorong lebih dari 40 juta perempuan Indonesia terjebak dalam dunia kerja yang tak ramah dan tak memihak perempuan. Jutaan di antaranya hidup di kawasan industri yang kumuh untuk menjadi roda pemutar mesin-mesin pabrik milik para kapitalis dengan upah murah.

Sebagiannya lagi bekerja di sektor-sektor informal yang tak menjanjikan kemudahan. Jutaan lainnya berbondong-bondong menjadi buruh migran bahkan di antaranya menjadi korban sindikat perdagangan perempuan.

Mencari Akar Masalah

Fakta-fakta tersebut menunjukkan feminisme telah gagal menyelesaikan persoalan perempuan bahkan telah dengan menjerumuskan perempuan ke dalam jurang kegelapan. Karena kondisi kaum perempuan saat ini tak ada bedanya seperti perempuan di masa jahiliah, walau tampak terlihat tidak sama.

Kaum perempuan saat ini telah terbawa arus feminisme. Mereka menjadikan ide feminisme yang lahir dari sekuler kapitalis.

Mereka beranggap bahwa perempuan akan terselesaikan dengan membebaskan perempuan berkiprah di mana pun, terutama di ranah publik sehingga dapat dipandang baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Hanya Islam yang Menjamin dan Melindungi Hak dan Peran Perempuan

Sebagai sebuah sistem, Islam memiliki aturan yang komprehensif yang menjamin keadilan dan kesejahteraan bagi siapa pun, termasuk perempuan.

Juga sistem Islam yang memberi solusi atas setiap persoalan kehidupan yang berangkat dari pandangan yang universal mengenai perempuan. Yakni pandangan yang melihat perempuan sebagai bagian dari masyarakat manusia, yang hidup berdampingan secara harmonis dan damai dengan laki-laki dalam kancah kehidupan ini.

Islam juga menetapkan bahwa standar kemuliaan seseorang tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin, kedudukan, dan materi, melainkan berdasar kadar ketakwaan di hadapan Allah.

Karenanya, Islam menetapkan aturan yang adil dan harmonis yang akan menjamin kemuliaan hidup keduanya, dunia dan akhirat.

Adapun tentang peran perempuan, Islam telah menetapkan kepemimpinan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah (ummun wa rabbat al-bayt). Sebagai ibu, dia wajib merawat, mengasuh, mendidik dan memelihara anak-anaknya agar kelak menjadi orang yang mulia di hadapan Allah. Sebagai pengatur rumah suaminya, dia berperan membina, mengatur dan menyelesaikan urusan rumah tangganya.

Oleh karena itu, menjadi ibu merupakan peran yang sangat mulia dan memiliki nilai politis dan strategis, karena dari para ibu inilah akan lahir pemimpin-pemimpin umat yang tangguh, cerdas, dan berkualitas.

Penerapan syariat Islam secara kaffah dan konsisten oleh penguasa dan penjagaan/pengawasan yang ketat dari umat inilah yang akan menghantarkan pada tercapainya kemaslahatan hidup yang rahmatan lil ’alamin sebagaimana yang Allah janjikan. Tidak hanya perempuan yang termuliakan, umat secara keseluruhan pun akan memperoleh kebahagiaan dan kebangkitan yang hakiki.

Wallahu A'lam Bishowab

Post a Comment for "Feminisme Merusak Harga Diri Para Perempuan"