Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bom Rumah Ibadah, Jualan Radikalisme?

Ketidakadilan dalam pemberitaan dan terkesan ada keberpihakan membuat kasus ini terasa janggal. Sebagai contoh, ketika penyerangan terjadi pada masjid, pemberitaannya tidak seheboh saat ini.

Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi)

Serangan bom kembali terjadi. Kali ini terjadi di depan Gereja Katedral di Makassar, Sulawesi Selatan, (Minggu 28/3/2020). Menurut polisi, ledakan diduga berasal dari bom bunuh diri (Kompas, 29/3/21).

Apakah ini sebuah skenario upaya mengadu domba antar pemeluk agama, ataukah sentimen agama dari satu kelompok tertentu? agama manapun tidak akan mengajarkan kebencian terhadap sesama manusia.

Ketidakadilan dalam pemberitaan dan terkesan ada keberpihakan membuat kasus ini terasa janggal. Sebagai contoh, ketika penyerangan terjadi pada masjid, pemberitaannya tidak seheboh saat ini.

Malah penyelesaian kasusnya terkesan dipercepat, dengan menganggap pelaku sebagai orang gila. Tidak ada pernyataan yang mengaitkan dengan aksi radikalisme oleh pihak pemangku kebijakan.

Tapi ketika yang diserang itu berkenaan dengan rumah ibadah non Islam, kasusnya menjadi viral dan pihak istana merespon dengan cepat dengan mengucapkan belasungkawa.

Pengamat pun banyak melontarkan pernyataan pemboman ini berkaitan dengan radikalisme dan jama’ah Islam.

Seperti pernyataan Pengamat terorisme dari Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, Al Chaidar, yang dilansir oleh BBC Indonesia, 28 maret 2021 lalu, meyakini bahwa pelaku pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar merupakan bagian dari jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi ke ISIS.

Analisisnya didasarkan pada sasaran pengeboman yang serupa dengan insiden di Surabaya, Jawa Timur, pada 2018 dan Jolo, Filipina, pada 2019: sama-sama menyasar gereja Katolik.

Al Chaidar menduga, serangan tersebut merupakan balas dendam kelompok JAD atas penangkapan puluhan anggotanya dan tewasnya dua orang dari kelompoknya oleh Densus 88 Antiteror Polri pada awal Januari lalu di Makassar.

Terlepas dari benar tidaknya analisa tersebut, hal penting yang perlu dipahami oleh kita semua adalah tidak ada agama yang membenarkan tindakan kekerasan kepada sesama manusia apalagi hingga menodai rumah ibadah.

Jangan sampai peristiwa pemboman di rumah ibadah ini ditarik pembahasannya kemana-mana sehingga menimbulkan kegaduhan baru di masyarakat.

Semua warga negara memiliki hak yang sama dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing tidak dibenarkan memaksakan keyakinannya kepada orang lain dengan cara kekerasan apalagi sampai membom rumah ibadah.

Semua agama pasti tidak mengajarkan hal tersebut, kalaulah pemboman itu dikaitkan dengan kelompok Islam, apakah benar itu dilakukan berdasarkan agama yang diyakininya? Jangan-jangan itu merupakan sebuah rekayasa yang sengaja dibuat oleh pihak yang tidak menyukai Islam.

Mari berpikir cerdas, jika ajaran Islam mengajarkan kekerasan dan kebencian terhadap umat agama yang lain pastilah gereja-gereja yang ada sejak zaman belanda dahulu tidak akan bisa tegak hingga hari ini bahkan candi borobudur pun akan tinggal kenangan.

Tapi nyatanya semua rumah ibadah itu tetap eksis hingga hari ini. Malah sebaliknya umat Islam lebih banyak menelan duka dan hinaan di negeri mayoritasnya dan sering sekali ajarannya menjadi sasaran fitnah dan olokan yang tak beralasan.

Berkali-kali ajaran Islam dilecehkan, sudah sekian kali pula para ulamanya dipenjarakan, tapi umat Islam tidak pernah melakukan tindakan anarkis sama sekali.

Tidak hanya di Indonesia, bahkan di belahan bumi lain pun Islam selalu dijadikan sasaran ketidakadilan. Umat Islam Mynmar, uighur, palestina, suriah dan umat Islam di negeri lainnya sudah lebih dari cukup mengambarkan bagaimana umat Islam diperlakukan dengan kejam dan tidak adil.

Bahkan yang lebih mengherankan dan menyedihkan lagi ada yang mengaku sebagai umat Islam tapi pernyataan yang dilontarkannya lebih banyak menghina agamanya sendiri. Apakah mereka tidak takut akan adzab Allah Swt.

Sejatinya semua tindak kekerasan dan teror adalah perbuatan yang tidak pernah bisa diterima oleh nilai-nilai agama manapun.

Jangan sampai kita mau diadu domba oleh segilitir orang yang tidak menyukai kedamaian dan kesejahteraan hadir di Indonesia.

Menggoreng isu radikalisme yang dikaitkan dengan agama terutama Islam itu ibarat lagu lama yang diputar kembali. Sudahi saja semua sinetron ini, mari bersama-sama menfokuskan pikiran kita pada penyelesaian masalah yang sedang dihadapi saat ini yaitu mengakhiri pandemi.

Sudah saatnya negeri ini merumuskan panduan yang benar dalam menata kehidupan. Jangan lagi berdasar pada sistem yang rapuh bagaikan sarang laba-laba yang terlihat kuat tapi pada hakekatnya rapuh.

Semua kegaduhan yang terus menimpa negeri ini bukan karena adanya perbedaan keyakinan tapi karena adanya kepentingan dari pihak yang gila kekuasaan.

Islam selalu dijadikan sasaran karena ajaran Islam memiliki rumusan solusi yang universal yang bisa menumbangkan pihak yang gila kekuasaan tersebut.

Apa bukti Islam sebagai solusi universal bagi seluruh umat manusia. Tulisan ini akan berusaha menggambarkan bagaimana sistem Islam yang lebih dikenal dengan sistem Khilafah melindungi dan melayani umat non muslim ketika mereka berada dalam negara Islam.

Kehidupan Non Muslim (Ahlul Dzimmah) Dalam Sistem Islam

Tidak ada di dunia ini sistem yang mampu menjadikan masyarakatnya yang heterogen dapat hidup damai dan rukun selain sistem Khilafah, hal ini karena Khilafah telah memberikan jaminan yang luar biasa bagi non muslim atau ahlul dzimmah untuk melangsungkan kehidupannya.

Hal ini terlihat dengan jelas bagaimana syariat Islam memperlakukan ahlul dzimah yang meliputi seluruh muahid (orang-orang yang terikat perjanjian dengan Khilafah) dan musta’min (individu yang memasuki wilayah Khilafah dengan izin) dengan perlakuan yang sama dengan warga negara Islam lainnya.

Ada dua kategori ahlul dzimah yang pertama adalah Ahlul kitab yang terdiri dari umat yahudi dan nasrani dan yang kedua umat agama lainnya. Mereka diberikan kebebasan untuk menjalankan ajaran agamanya dalam hal menikah, bercerai, makanan, minuman dan aturan agama mereka lainnya.

Sebagaimana firman Allah Swt, yang artinya :
“Tidak ada paksaan dalam memasuki agama Islam”. ( TQs. Albaqarah : 256).

Ayat tersebut menyatakan bahwa negara Islam tidak diperbolehkan memaksa orang-orang non muslim untuk meninggalkan agama dan kepercayaan mereka. Namun, umat non muslim harus menerima aqidah Islam bila sudah menyakini Islam secara Intelektual.

Ini terbukti melalui fakta, bahwa hingga hari ini masih ada komunitas yahudi dan kristen yang tinggal di Timur Tengah walaupun negara Islam telah berkuasa selama 1300 tahun.

Inilah gambaran bagaimana ajaran Islam mengajarkan toleransi yang amat tinggi terhadap pemeluk agama lainnya. Bahkan ketika Islam diterapkan kehidupan para ahlul dzimmah dijamin oleh negara dalam memenuhi kehidupannya sebagaimana warga negara Islam lainnya.

Inilah ajaran Islam yang sebenarnya dan ini pernah diterapkan selama tiga belas abad lamanya. Maka adalah hal yang sangat tidak beralasan apabila mengkaitkan radikalisme dengan Islam karena hal itu sangat bertentangan dengan fakta sejarah.

Kalaupun ada yang kebetulan mengaku beragama Islam tapi melakukan tindak kekerasan berarti itu hanya kasuistik atau bisa jadi ada pihak-pihak yang mencoba untuk mengadu domba antar umat beragama agar menimbulkan keresahan di masyarakat. Wallahu’alam bishowab.

Post a Comment for "Bom Rumah Ibadah, Jualan Radikalisme?"