Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

AS dan China, Dua Adidaya Penjajah di Dunia

Kedua negara adidaya ini sama-sama memiliki tabiat untuk menjajah. Baik dalam mekanisme perang fisik sebagaimana yang dilakukan AS di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Begitupula China dengan teknik diplomasi dan investasi yang banyak memerangkap negara-negara lain yang pada akhirnya terjajah dan termiskinkan seperti Zimbabwe. Artinya, sesungguhnya penjajahan itulah yang menjadi motif munculnya dominasi persaingan antara China dan AS di kancah internasional dalam abad ini. Termasuk turunan masalahnya yang memunculkan konflik perebutan sumber daya alam, penguasaan terhadap pihak lain ataupun perebutan pengaruh di mata global.

Oleh : Miliani Ahmad

Amerika semakin menampakkan kegelisahannya setelah China semakin memperkuat pengaruhnya di Asia Pasifik dengan semakin agresifnya negeri Tirai Bambu tersebut meningkatkan kekuatan militernya. Bagi AS langkah China ini dianggap sebagai ancaman strategis jangka panjang dan terbesar bagi keamanan di abad 21. Hal demikian disampaikan oleh Laksamana Philip Davidson, Komandan Satuan Komando Militer AS Kawasan Indo-Pasifik dalam rapat senat AS pada Selasa (9/3).

Menurutnya, Beijing semakin berhasrat menandingi kekuatan militer di AS dengan memperluas pengaruhnya yang semakin ofensif.

Sementara di sisi lain China menjelaskan bahwa langkah mereka hanya bersifat defensif sebatas untuk mempertahankan diri dan bisa memberikan kontribusi bagi pertumbuhan tingkay kedamaian di dunia (cnnindonesia.com, 11/03/2021).

Apa yang menjadi kegelisahan AS sejatinya merupakan perkara lama yang tak bisa disembunyikan. China sebagai new emerging superpower telah mampu menampakkan keberpengaruhannya dalam mengubah peta kekuatan global saat ini.

Berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), diungkapkan bahwa tingkat keberpengaruhan China di kawasan Asia telah meningkat dengan sangat tajam. Bahkan untuk pertama kalinya, keberpengaruhan China telah melampaui AS pada 2019.

Di bidang ekonomi pertumbuhan ekonomi China jauh lebih melesat dibanding AS. Tercatat pada masa Januari-Oktober 2018 nilai perdagangan China terhadap negara-negara ASEAN mencapai Rp 6.709 triliun atau naik sekitar 13.7 persen dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sementara itu, perdagangan AS mengalami penurunan hampir 11 persen saat kedua adi daya tersebut terjebak dalam perang dagang.

Di bidang militer, AS semakin meradang dengan langkah sistematis China dalam menggalang kekuatan militernya. Bukan tanpa sebab AS bersikap demikian. Keberpengaruhan China dalam memperkuat militernya dapat mempengaruhi peta politik AS salah satunya di kawasan Asia Pasifik.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan yang menghadirkan banyak kekuatan negara-negara besar seperti China, Jepang, Rusia, dan AS. Masing-masing dari kekuatan besar ini akan terus berupaya untuk terus menciptakan arsitektur keamanan bagi kepentingan keamanan nasional negara mereka di kawasan tersebut.

Adanya China yang semakin membangun kekuatan militernya diasumsikan sebagai ancaman pengaruh bagi AS. Amerika tak ingin kehilangan semua aset dan juga semua sumber daya yang telah mereka miliki di kawasan tersebut apabila China semakin berjaya dengan kekuatan yang dimilikinya.

Motif Persaingan Kedua Negara Adidaya

Di dalam kitab Mafahim Siyasih yang ditulis Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dituliskan bahwa munculnya konflik dan perseteruan internasional memang akan selalu muncul hingga dunia ini berakhir. Perseteruan ini lebih dilatari oleh dua motif kepentingan. Yaitu motif cinta kepemimpinan dan kebanggan serta motif adanya dorongan di balik manfaat-manfaat material.

Untuk motif perseteruan AS dan China di abad modern ini bisa dikategorikan masuk kepada motif kedua yaitu adanya nafsu untuk menguasai manfaat-manfaat material. Baik AS dan China keduanya sama-sama berambisi untuk menguasai dunia dalam rangka keuntungan materi dan kepemilikan atas sumber daya alam di dunia.

Kedua negara adidaya ini sama-sama memiliki tabiat untuk menjajah. Baik dalam mekanisme perang fisik sebagaimana yang dilakukan AS di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Begitupula China dengan teknik diplomasi dan investasi yang banyak memerangkap negara-negara lain yang pada akhirnya terjajah dan termiskinkan seperti Zimbabwe. Artinya, sesungguhnya penjajahan itulah yang menjadi motif munculnya dominasi persaingan antara China dan AS di kancah internasional dalam abad ini. Termasuk turunan masalahnya yang memunculkan konflik perebutan sumber daya alam, penguasaan terhadap pihak lain ataupun perebutan pengaruh di mata global.

Dunia Membutuhkan Kepemimpinan Sahih

Berbeda dengan adidaya dunia yang berkuasa sepanjang lebih kurang 1300 tahun yakni khilafah Islamiyah. Sepanjang perjalanan peradaban, khilafah mampu memberikan rasa aman pada dunia. Setiap wilayah yang masuk dalam kepemimpinannya akan terjamin rasa sejahtera dan keadilan tanpa bayang-bayang ketakutan bagi semua rakyatnya. Khilafah mampu mewujudkan dirinya sebagai satu-satunya adidaya yang berhasil memberikan keberkahan bagi penduduk bumi. Semua bersandar pada landasan syariah yang berwujud dalam aplikasi periayahan.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S Al-A'raf : 96).

Berdasarkan dalil tersebutlah, khilafah mampu menata kepemimpinannya dan juga menata keimanan seluruh rakyatnya agar senantiasa melaksanakan seluruh hukum Allah. Pun sama dalam ranah pemerintahan. Khilafah dalam menjalankan politik dalam dan luar negerinya telah menetapkan garis lurus yang terikat dengan rambu-rambu syariah.

Saat khilafah menjalankan pengembanan Islam ke seluruh dunia berupa jihad dan futuhat, hal itu dilakukan semata agar dunia ini lepas dari segala kefasadan dan kegelapan. Islam diemban agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tanpa Islam, negeri-negeri manapun di dunia ini akan selalu diselimuti kezaliman, tirani dan kediktatoran penguasa serta elit yang memegang kekayaan.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta." (Q.S al-Anbiya’ : 107).

Ketika melaksanakan futuhat, hal tersebut tidaklah sama seperti imperialisme yang dijalankan negara-negara penjajah seperti saat ini. AS dan juga negara lainnya yang bertabiat sama ketika menjajah sebuah wilayah, pastilah negara tersebut akan mengalami kerusakan dan pengerukan kekayaan secara habis-habisan.

Khilafah tidaklah demikian. Saat mem-futuhat sebuah wilayah, khilafah akan mengurus wilayah tersebut dengan sebaik-baiknya. Wilayah tersebut akan masuk ke dalam wilayah daulah khilafah dan rakyatnya akan diperlakukan sebagai rakyat daulah tanpa membedakan suku, agama dan rasnya. Mereka semua berhak mendapatkan kesejahteraan sebagaimana rakyat daulah lainnya. Tidak boleh terjadi diskriminasi dalam distribusi pelayanan dan fasilitas penunjang lainnya.

Begitupun juga, semua SDA akan dikelola oleh khilafah dengan berbagai kemampuannya semata agar hasilnya maksimal dan bisa dinikmati oleh seluruh rakyatnya. Negara Khilafah akan mewujudkan hasil kekayaan tersebut dalam bentuk kemudahan akses fasilitas dan pemenuhan hajatul asasiyah yang dibutuhkan masyarakat. Bisa dalam bentuk tersedianya listrik, BBM, dan air bersih dengan harga murah bahkan gratis. Fasilitas kesehatan dan juga pendidikan akan hadir tersedia di tengah masyarakat dengan kualitas terbaik dan tanpa kerumitan untuk mendapatkannya.

Salah satunya, bisa kita rasakan perwujudannya dengan membaca salah satu sejarah kehebatan fasilitas yang dimiliki daulah khilafah.

Di Cairo, didapati rumah sakit Qalaqun. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit yang tak hanya digunakan untuk penyembuhan penyakit fisik tapi juga digunakan untuk penyembuhan sakit jiwa. Kemampuan daya tampung terhadap pasien pun sangat besar mencapai 8000 pasien. Rumah-rumah sakit pada masa khilafah pun dilengkapi dengan penunjang lainnya seperti dokter, perawat yang memiliki kompetensi teruji. Saking megah, mewah dan berkualitasnya rumah sakit yang dimiliki khilafah, banyak para pelancong asing yang menyengaja untuk berpura-pura sakit agar mereka bisa mencicipi fasilitas kemewahan tersebut tanpa mengeluarkan biaya.

Inilah yang membedakan antara khilafah sebagai adidaya yang sangat berbeda dengan AS maupun China yang sangat tamak dan berambisi untuk menguasai dunia dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri.

Maka, sudah selayaknya dunia kembali berkiblat kepada Khilafah Islamiyah sebagai adidaya yang sahih yang mampu menjadikan dunia penuh dengan kedamaian dan diselimuti cahaya keselamatan.

Wallahua'lam bish-showwab

Post a Comment for "AS dan China, Dua Adidaya Penjajah di Dunia"