Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ulama Perempuan adalah Pembela Islam, Bukan Pejuang Gender

Kontribusi ulama perempuan baik dalam sejarah hingga masa kini tentunya bukanlah sebagai simbol apalagi bukti pergerakan kesetaraan gender. Sebagai faqih fiddin tentu paham betul bahwa Islam diturunkan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan tanpa memandang musawwah (kesetaraan) namun memandang permasalahan dari sisi manusia (al-insan).

Oleh: Hilya Mafaza (Aktivis Dakwah Digital)

Ulama adalah penerang bagi umat tatkala tengah dilanda berbagai permasalahan. Ia membawa penerang hidup berupa solusi dari Alquran & Assunah serta Ijma’ dan Qiyas. Begitu problem umat terselesaikan, ulama tetap akan berdakwah bahkan menjadi guru bagi para umat yang menuntut ilmu Islam kepadanya.

Siapakah gerangan ulama? “Tradisi ulama adalah mengoreksi penguasa untuk menerapkan hukum Allah; kerusakan masyarakat adalah akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa itu akibat kerusakan ulama,” demikian tegas Imam Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin.

Kehadiran ulama perempuan tentunya sangatlah penting, sebab orang yang faqih fiddin, takut kepada Allah, mendakwahkan Islam di tengah umat serta mengoreksi kebijakan penguasa tidaklah pria saja. Baik hak & kewajiban dalam ahkamus syar’iyah tidaklah memandang gender, namun memandang objek hukum sebagai al-insan (manusia).

Sebutlah Aisyah r.a, selain sebagai anak dari Abu Bakar Ash Shiddiq, istri Rasulullah, ia pun seorang perawi hadis. Tidak itu saja, ia pun menguasai ilmu tafsir & fikih. Tentunya Aisyah pun menjadi tempat bertanya bagi umat serta mendakwahkan Islam semasa hidupnya. Bukankah ia adalah ulama perempuan?

Selepas masa Rasulullah, seorang Sayyidah Nafisah lahir pada tahun 145 hijriah. Ia adalah puteri seorang gubernur Madinah di masa Khilafah Al Ja’far Al Manshur. Kecerdasannya membuat ia mendengar banyak hadist dan menjadi pengajar hadist. Imam Syafi’i pun bahkan berguru kepadanya. Imam Ahmad bin Hanbal menyebutnya sebagai sosok yang zuhud. Demikianlah, Sayyidah Nafisah pun adalah salah satu ulama perempuan.

Cordoba pada abad 9 M pun memiliki seorang Fatimah binti Yahya. Ia seorang mujtahidah dan jelas sebagai ulama perempuan. Isteri dari ulama Al Mutahhar ibnu Muhammad Ibnu Sulaiman ibnu Muhammad ini bahkan membantu suaminya tatkala menemukan masalah hukum yang tak mampu dipecahkan.

Kontribusi ulama perempuan baik dalam sejarah hingga masa kini tentunya bukanlah sebagai simbol apalagi bukti pergerakan kesetaraan gender. Sebagai faqih fiddin tentu paham betul bahwa Islam diturunkan untuk memecahkan berbagai permasalahan kehidupan tanpa memandang musawwah (kesetaraan) namun memandang permasalahan dari sisi manusia (al-insan).

Maka sungguh lucu bila eksistensi ulama perempuan adalah untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Justru sebenarnya adalah untuk lebih memperjelas posisi solusi dari permasalahan perempuan dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat & keluarga.

Poin – poin yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman antara Kemen PPPA dengan Badan Pengurus Masjid Istiqlal yang diantaranya yaitu pengarusutamaan gender dan pemenuhan hak anak dalam program masjid & peningkatan kualitas dan kuantitas ulama yang responsif gender dan peduli hak anak, khususnya kader ulama perempuan yang menguasai keilmuan Islam berbasis gender melalui pemahaman Islam yang moderat sudah semestinya wajib diluruskan.

Sungguh disayangkan apabila gerak dari ulama perempuan justru malah menjadi rujukan untuk menguatkan moderasi Islam & sekularisme. "Sesungguhnya ulama adalah waratsatul anbiya" (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi). Bila sebagai pewaris nabi, maka layakkah memperjuangkan ide-ide Barat yang dibungkus secantik mungkin agar terlihat religius?

Islam menempatkan ulama dalam posisi yang mulia. Secara jelas Allah berfirman dalam Al Mujadallah ayat 11 yang artinya “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberikan ilmu beberapa derajat,”. Syekh Nawawi Al Bantani pun menjelaskan hadist “Muliakanlah ulama karena sesungguhnya mereka mulia dan dimuliakan di sisi Allah” bahwa ulama pun dimuliakan di sisi malaikat dan ia adalah orang pilihan di sisi Allah.

Ulama sebagai orang yang berilmu & menjadi pelita bagi umat tentu memiliki kontribusi yang besar dalam kehidupan masyarakat. Ia menjadi tempat rujukan bagi segala permasalahan umat, sebab umat tentu ingin solusi yang paripurna & diridhoi oleh Allah SWT.

Termasuk permasalahan keluarga, tentu umat mendambakan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Ulama pun pastinya diharapkan memberikan arahan serta solusi bagaimana membina keluarga dengan benar.

Hindun pernah mengadukan Abu Sufyan kepada Rasulullah karena suaminya tersebut pelit dalam menafkahi keluarga. Rasulullah yang mengetahui bagaimana kondisi perekonomian keluarga Hindun & Abu Sufyan justru mensolusikan agar Hindun mengambil sendiri harta yang diperlukan untuk nafkah keluarga dari Abu Sufyan.

Tindakan Rasulullah bukanlah pertanda musawwah, namun beliau mengingatkan Abu Sufyan bagaimana seorang qawwam seharusnya, tidak boleh melalaikan kewajiban suami untuk menafkahi keluarga secara layak.

Terkait kondisi perekonomian sebenarnya memang harus dilihat faktanya seperti apa. Apakah ketidakmampuan menafkahi adalah karena kondisi penguasa yang tidak mampu menyejahterakan rakyatnya ataukah memang karena malas?

Bila karena kelalaian penguasa dalam mengurus rakyatnya, tidak mengutamakan adanya lapangan bagi para lelaki yang memiliki kewajiban menafkahi keluarganya maka sudah semestinya ulama wajib mengoreksi kebijakan penguasa.

Ulama menjadi pengawal bagi penguasa, agar kebijakan yang diterapkan mampu tetap terjaga dalam koridor syariat. Ulama pun membina umat agar terbentuk ketakwaan individu. Hal ini tentu juga akan membentuk keluarga-keluarga yang bertakwa serta pemerintahan yang taat kepada syariat Allah.

Peran ulama tentu akan maksimal bila negara secara total menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan di bawah naungan Khilafah Islam.

Post a Comment for "Ulama Perempuan adalah Pembela Islam, Bukan Pejuang Gender"