Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERDUNU, bukti lemahnya akidah umat

mereka yang mengaku dukun dan paranormal di Banyuwangi bersatu deklarasikan Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara).

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih | Institut Literasi dan Peradaban

Benar-benar bencana besar menimpa Umat Islam, lebih besar dari banjir atau gunung meletus. Yaitu tergradasinya akidah Umat Islam sebab semakin jauhnya ilmu agama dari benak mereka. Dilansir dari detikNews.com, 3 Februari 2021, mereka yang mengaku dukun dan paranormal di Banyuwangi bersatu deklarasikan Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara).

Banyuwangi, kota di ujung timur pulau Jawa memang terkenal dengan nuansa mistisnya, mulai dari hutan Alas Purwo yang angker, kesenian rakyat dan bahkan sihir/ santet. Konon keahlian itu dalam rangka melawan penjajah Belanda, namun tak pernah luntur oleh zaman. Sebagai pilihan mereka yang punya laku (niatan) tertentu. Entah penglaris usaha, cinta ditolak, sengketa harta waris hingga penyelesaian iri dengki.

Maka, wajar jika profesi dukun sebagai subyek pelaku dunia mistis masih laku hingga hari ini. Saat negara lain sudah menerbangkan roket ke bulan, menerbangkan pesawat tanpa awak bahkan bayar transaksi tanpa uang alias e-money. Indonesia justru subur klenik padahal penduduk mayoritas Muslim.

Deklarasi digelar di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, Rabu (3/2/2021). Ketua Umum Perdunu, Abdul Fatah Hasan mengatakan Perdunu lahir untuk memberi manfaat kepada masyarakat. Selama ini, banyak yang tabu untuk membicarakan masalah dukun. Sehingga, niat baik dari para dukun atau paranormal ini diharapkan bisa memberikan solusi nyata bagi masyarakat.

"Memang selama ini kan tabu dibicarakan. Makanya kita publikasikan kepada masyarakat bahwa ada perkumpulan ahli spiritual di Banyuwangi," ujarnya kepada wartawan seusai deklarasi. "Kita segmentasikan keahlian dukun yang ada. Misal pengobatan dari medis hingga non medis. Ada pula tentang psikologis, dari yang logis dan non logis. Bisa seperti penglaris hingga jabatan itu ada segmentasinya," tambahnya.

Mirisnya, deklarasi ini dibidani pengasuh Ponpes, yaitu Ponpes Al-Huda Blimbingsari, Tegalsari. Lembaga yang identik dengan kajian dan pembelajaran Alquran, As Sunah berikut tsaqofah Islam yang lainnya. Sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri dan sekaligus kegagalan negara dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya, sebab dukun lebih dianggap bisa menyelesaikan persoalan hidup mereka di segala aspek.

Sekretaris Umum Pedunu, Ali Nur Fatoni mengatakan Pedunu hadir untuk mengubah paradigma masyarakat tentang dukun yang negatif. Selama ini, kata dia, dukun menjadi orang yang dibutuhkan, namun eksistensinya tidak muncul. Bahkan cenderung disembunyikan (detikNews.com, 3/2/2021).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ”Siapa yang mendatangi para dukun peramal nasib, lalu ia membenarkan apa yang mereka katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang turun kepada Muhammad (Alquran).” (HR Ahmad dari Abu Hurairah).

Sungguh, sangatlah jelas Islam melarang umatnya mendatangi dukun dan peramal nasib, apalagi mempercayainya. Praktik dukun dan mempercayai peramal sesungguhnya sudah menjadi kebiasaan lama manusia, sejak para Nabi dan Rasul diutus, praktik magis ini menjadi solusi bagi manusia yang memang memiliki sifat tamak dan tergesa-gesa. Islam kemudian datang menghapusnya. Menggantinya dengan pemahaman akidah yang lebih masuk akal dan memanusiakan manusia.

Islam datang mengajak kepada manusia untuk menggunakan akal yang memang telah dikaruniakan Allah SWT sebagai pembeda baik dan buruk, banyak ayat Alquran yang kemudian mengajak manusia untuk memahami Allah SWT sebagai sang Khaliq dan Mudabbir. Allah SWT berfirman dalam QS Luqman :24 yang artinya:

”Sesungguhnya, pengetahuan akan hari kiamat, turunnya hujan, pengetahuan janin yang ada dalam rahim, pengetahuan akan perbuatan manusia esok harinya, pengetahuan akan waktu berakhirnya bumi, semuanya, hakikatnya hanya Allah SWT yang tahu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahawaspada.”

Lantas mengapa klenik dan sesuatu yang berbau magis marak kembali, tak lain dan tak bukan karena pengaruh sistem yang hari ini diterapkan yaitu berasas sekular atau memisahkan agama dari kehidupan dalam kehidupan bermasyarakat hingga bernegara. Ketika manusia dihadapkan pada persoalan, penyelesaiannya yang seharusnya bersumber dari Al-Qur'an dan As sunnah kini diganti dengan hukum manusia.

Akibatnya ada pertentangan dan jatuhnya justru kezaliman, sebab aturan manusia yang diterapkan justru menimbulkan masalah baru, hidup menjadi lebih sempit dan sulit. Edukasi dan pensuasanaan keimanan di tengah masyarakat yang kesulitan pun tak ada, sehingga ibaratnya rakyat berstatus yatim piatu tanpa periayahan hakiki. Kemusyrikan berjamaah menjadi sesuatu yang tak lagi aneh. Nauzubillah...

Muncullah pemikiran jalan pintas yang justru berlawanan dengan akidah, yang penting tujuan tercapai, pragmatis dan menghalalkan segala cara meski harus bersekutu dengan setan sekalipun melalui jasa para dukun. Apapun propaganda dukun, tetaplah ia manusia biasa yang akan mati dan terbatas tak abadi.

Jika sudah begini, akankah manusia bisa mencapai taraf hidup terbaik dan produktif? Tidak akan pernah, kecuali sebaliknya, karena menjadi budak setan dan jauh dari Rahmat Allah SWT. Wallahu a'lam bish showab.

Post a Comment for "PERDUNU, bukti lemahnya akidah umat"