Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Beras Impor Rembes : Mafia Untung, Petani Buntung

Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian menjadi sektor utama mata pencaharian penduduk. Selain itu, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam yang tersebar merata di seluruh wilayah baik di darat maupun di perairan. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki hasil pertanian yang melimpah.

Penulis : Sri Indrianti (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian menjadi sektor utama mata pencaharian penduduk. Selain itu, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam yang tersebar merata di seluruh wilayah baik di darat maupun di perairan. Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki hasil pertanian yang melimpah.

Salah satu hasil pertanian yang menjadi andalan Indonesia adalah beras. Menurut data BPS tercatat produksi beras pada tahun 2020 mencapai 31,63 juta ton. (cnbcindonesia.com, 16/10/2020)

Dengan melimpahnya produksi beras, semestinya Indonesia berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Tak perlu lagi melakukan impor beras. Sebagaimana pernyataan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bahwa stok beras aman hingga Juni 2021.

Namun, ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan. Diketahui bahwa beras impor Vietnam rembes ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Jakarta. Beras Jasmine asal Vietnam tersebut dijual dengan harga 9.000 per kilogram. Padahal beras Jasmine harganya kisaran 16.000 per kilogram. (kompas.com, 25/1/2021)

Rembesnya beras Jasmine yang ternyata isinya beras biasa tersebut mengkhawatirkan para pedagang. Sebab jika beras impor tersebut beredar secara meluas, para pedagang dan petani lokal yang bakal menerima kerugian. Beras impor yang beredar di pasar induk tersebut sejumlah 300 ton. Angka yang cukup besar dan mencengangkan.

Kisruh Beras

Dibenarkan memang Indonesia melakukan impor beras khusus dari Vietnam. Khusus karena beras tersebut tidak beredar di kalangan masyarakat umum secara luas. Yakni hanya untuk restoran dan masyarakat kelas atas.

Bisa jadi karena pembelian oleh kalangan khusus tersebut berkurang maka diedarkan ke masyarakat secara luas. Apalagi ternyata antara isi dengan tulisan yang tertera di karung beras tidak sinkron, tertulis beras Jasmine namun isinya beras premium biasa.

Persoalan beras seperti ini harus segera diselesaikan secara tuntas. Apabila dibiarkan berlarut sangat memungkinkan beras yang rembes ke pasar jumlahnya akan lebih banyak lagi. Apalagi stok beras di Indonesia cukup memadai dan tak terjadi kekurangan.

Tak bisa dipungkiri dunia beras yang sering kisruh ini disinyalir karena adanya mafia yang bermain. Pihak yang meraup keuntungan saat petani dirugikan dengan beredarnya beras impor tersebut. Tak peduli dengan tindakannya akan membuat petani dan pedagang hancur lebur.

Islam Solusi Persoalan Pangan

Persoalan pangan di negeri ini seakan tidak ada habisnya. Padahal Indonesia merupakan negara produsen beras dengan hasil produksi yang cukup besar. Namun, nyatanya keadaan ini tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan secara ekonomi sulit mencukupi kebutuhan beras sebagai bahan pangan sehari-hari. Akibatnya angka gizi buruk anak pun masih cukup tinggi.

Pemerintah semestinya mampu menjamin kebutuhan beras masyarakat dengan melakukan distribusi pangan yang merata ke seluruh penjuru wilayah. Sayangnya hal itu belum dilakukan di negeri ini. Akibatnya banyak tangan-tangan serakah mafia yang memanfaatkan kesempatan meraup keuntungan dalam persoalan beras.

Bukan rahasia lagi penguasa di negeri ini kebijakannya banyak dijamah oleh pengusaha. Sehingga tak bisa bersikap tegas terhadap adanya mafia yang bermain salah satunya dalam kisruh beras.

Dalam Islam, Khilafah menjamin kebutuhan pangan merata untuk seluruh masyarakat. Tak akan dibiarkan satu individu pun yang mengalami kekurangan bahan pangan. Bahkan, Khilafah melakukan pengawasan antara penjual dan pembeli. Ada Qadi Hisbah yang patroli di pasar-pasar. Apabila ada kejadian yang mencurigakan seperti penimbunan barang maka dengan cepat bisa diselesaikan tanpa menunggu waktu lama.

Selain itu, Khilafah akan mendorong terbentuknya ketahanan pangan. Karena pangan merupakan sektor yang utama dalam mewujudkan kemandirian suatu negara. Apabila stok pangan memadai maka Khilafah tidak mudah melakukan impor.

Untuk itu, ketahanan pangan hanya bisa terwujud di bawah naungan Khilafah. Karena Khilafah senantiasa memperhatikan sektor pertanian. Memberikan fasilitas terbaik demi terjaminnya kualitas. Sektor pertanian inilah yang menjadi kunci terbentuknya ketahanan suatu negara yang berdaulat.

Wallahu a'lam bish showab

Post a Comment for "Beras Impor Rembes : Mafia Untung, Petani Buntung"