Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Benarkah Dinar dan Dirham Sebuah Solusi?

Dinar dan dirham sedang ramai diperbincangkan akhir akhir ini. Apalagi setelah pemerintah menangkap Zaim Saidi, founder Pasar Muamalah. Sebuah lembaga yang fokus bergerak dalam promosi dinar dan dirham. Penangkapan tersebut, menuai kecaman dari berbagai pihak karena dianggap sebagai bentuk kriminalisasi terhadap ajaran Islam.

By Ummu Azka (Pemerhati Kebijakan Publik)

Dinar dan dirham sedang ramai diperbincangkan akhir akhir ini. Apalagi setelah pemerintah menangkap Zaim Saidi, founder Pasar Muamalah. Sebuah lembaga yang fokus bergerak dalam promosi dinar dan dirham. Penangkapan tersebut, menuai kecaman dari berbagai pihak karena dianggap sebagai bentuk kriminalisasi terhadap ajaran Islam.

Selain itu, pasal yang menjeratnya pun dipertanyakan. Jika alasannya pasar tersebut tidak menggunakan rupiah, nyatanya praktik ini telah banyak dilakukan terutama di wilayah perbatasan dan tempat wisata.

Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi, KH Anwar Abbas, membandingkan dengan banyaknya penggunaan uang asing termasuk dolar dalam transaksi wisatawan asing di Bali. Padahal, transaksi tersebut membawa dampak negatif terhadap perekonomian nasional karena banyaknya transaksi yang menggunakan mata uang asing akan menurunkan permintaan terhadap rupiah.

Sementara itu, transaksi Pasar Muamalah di Depok, tidak menggunakan mata uang asing. Dinar dan dirham yang digunakan bukan mata uang resmi suatu negara melainkan koin dari emas dan perak yang dibeli dari PT Aneka Tambang (Antam) atau dari pihak lainnya.

Tak dapat dipungkiri, bergulirnya fakta di atas tak lepas dari kejenuhan sebagian masyarakat dunia tak terkecuali Indonesia kepada pergolakan ekonomi dengan sangat cepat, yang saat ini dikendalikan oleh kapital yang cenderung mudah kolaps dan akhirnya secara nyata mengakibatkan kerugian signifikan. Ajakan terhadap alternatif lain dalam berekonomi membuat Islam dengan sistem ekonominya mengemuka ke permukaan. Bukan tanpa sebab, bagaimanapun dunia tak bisa menutup mata terhadap keberhasilan kinerja Islam dengan peradanannya yang pernah gemilang di masa silam. Tak tanggung tanggung, 13 abad menjadi bukti nyata bahwa Islam termasuk sistem ekonominya menjadi yang layak untuk diperhitungkan. Kemudahan akses informasi serta semakin terbukanya pemikiran masyarakat membuat dinar dan dirham akhirnya mendapat tempat.

Kondisi demikian rupanya menuai pro dan kontra. Sebagian menilai masuknya dinar dirham sebagai alternatif mata uang serta pilihan investasi akan menggerogoti keutuhan NKRI. Pasalnya, kedua mata uang emas dan perak tersebut diklaim bukan berasal dari Indonesia. Melainkan dari tanah Arab. Geliat perkembangannya di negeri ini dikhawatirkan akan menggeser rupiah maupun dolar sebagai mata uang serta pilihan investasi yang selama ini dikenal masyarakat.

Wapres Ma’ruf Amin mengatakan, praktik Pasar Muamalah ini tidak sesuai prinsip-prinsip ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Indonesia telah memiliki regulasi dan lembaga keuangan berbasis syariah yang telah mengakomodasi kegiatan ekonomi sesuai dengan sistem keuangan nasional.(cnnindonesia.com)

Mencuatnya kontroversi Dinar dan Dirham tak lepas dari berbagai kepentingan. Pakar Ekonomi Syariah Dr. Arim Nasim mengatakan, hal itu menunjukkan syariat Islam diterima jika sesuai kepentingan politik dan hawa nafsu penguasa. Lebih jauh, praktik Pasar Muamalah di Depok yang menggunakan dinar dirham sebenarnya mengancam ekonomi kapitalisme, karena Zaim Saidi dan komunitasnya kerap mengopinikan bahayanya riba dan fiat money. (mediaumat.news, (5/2/2021) . Kegagalan sistem kapitalisme dalam menciptakan kesejahteraan dan keadilan, juga volatilitas dan ketidakstabilan yang membelenggu perekonomian, ditambah siklus krisis yang terus membayangi ekonomi negara di dunia, telah menjadi bukti otentik bahwa sistem ekonomi kapitalisme tak layak dipertahankan.

Penyebab utama ketidakstabilan dan tingginya inflasi adalah akibat sistem mata uang yang dipakai dunia saat ini adalah fiat money, suatu sistem mata uang hampa (kertas) tanpa back up emas.

Kegagalan dan kezaliman sistem fiat money telah mendorong para pakar ekonomi, baik muslim ataupun Barat—seperti William Shakespeare dari United Kingdom—untuk mengembalikan kembali sistem mata uang emas yang dulu telah sukses membawa keadilan.

Keunggulan Dinar Dirham

Dinar dan dirham memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan uang kertas fiat money. Pertama, dinar dan dirham memenuhi unsur keadilan dibandingkan fiat money sebab memiliki basis yang riil berupa emas dan perak. Sebaliknya, fiat money sama sekali tidak dijamin dengan emas dan perak.

Nilai yang tercetak pada uang kertas fiat money tidak akan sama dengan nilai intrinsiknya. Hal ini memunculkan ketidakadilan. Otoritas moneter yang menerbitkan mata uang sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari selisih nilai nominal yang tertera dengan nilai intrinsiknya. Sebaliknya, dinar dan dirham jelas adil karena antara angka yang tertera dan nilai intrinsiknya sama.

Kedua, dinar dan dirham lebih stabil dan tahan terhadap Inflasi. Berdasarkan fakta sejarah, emas dan perak merupakan jenis mata uang yang relatif stabil dibandingkan sistem uang kertas fiat money. Bagaimanapun kuatnya perekonomian suatu negara, jika sistem penopangnya menggunakan uang kertas, negara tersebut rentan terhadap krisis dan cenderung tidak stabil.

Bahkan beberapa kejadian yang berkaitan dengan krisis, salah satunya dipicu karena penggunaan sistem uang kertas fiat money. Penggunaan uang kertas bisa dipastikan akan membawa rentetan inflasi.

Hal ini berbanding terbalik dengan dinar dan dirham yang berbasiskan riil emas dan perak. Penggunaan dinar dan dirham akan lebih stabil karena nilai nominal yang tertera setara dengan nilai intrinsiknya.

Ketiga, dinar dirham memiliki aspek penerimaan yang tinggi. Termasuk dalam pertukaran antarmata uang atau dalam perdagangan internasional. Dinar dan dirham tidak memerlukan perlindungan nilai karena nilai nominalnya benar-benar dijamin penuh oleh emas dan perak.

Dilihat dari faktor pendukung di atas, dinar dan dirham layak disebut sebagai solusi bagi krisis moneter jika disandingkan dengan sistem penopang yang menjadi penyangganya. Yakni sistem ekonomi islam yang dijalankan secara totalitas. wallahu alam bishshowab.

Post a Comment for "Benarkah Dinar dan Dirham Sebuah Solusi?"