Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Wafatnya Ulama Laksana Bintang Padam

Duka kembali menyapa 3 hari pasca wafatnya Syeikh Ali. Siang 17 Januari 2021 seorang Kiai pejuang tegaknya Khilafah menghembuskan nafas terakhir. Ialah Kyai Mahmudi Syukri seorang ulama bersahaja, Zuhud, sederhana yang tinggal dalam pondok sederhana di tengah sawah Kota Batu. Kebersahajaaan beliau serta ilmu yang beliau milikilah yang membuat pondok sederhana ini mampu mencetak para ulama dan orang-orang alim baru. Kini, umat benar-benar merasa kehilangan dan terus bertanya, kemana lagi akan mengais ilmu jika beliau wafat?

Oleh: Choirin Fitri (Muslimah Kota Batu)

Pertengahan bulan Januari tepatnya 14 Januari 2021 dunia gempar. Bukan karena tsunami atau gempa bumi. Tapi, seorang Ulama ternama asal Madinah yang memilih negeri +62 sebagai tempatnya berdakwah meninggalkan dunia. Syeikh Ali Jaber meninggalkan duka mendalam bagi negeri ini. Ucapan bela sungkawa. Puisi. Tulisan. Pembicaraan mengarah pada kematian seorang pengemban Al Qur'an. Bahkan, sampai tulisan ini dibuat cerita tentang kemuliaan beliau terus berseliweran.

Duka kembali menyapa 3 hari pasca wafatnya Syeikh Ali. Siang 17 Januari 2021 seorang Kiai pejuang tegaknya Khilafah menghembuskan nafas terakhir. Ialah Kyai Mahmudi Syukri seorang ulama bersahaja, Zuhud, sederhana yang tinggal dalam pondok sederhana di tengah sawah Kota Batu. Kebersahajaaan beliau serta ilmu yang beliau milikilah yang membuat pondok sederhana ini mampu mencetak para ulama dan orang-orang alim baru. Kini, umat benar-benar merasa kehilangan dan terus bertanya, kemana lagi akan mengais ilmu jika beliau wafat?

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah bahwa matinya seorang ulama memang benar-benar musibah. Musibah karena tak ada lagi tempat bertanya tentang ilmu agama. Musibah karena tak ada lagi tempat mengais ilmu. Musibah karena tak ada lagi sosok teladan generasi mulia yang bisa dilihat nyata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam telah menegaskan dalam sabdanya:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Sungguh indah perumpamaan yang dibuat Rasulullah. Matinya seorang ulama laksana bintang yang padam. Karena, memang ulamalah yang membuat dunia ini indah. Indah dengan tutur kata yang disampaikan. Indah dengan tindak tanduk yang menawan. Serta, indah dengan perjuangan menegakkan Al Qur'an yang tak pernah terlewatkan. Indah pula sebagai teladan dalam penegakkan Khilafah Islamiyyah.

Ya, ulama adalah bintang. Hingga, kematiannya ditangisi dan disesali banyak orang beriman. Namun, hanya mereka yang berimanlah yang tahu bagaimana rasanya kehilangan ulama. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang tidak merasa berduka atas meninggalnya seorang ulama berarti ia harus mengecek lagi keimanannya.

Tak cukup hanya berduka. Kaum muslimin yang memiliki iman musti bersegera untuk melakukan sesuatu. Mencetak generasi ulama harus dilakukan. Karena, jika ada satu masa yang tidak ada ulama di dalamnya niscaya kehancuran masyarakat akan tampak nyata.

Kini, saat satu per satu ulama dicabut nyawanya telah terasa keberkahan ilmu dan amal telah tercabut pula. Apalagi jika para ulama terus dipanggil kembali menghadap Allah maka akan tampak pula keberkahan negeri ini pelan tapi pasti akan pergi.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali mengingatkan dengan sabdanya,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“ (HR. Bukhari)

Sungguh, amat ngeri apa yang telah dikabarkan Rasulullah ini. Jika ulama tak ada, maka kita akan merujuk pada orang bodoh. Orang yang bukannya akan membuat kita kembali ke jalan kebenaran. Tapi, akan menyesatkan kita dengan kesesatan yang nyata. Nauzubillah mindzalik.

Dengan demikian, mencetak generasi ulama tidak bisa ditunda lagi. Kita tak cukup hanya mengandalkan negeri yang telah disuntik ideologi sekulerisme sehingga agama enggan jadi pedoman kehidupan pun bernegara. Kita juga tak bisa mengandalkan negeri yang menerapkan demokrasi yang menjadikan manusia sombong dengan menerapkan hukum buatan manusia sendiri. Kita tak bisa mengandalkan kurikulum pendidikan yang mematikan peran agama dalam kehidupan.

Kita harus berjuang bersama mencampakkan demokrasi sekuler dan mengambil Islam sebagai jalan hidup. Generasi ke depan musti dikenalkan bahwa Islam tak hanya agama ritual. Islam adalah sebuah pandangan hidup -ideologi- yang darinya terpancar semua aturan kehidupan. Islam adalah jalan satu-satunya untuk mencetak generasi ulama dan menyelamatkan negeri ini serta seluruh dunia dari kehancuran. Insya Allah dengan kita berjuang mencetak generasi ulama dengan menjadikan Islam panduan negeri ini akan kembali mulia serta janji Allah akan tegaknya Khilafah akan segera datang. Wallahu a'lam.

Post a Comment for "Wafatnya Ulama Laksana Bintang Padam"