Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Utang Indonesia Menggunung Seperti Everest, Sistem Syariat Islam Kaffah Bisa Melunasinya

Mustahil. Karena demokrasi selama ini hanya jadi alat untuk merampas SDA Indonesia. Bahkan banyak wakil rakyat yang menjadi "bawahannya" para kapitalis untuk menjarah semua jenis kekayaan negara.

Oleh: Abu Mush'ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Asal NTT)

Indonesia telah puluhan tahun bebas dari penjajahan fisik. Belanda telah angkat kaki tetapi sistem jahiliyah sekulernya masih terus bercokol.

Diantara efek negatif sistem sekuler pada kehidupan di tanah air adalah semakin memburuknya ekonomi negara. Salahsatu indikator yang bisa dilihat adalah semakin membesarnya Utang negara.

Padahal sebagai negara yang merdeka dalam naungan demokrasi harusnya negara semakin bertambah makmur dan mensejahterakan rakyatnya. Terbukti demokrasi yang dilindungi oleh kapitalisme hanya memperkaya golongan tertentu dan menambah beban negara.

Terkait utang, Indonesia tak luput dari perhatian. Laporan Bank Dunia menguak jika Indonesia termasuk ke dalam 10 negara berpendapatan kecil-menengah dengan jumlah utang luar negeri terbesar pada 2019.

Tepatnya, Indonesia berada pada posisi ke-6 (daftar tanpa memasukkan China) dengan total utang USD 402,08 miliar atau sekitar Rp 5.907 triliun (kurs Rp 14.693 per USD) di 2019. Terdiri dari utang jangka panjang USD 354,5 miliar dan jangka pendek USD 44,799 miliar.

Adapun utang Indonesia kembali naik di 2020. Bank Indonesia (BI) melaporkan jika hingga Agustus 2020, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi USD 413,4 miliar, atau sekitar Rp 6.074 triliun (Liputan6.com, 21 Oktober 2020).

Lalu bagaimana cara melunasinya? Apakah rakyat harus terus percaya terhadap demokrasi? Apakah demokrasi mampu mengalahkan kapitalisme dan bisa membuat negara melunasi semua Utangnya?

Mustahil. Karena demokrasi selama ini hanya jadi alat untuk merampas SDA Indonesia. Bahkan banyak wakil rakyat yang menjadi "bawahannya" para kapitalis untuk menjarah semua jenis kekayaan negara.

Maka solusinya adalah ganti sistem. Buang demokrasi bersama kapitalisme plus sistem ekonomi neoliberal. Kemudian instal ideologi Islam dalam bingkai Khilafah.

Khilafah bisa melunasi utang Indonesia. Caranya dengan mengambilalih kekayaan SDA dari tangan kapitalis dan mengembalikannya ke tangan negara.

Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya agar SDA dikelola oleh negara. Sehingga negara mampu memakmurkan semua warganya.

Ada 300an SDA yang dikuasai kapitalis. Setiap lahan SDA keuntungannya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan triliunan per tahun. Tak sampai setahun Khilafah bisa melunasi Utang negara.

Setelah utang dilunasi, utang baru tidak akan dicetak untuk menghentikan aktivitas ribawi yang menyengsarakan rakyat dan negara.

Hasil dari SDA akan dimaksimalkan negara untuk membiayai layanan kesehatan dan pendidikan secara gratis bagi seluruh warga negara. Dan harus diingat, pendapatan negara bukan saja berasal dari SDA, ada juga Fa'i, Kharaj, Ghanimah, Zakat dll.

Dalam sistem Islam pajak yang merupakan pendapatan ala kapitalisme akan dihapus. pajak hanya berlaku ketika kas negara mengalami defisit, Aktivitas ribawi akan dihilangkan dan jual beli difasilitasi.

Maka jika Indonesia memilih Khilafah, berbagi masalah keuangan bisa diatasi. Layaknya dulu dalam sejarah Islam, Khilafah pernah mencontohkan betapa kayanya Kaum Muslimin.

Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (era Khilafah Umayyah), tidak dijumpai orang yang berhak menerima zakat karena standar ekonomi masyarakat sudah mapan. Ini lah yang hilang dalam alam demokrasi dimana yang kaya semakin kaya. Sedangkan yang miskin jumlahnya jutaan dan harus menanggung utang negara ribuan triliunan rupiah.

Mari bersama-sama tegakkan Khilafah agar umat tertolong. Dan para pengembannya mendapatkan keridhoan dan kemuliaan di sisi Allah SWT. []

Bumi Allah SWT, 2 Januari 2021

#DenganPenaMembelaDunia

#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Post a Comment for "Utang Indonesia Menggunung Seperti Everest, Sistem Syariat Islam Kaffah Bisa Melunasinya"