Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tinjauan Kritis Ekonomi Kapitalisme Prespektif Ekonomi Sosialisme

sistem ekonomi sosialisme kembali menjadi perbincangan. Apakah ideologi ini mampu menyelesaikan problem yang tak bisa dipecahkan ideologi kapitalisme? Maka, untuk melihat tawaran yang diberikan sosialisme, kita harus membahas terlebih dahulu sejarah dan filos

By Kanti Rahmillah,M.Si

Mekanisme pasar bebas yang menjadi andalan sistem ekonomi kapitalisme, dinilai gagal dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi. Alih-alih mensejahterakan, sistem ini malah menciptakan ketimpangan yang sangat tinggi. Trickle down effect yang menjadi teori pemerataan ala kapitalisme pun malah menciptakan ketidakadilan pada setiap lapisan masyarakat.

Maka dari itu, sistem ekonomi sosialisme kembali menjadi perbincangan. Apakah ideologi ini mampu menyelesaikan problem yang tak bisa dipecahkan ideologi kapitalisme? Maka, untuk melihat tawaran yang diberikan sosialisme, kita harus membahas terlebih dahulu sejarah dan filosofi yang menjadi dasar sistem ini?

Sejarah Sosialisme

Pendidri paham ekonomi sosialisme adalah Karl Marx. Ia mengkritik keras paham ekonomi aliran klasik. Baik itu paham markantilisme ataupun paham yang digagas oleh Adam Smith dan murid-muridnya, yang kemudian oleh Karl Marx disebut paham ekonomi kapitalisme.

Janji-janji sistem ekonomi kapitalisme, yaitu kesejahteraan dan keadilan, nyatanya tidak pernah terjadi dan sangat mengecewakan Karl Marx. Pada saat kapitalisme sedang berada pada puncaknya di Eropa, kehidupan Karl Marx malah nelangsa. Padahal dalam teori Kapitalisme, pertumbuhan ekonomi yang meningkat pesat seharusnya berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya.

Namun Karl Marx tak merasakan kesejahteraan itu. Ia beserta istri dan ke-6 anaknya hidup dalam satu rumah kecil, yang jauh dari layak sebagai tempat tinggal. Kematian satu per satu anaknya membuat Karl Marx Stres dan akhirnya menggelandang pergi ke Inggris. Singkat cerita, ia tinggal di perpustakaan Inggris dan membaca banyak buku-buku Adam Smith dan murid-muridnya, David Ricardo, Thomas Malthus dll.

Hingga Karl Marx memahami teori Adam Smith yang sedang digandrungi saat itu. Dan Karl Marx pun dinilai mampu mengkritik teori tersebut dengan komprehensif dan revolusioner, yang tertuang dalam karya fenomenalnya “Das Kapital”. Dan menjuluki teori Adam Smith sebagai teori klasik. Karena ajarannya kuno, percis seperti ajaran filsafat yunani kuno.

Cerdasnya Karl Marx, memberikan kritikan pada teori Adam Smith dengan menggunakan asumsi-asumsi dasar yang digunakan oleh aliran klasik, lalu dibalikan. Karl Marx memberikan kritik balik yang sangat telak terhadap paham ekonomi aliran klasik. Ada 3 teori yang mampu membuktikan bahwa kapitalisme adalah sistem busuk dan dzolim yang tak layak diterapkan dunia.

Pertama, Surplus Labor and Value Theory

Dalam membangun teorinya, Karl Marx berangkat dari teori nilai Adam Smith dan David Ricardo. Bahwa nilai suatu barang itu diukur dari seberapa banyak tenaga yang telah dicurahkan oleh pekerja untuk memproduksi suatu barang.

Misalnya, kenapa sebuah meja kayu harganya lebih murah daripada HP yang kecil? Karena tenaga yang diperlukan untuk membuat meja hanya satu orang. Sedangkan HP pembuatannya rumit, sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja dalam proses pembuatannya. Inilah mengapa nilai HP lebh tinggi dari meja, karena tenaga kerja yang dibutuhkan lebih banyak.

Namun, dengan adanya perubahan pola produksi dari primitif menjadi modern, hal demikian akan memunculkan ketidakadilan ekonomi. Pola produksi yang primitif memiliki sifat yang individual dari mulai kepemilikan, produksi, penjualan dan pembagaian keuntungan. Contohnya, penjual baso gerobak, usaha dan gerobaknya milik sendiri. Produksinya pun dari awal sampe akhir sendiri. Dijual keliling sendiri dan untungnya pun untuk sendiri.

Berbeda dengan pola produksi yang modern, kepemilikan dan pembagian keuntungan bersifat individual. Sedangkan produksi dan penjualan bersifat komunal. Contohnya, pabrik sepatu, produksi dan penjualannya komunal, yaitu dikerjakan banyak buruh. Sedangkan kepemilikannya individual, maka keuntungannya pun bersifat individual. Upah yang didapat buruh jumlahnya sangat kecil dibandingkan dengan keuntungan yang didapat si pemilik modal.

Pola produksi modern inilah yang berpotensi memunculkan ketidakadilan ekonomi, karena buruh yang bekerja keras, sedangkan majikan yang menikmati seluruh keuntungan. Karena upah buruh hanya dimaknai sebagai faktor produksi, sehingga kesejahteraan buruh tidak diperhatikan sama sekali.

Sedangkan dalam teori ekonomi kapitalisme, cara memperoleh keuntungan maksimal adalah dengan memaksimalkan revenue/pendapatan dan meminimumkan biaya produksi/cost production. Rumusnya TP = TR-TC ; TP=Total Profit, TR = Total Revenue, TP=Total Cost.

Adapun biaya produksi terdiri dari biaya yang sudah fix, seperti bangunan pabrik. Dan biaya variable yaitu apa yang akan kita produksi. Rumusnya, TC= TFC + TVC ; TC = Total Cost, TFC = Total Fix Cost, TVC = Total Variable. Sedangkan fix cost sudah tidak bisa diotak atik lagi. Dan yang memungkinkan untuk diotak atik adalah variable Cost.

Variabel Cost terdiri dari bahan baku dan tenaga kerja. Sedangkan yang mudah ditekan adalah tenaga kerja alias upah buruh. Itu artinya, agar memperoleh keuntungan yang maksimal, salah satu cara yag paling mudah adalah menekan upah buruh. Sedangkan total keuntungan seluruhnya diambil pemilik modal/majikan.

Fakta di atas dipertanyakan oleh Karl Marx terkait kesesuaiannya dengan teori nilainya Adam Smith. Jika nilai barang itu diukur dengan besarnya tenaga yang telah dikorbankan, seharusnya keuntungan yang besar di dapat oleh buruh, bukan majikan. Karena dalam pola produksi modern, yang bekerja adalah buruh. Sedangkan majikan tidak terlibat dalam produksi.

Sehingga, jika ternyata keuntungan diambil oleh majikan seluruhnya, maka telah terjadi surplus nilai tenaga buruh yang telah diambil oleh majikannya. Inilah yang menyebabakan Karl Marx menyimpulkan bahawa Kapitalisme adalah sistem dzolim dan sadis yang hanya menguntungkan pemilik modal.

Kedua, The Law of Capital Acumulation

Menurut Karl Marx, teori kapitalisme yang mengatakan pasar bebas akan menciptakan keadilan adalah bohong besar. Karena realitas dalam persaingan bebas, perusahaan besar akan mengalahkan perusahaan kecil. Jika teori nilai di atas berbicara masalah menekan produksi agar tercapai keuntungan optimal. Sedangkan teori ini berbicara bagaimana memaksimalkan pendapatan agar tercapai keuntungan yang optimal.

Misalnya, bagaimana agar pabrik sepatu mendapatkan keuntungan optimal dengan memaksimalkan pendapatan? jawabanya yaitu dengan produksi yang banyak dan harga jual yang tinggi. Masalahnya, menurut Adam Smith, jika menjual dengan harga tinggi, siapa yang akan beli? Maka agar persaingannya kompetitif, harga dibuat seminimum mungkin, sedangkan kuantitas penjualan dimaksimalkan.

Sedangkan menurut Karl Marx, produksi maksimal hanya bisa diperoleh dari modal yang maksimal. Artinya disini, pemilik modal besarlah yang akan bertahan, karena akan mampu menjual barang dengan skala besar dan harga yang seminimal mungkin.

Inilah yang menyebabkan dalam persaingan bebas, pedagang besar pasti memakan pedagang kecil. Lihatlah fenomena gulung tikarnya pengusaha klontong kecil, saat ada supermarket di dekatnya. Maka dari itu, persaingan bebas akan menghantarkan pada kondisi semakin sedikitnya jumlah majikan/perusahaan, tapi akumulasi modalnya semakin besar.

Sedangkan jumlah buruhnya semakin banyak, lantaran banyaknya penguasaha kecil yang gulung tikar akibat dimakan perusahaan besar. Akhirnya, fenomena majikan berubah menjadi buruh pun semakin tinggi. Inilah yang menyebabakan jumlah buruh semakin tak terkendali. Ujungnya, nasib kaum buruh akan semakin menderita di sistem kapitalisme. Inilah yang dimaksud Karl Marx persaingan bebas tidak akan mungkin menciptakan keadilan.

Ketiga, Teori Hukum Upah Besi (the Iron Wage’s Law)

Menurut Karl Marx, teori upah ala sistem ekonomi kapitalisme adalah sistem upah besi. Yaitu upah tidak bisa dinaikan dan tidak bisa diturunkan. Tidak dapat dinaikan karena jika buruh menuntut upah naik, pihak perusahaan tak akan segan untuk memecatnya. Pasalnya, yang antri untuk memperoleh kerja sangat banyak (Ingat bahwa sistem kapitalisme menjadikan jumlah buruh semakin banyak). Mereka siap untuk bekerja dengan upah yang lebih rendah.

Begitupun upah buruh tidak bisa turun. Karena upah dalam sistem kapitalisme dipatok dengan UMR (Upah Minimum Regional). Maka upah tidak bisa kurang dari kebutuhan minimum. Jika majikan mengupah lebih rendah dari UMR akan mengurangi produktivitas. Akhirnya majikan rugi lantaran buruh tak optimal bekerja.

Jelaslah sudah, kapitalisme mengupah buruh hanya agar buruh bisa tegak berdiri melakukan pekerjaanya dengan optimal. Inilah kekejaman ekonomi kapitalisme yang dipreteli oleh Karl Marx. Lantas bagaimanakah solusi Karl Marx dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi?

Solusi Sosialisme Ala Karl Marx

Karl Marx mengatakan bahwa ketidakadilan yang terjadi dalam ekonomi kapitalisme bisa dihilangkan dengan penghapusan kepemilikan individu. Menurut Karl Marx, dengan menghilangkan kepemilikan individu maka akan tercipta keadilan. Sehingga Kepemilikan, produksi, penjualan dan keuntungan harus bersifat kolektif seluruhnya.

Namun sungguh sayang, teori sosialisme yang tak sesuai fitrah manusia, lagi-lagi gagal menyelesaikan permaslahan ekonomi. Dihapusnya kepemilikan individu, alih-alih menciptakan keadilan, malah menjadikan negara sebagai kapitalis raksasa. Yang memaksa rakyatnya untuk menjadi buruh murah. Hingga kesengsaraan rakyat pun semakin berlipat.

Oleh karena itu, jika sistem ekonomi kapitalisme dan sosialisme dinilai telah gagal menyelesikan permasalahan ekonomi. Hanya tinggal satu lagi sistem yang tersisa, yaitu sistem ekonomi Islam. Ekonomi islam, selain aturannya yang langsung dari pencipta, sistem ini pun telah terbukti kuat memimpin dunia selama 13 abad lamanya. Maka, jika sosialisme runtuh dalam 80 tahun, kehancuran sistem ekonomi kapitalisme pun tinggal menunggu waktu. Dan kebangkitan Islam tak bisa dihindari lagi.

Post a Comment for "Tinjauan Kritis Ekonomi Kapitalisme Prespektif Ekonomi Sosialisme"