Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PENJAJAH BELANDA TIDAK ANTI ISLAM

Seperti itu kah pemikiran pribumi di zaman kolonial yang menjadi centeng-centeng penjajah? Sehingga mereka tanpa beban ikut bergabung menjadi prajurit-prajurit Belanda untuk menghabisi sesama pribumi yang dianggap tidak mau diajak kerjasama oleh mereka.

Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Belanda yang dahulu pernah menjajah Nusantara dalam kurun waktu 3,5 abad lamanya tidak pernah melarang pribumi untuk sholat. Mereka justru membiarkannya. Buktinya, banyak masjid-masjid kuno yang hingga saat ini masih kokoh berdiri, tidak dihancurkan oleh mereka.

Mereka juga tidak melarang umat Islam puasa, zakat dan haji. Khusus untuk haji, mereka justru mempunyai ide agar orang-orang yang baru pulang dari Tanah suci untuk diberikan gelar 'haji' di depan namanya. Bukankah itu merupakan sebuah kebijakan pro Islam yang ditetapkan oleh Belanda? Bahkan hingga saat ini ide tersebut masih digunakan.

Termasuk pernikahan, Belanda tidak melarang seorang muslim untuk melakukan akad nikah berdasarkan syariat Islam. Itu artinya mereka tidak anti Islam. Mereka juga membiarkan kedudukan raja di keraton-keraton dipegang oleh orang-orang Islam, seperti di Cirebon, Jogja dan yang lainnya.

Jangan karena Belanda memenjarakan Pangeran Diponegoro kemudian mereka disebut anti Islam. Salah sendiri kenapa Pangeran Diponegoro tidak patuh dengan Belanda, sering memprovokasi pribumi untuk melawan mereka. Padahal apabila Beliau ketika mendakwahkan kepada jama'ahnya sebatas masalah keutamaan sedekah, puasa sunnah pasti Beliau akan aman-aman saja.

Jangan karena Belanda mau membunuh Kiai Muqoyyim (mufti keraton Cirebon) kemudian mereka dituduh anti Islam. Salah Kiainya sendiri kenapa ia tidak mau mengikuti kemauan Belanda untuk mengganti hukum-hukum di wilayah kekuasaan Kerajaannya dengan hukum buatan Belanda.

Beliau justru kekeuh, memperjuangkan agar hukum yang berlaku di wilayah kerajaan tetap hukum Islam. Hingga kemudian Beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan kemuftiannya daripada harus berkompromi dengan Belanda.

Andai saja Kiai Muqoyyim pada saat itu mau diajak kerjasama baik-baik dengan Belanda pasti Beliau tidak akan diburu oleh mereka.

Seperti itu kah pemikiran pribumi di zaman kolonial yang menjadi centeng-centeng penjajah? Sehingga mereka tanpa beban ikut bergabung menjadi prajurit-prajurit Belanda untuk menghabisi sesama pribumi yang dianggap tidak mau diajak kerjasama oleh mereka.

Prinsip mereka, tidak apa-apa dipimpin oleh orang kafir yang penting ada hasil kerja nyata. Pembuatan jalur kereta, jalan raya (Karawang-Jawa) adalah contohnya.

Cirebon, 3 Januari 2021

Post a Comment for "PENJAJAH BELANDA TIDAK ANTI ISLAM"