Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Musibah Silih Berganti, Islam Solusi untuk Negeri

Oleh: Siti Ningrum, M.Pd. (Pegiat Literasi)

Pandemi masih menyelimuti bangsa Indonesia.Tahun baru pun diawali dengan musibah demi musibah yang datang silih beganti. Ibarat luka yang belum mengering, bertambah lagi luka yang lainnya. Indonesia pun kini dirungrung pilu. Hanya pecah tangis yang membuncah sebagai pelepas lara.

Data bencana 2021, 1 sampai 16 januari 136 bencana

Hingga 23 Januari 2021, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 197 bencana terjadi di seluruh wilayah Indonesia

Dilansir dari liputan6.com. Minggu, 24 Januari 2021. Serangkaian bencana di awal 2021 menyebabkan 184 orang meninggal dunia, lebih dari 2.700 orang mengalami luka-luka, 9 orang dinyatakan hilang, serta sebanyak 1,9 juta orang menderita dan terpaksa mengungsi. Sungguh sangat memilukan.

Tidak ada satu manusia pun yang menginginkan sebuah bencana. Namun, ketika bencana datang tidak ada seorang pun yang bisa menghadang. Ketentuan Allah sang pencipta bagi manusia tlah tertulis di kitab yang suci lauhulmahfuz. Bahkan, sehelai daun yang jatuh ke bumi pun tlah tertulis.

Apabila kita membaca Alquran, maka kita akan mendapatkan kisah bencana yang menimpa manusia pada zaman dahulu. Allah dengan sengaja mengabadikan semua kisah tersebut, agar manusia bisa mengambil pelajaran pada setiap zamannya.

Bencana tersebut diantaranya adalah badai Angin /ada yang membawa batu, halilintar/petir, longsor, banjir bandang dan wabah.

Sebagaimana Allah sebutkan dalam

QS. Al-Ankabut ayat 40, yang artinya:

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

Kesombongan dan keangkuhan manusia pun tidak akan berarti. Manusia hanya bisa menyesali setiap perbuatannya. Maka dari itu, sangat penting bagi manusia untuk memahami fenomena alam, sebagai bagian dari muhasabah.

Muhasabah atas Bencana

Ketika kita menyaksikan rentetan kejadian demi kejadian. Bukan hanya bencana yang melanda, akan tetapi bangsa ini sedang dirundung masalah yang bertubi-tubi. Utang yang makin menggunung, biaya pendidikan yang mahal, ekonomi kian terpuruk, korupsi yang tiada bertepi, dan sebagainya. Maka, saatnya kita merenungkan apa yang sesungguhnya terjadi.

Allah tidak pernah mendzolimi hamba-hambanya. Namun manusialah yang selalu mendzolimi dirinya sendiri. Tatkala Allah menurunkan utusan-utusan, yakni para Nabi dalam membawa syariat untuk diikuti oleh manusia. Namun manusia selalu angkuh dan sombong untuk tidak mengikutinya. Bahkan dengan kejinya para utusan-Nya terdahulu ada yang dibunuh.

Pengingkaran terhadap ajaran-Nya adalah sebuah kesombongan yang nyata dari manusia. Keserakahan manusia dalam mengambil kekayaan alam bisa mengundang sebuah bencana dan malapetaka.

Apakah tidak cukup kita mengambil pelajaran dari kisah terdahulu yang Allah gambarkan secara jelas dalam Alquran?

Malapetaka itu tidak hanya bencana saja melainkan kehidupan yang sempit. Kehidupan yang jauh dari aturan sang Pencipta akan membuat manusia sengsara baik di dunia maupun di akhirat.

Pemahaman sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) telah menjadikan dasar bagi manusia, untuk tidak menjadikan Islam diterapkan dalam kehidupan.

Propaganda kaum liberalis telah merasuki pemikiran umat Islam. Sistem kapitalisme telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam sendi kehidupan. Keterlibatan setiap korporat tak bisa dimungkiri keberadaannya.

Selain itu, sistem demokrasi dengan trias politikanya mampu menduduki jabatannya, sebagai wadah dalam mewujudkan sebuah kekuasaan. Kepentingan individu dan kelompok nampak jelas dipertontonkan dengan nyata. Rakyat hanya bisa bersuara tanpa diberikan kedaulatan, meskipun di atas kertas rakyatlah yang memegang kedaulatan itu. Nyatanya ketika manusia tidak berpegang teguh pada agama Allah. Maka, kesengsaraanlah yang didapat.

Saatnya umat muslim bermuhasabah atas bencana yang menimpa. Meningkatkan ketakwaan kepada Pencipta serta kembali kepada Islam dan menjadikan seluruh aturan-Nya mengatur negeri tercinta. Agar keberkahan-Nya bisa diraih. Sebagaimana firmanNya dalam QS. Al-araf ayat 96, yang artinya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Demikianlah Allah telah memberikan kabar melalui lisan Nabi yang mulia, yang kemudian diabadikan dalam kitab suci Alquran. Sudah menjadi sebuah kewajiban manusia sebagai makhluk, untuk senantiasa taat dan patuh pada perintah-Nya. Agar kelak di akhirat menjadi bagian orang-orang yang beruntung.

Wallohualam bishowab

Post a Comment for "Musibah Silih Berganti, Islam Solusi untuk Negeri"