Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Generasi Malin Kundang Peranakan Kapitalisme-Sekulerisme

Seburuk-buruknya seorang ibu, seorang anak tetap berhutang nyawa padanya. Sembilan bulan menumpang di perut ibu, tumbuh dan berkembang dari segumpal darah hingga menjadi janin. Dengan penuh kepayahan ibunya mengandung. Si ibu pun bertaruh nyawa demi menghadirkan sang anak ke dunia. Tetesan air susu ibu juga memberi kehidupan bagi sang anak.

Oleh: Mahrita Julia Hapsari (Praktisi Pendidikan)

Dongeng Malin Kundang yang melegenda, saat ini mewujud nyata. Kisah seorang anak durhaka pada ibunya itu, ternyata tak mempan merasuk di hati anak zaman now. Ampuhnya kutukan sang ibu yang mengubah Malin Kundang menjadi batu pun, tak mampu memberi rasa takut anak sekarang.

Terbukti, seorang anak tega melaporkan ibu kandungnya ke polisi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah (detik.com, 09/01/2021). Bermula cekcok soal baju, si anak sempat mendorong sang ibu hingga jatuh. Ketika si ibu hendak bangun, tidak sengaja kukunya mengenai si anak. beberapa hari kemudian, lewat proses mediasi sang anak mencabut laporannya.

Berdasarkan visum goresan kuku ibu di kening anaknya, si ibu dijerat dengan Pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan.

Lain di Demak, lain pula di Lombok. Seorang anak juga melaporkan ibu kandungnya ke polisi, hanya gara-gara urusan motor. Namun laporan si anak ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah. Video penolakan laporan itu pun viral di media sosial Facebook dan YouTube (tribunnews.com, 29/06/2020).

Seburuk-buruknya seorang ibu, seorang anak tetap berhutang nyawa padanya. Sembilan bulan menumpang di perut ibu, tumbuh dan berkembang dari segumpal darah hingga menjadi janin. Dengan penuh kepayahan ibunya mengandung. Si ibu pun bertaruh nyawa demi menghadirkan sang anak ke dunia. Tetesan air susu ibu juga memberi kehidupan bagi sang anak.

Atas itu semua, dan masih banyak lagi jasa seorang ibu yang tak terhitung jumlahnya. Mengapa seorang anak bisa sedemikian tega? Kemana hilangnya ikatan batin antara ibu dan anak? Kemana menguapnya rasa hormat, kasih dan sayang seorang anak pada sang ibu? Kemana musnahnya rasa takut akan murka Allah di dunia yang diwakili oleh murka orang tua?

Rasanya tak masuk akal, ada anak yang tega melaporkan ibunya dan merasa menang saat melihat sang ibu di penjara. Namun itulah kenyataan yang ada. Ikatan keluarga, ikatan batin antara ibu dan anak telah rusak oleh sistem kapitalisme sekulerisme. Ukuran-ukuran materi dijadikan standar dalam meraih kebahagian.

Tengok saja pemicu pelaporan tersebut. Hanya gara-gara baju dan motor. Benda-benda itu telah menukar ikatan keluarga menjadi materialistis. Lebih berharga benda tersebut dibandingkan keridhoan seorang ibu.

Asas sekulerisme, memisahkan agama dari kehidupan, turut andil dalam melahirkan generasi durhaka. Dipikir bisa sesuka hati hidup di dunia, berbuat semaunya tanpa terikat dengan aturan Allah. Tanpa adab memperlakukan orang tua, karena merasa benar. Menakar benar salah sesuai dengan aturan buatan manusia. Hasilnya, tak beradab dan merasa sah saja ketika melaporkan ibu ke polisi.

Demikianlah, kapitalisme sekulerisme telah merusak ikatan keluarga antara ibu dan anak. Sistem ini juga telah melahirkan generasi Malin Kundang, si anak durhaka. Anak yang membalas air susu ibunya dengan air tuba.

Jika sistem ini tetap dipertahankan, bersiaplah selalu mengelus dada seraya menyaksikan kerusakan generasi yang tak punya hati. Lost generation mengancam umat muslim. Bagaimana bisa diajak berjuang membela kebenaran jika menghormati ibu sendiri pun tak bisa.

Perlu ada perubahan sistem untuk melahirkan generasi yang mampu menempatkan posisi ibu sebagaimana mestinya. Sistem yang sumber aturannya bukan dari manusia, namun dari Sang Khalik yang mencipta dan mengatur alam semesta. Itulah sistem islam.

Islam menempatkan derajat ibu tiga kali lebih tinggi dari ayah. Bahkan surga pun diletakkan di telapak kaki ibu. Allah SWT mewakilkan urusan ridha dan murkaNya pada ridha dan murka kedua orang tua. Jangankan melaporkan pada polisi, berkata "ah" pun sudah Allah larang dalam Al-Qur'an.

Ada adab dalam berbicara kepada orang tua, termasuk ibu. Di antaranya, merendahkan nada suara dan memilih kata-kata terbaik saat berbicara pada orang tua. Adab atau akhlak ini lahir dari aqidah islam.

Aqidah islam merupakan pondasi penyelenggaraan sistem islam. Dengan pendidikan berbasis aqidah islam akan mencetak manusia yang berkepribadian islam. Manusia yang menjadikan ridho Allah sebagai tujuan dan menakar benar salah sesuai dengan syariat Allah.

Sosok anak yang berkepribadian islam yang lahir dari sistem islam diantaranya adalah Uwais Al-Qarni. Pemuda yang tak terkenal di bumi namun masyhur namanya di langit. Baktinya pada sang ibu membuatnya rela menggendong ibunya untuk berangkat haji.

Dari Yaman menuju Mekkah bukanlah jarak yang dekat, apalagi ditempuh dengan berjalan kaki sambil menggendong sang ibu. Sesampai di depan Ka'bah, Uwais hanya berdoa agar Allah meridhoi dan mengampuni sang ibu. Ibunya heran dan bertanya, mengapa Uwais tak berdoa untuk diri sendiri. Jika ibunya telah ridho maka Allah juga akan ridho padanya, demikian jawaban Uwais atas pertanyaan sang ibu. Masya Allah.

Itulah salah satu sosok yang lahir dari sistem islam. Sebuah sistem yang telah terjamin kebaikan dan keberkahannya ketika diterapkan secara kaffah. Sistem yang akan melahirkan generasi berbakti dan berakhlak mulia. Wallaahu a'lam []

Post a Comment for "Generasi Malin Kundang Peranakan Kapitalisme-Sekulerisme"