Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Benarkah Berhijab Intoleran?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada SMKN 2 Padang, Sumatera Barat, yang memaksa seorang siswi beragama Kristen mengenakan jilbab. Salah satu pemicunya video yang diunggah oleh salah seorang wali murid non muslim yang beredar di sosmed. Isinya ada kesan pemaksaan hijab pada siswi non muslim di sekolah

Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Kontributor media dan pemerhati kebijakan publik)

Firman Allah Swt, yang artinya: "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya..." (TQS. An Nuur: 31)

Polemik pemakaian hijab oleh siswi non muslim terjadi di SMK Negeri 2 Padang. Ada 46 siswi non muslim di sekolah tersebut mengenakan hijab dalam aktivitas sehari-hari kecuali Jeni Cahyani Hia. Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Padang, Rusmadi mengatakan tak ada paksaan pada mereka dalam mengenakan hijab di sekolah (Newsdetik, 23/1/21).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan akan menjatuhkan sanksi tegas kepada SMKN 2 Padang, Sumatera Barat, yang memaksa seorang siswi beragama Kristen mengenakan jilbab. Salah satu pemicunya video yang diunggah oleh salah seorang wali murid non muslim yang beredar di sosmed. Isinya ada kesan pemaksaan hijab pada siswi non muslim di sekolah (CNNIndonesia, 23/1/21).

Berhijab Dipandang Intoleran

Jika berkaitan dengan ajaran Islam, mengapa begitu sensitif sehingga mudah diperkarakan dan dikatakan intoleran. Contohnya adalah fakta yang sedang terjadi di salah satu sekolah di Padang tentang non muslim berhijab. Tapi jika ada siswi muslim yang berhijab dilarang, tidak disebut intoleran. Padahal, sekolah tersebut hanya ingin membuat aturan yang baik bagi muslim ataupun non muslim.

Penjelasan dari Kepala Sekolah tersebut, bagi non muslim tak ada paksaan hanya saja menyesuaikan dengan yang muslim. Bukankah pakaian di sekolah idealnya sopan, Islam mengajarkan bahwa dalam berpakaian apalagi anak sekolah harus sopan dan sesuai syari'ah. Agar mencerminkan sebagai pelajar bukan yang lain.

Sampai sini, apa yang salah? Tidakkah lihat bahwa kerusakan moral remaja, hingga terjebak pergaulan bebas salah satunya karena pengaruh dari cara berpakaian yang mengundang birahi lawan jenis. Seharusnya ini menjadi catatan dan perhatian berbagai pihak. Terutama para orang tua dalam mendidik anaknya, bekerja sama dengan sekolah dan peran negara yang mendukung kebijakan yang baik.

Dari kebijakan berpakaian sopan sesuai syariah tidak berefek pada kenakalan, pelanggaran sekolah, dan semisalnya. Lalu, mengapa dipermasalahkan. Kalaupun itu menjadi peraturan di sekolah, jika itu baik tak berpengaruh pada keburukan maka sudah seharusnya siswa dan siswi patuh. Sebagai konsekwensi menjadi bagian dari sekolah tersebut yang di dalamnya ada aturan.

Masih banyak masalah lain yang lebih layak dikritisi dan masih menjadi PR bersama. Kenakalan remaja, free sex, aborsi, drugs, legebete di kalangan remaja. Angka aborsi bagai fenomena gunung es, yang terlihat hanya permukaannya saja tapi di bawahnya banyak yang belum terungkap. Ada dua juta kasus tiap tahunnya, dan 30 persen dilakukan oleh kalangan remaja, menurut data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Viva.co.id, 24/8/20).

Islam Mensyariatkan Hijab dan Agama Paling Toleran

Justru ajaran Islam hadir untuk mengatasi masalah tersebut, tapi selalu menjadi kambing hitam seolah mendiskriminasi, intoleran, dan sebagainya. Padahal, penyebab kerusakan moral dan masalah yang terjadi saat ini bukan karena ajaran Islam yang coba diterapkan dalam lingkungan pribadi, keluarga dan sekolah. Islam sebagai aturan yang sempurna mengajarkan cara berpakaian yang baik sesuai tuntunan syariah.

Wanita jika sudah baligh wajib menutup aurat. Sebagaimana sabda Nabi Saw., "Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Baihaqi dari Aisyah ra:

"Bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah Saw dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah Saw berpaling darinya dan berkata, "Hai Asma sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambal beliau menunjuk wajah dan telapak tangan."

Islam mengatur dalam wilayah publik semua warga negara diperlakukan hukum yang sama, di antaranya bagaimana cara berpakaian baik muslim maupun non muslim. Aturan ini bukan untuk mengekang, tapi untuk menjaga kehormatan dan meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, Islam sangat menjaga dan menghormati akidah dan keyakinan agama lain. Islam tidak pernah memaksakan akidah pada warga yang beda agama.

Seorang orientalis dan sejarahwan Kristen bernama T.W. Arnold memuji kerukunan beragama dalam negara Khilafah. Beliau banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan beragama dalam negara Khilafah dan berkata:

"Ketika Konstantinopel dibuka oleh keadilan Islam pada 1453, Sultan Muhammad II menyatakan dirinya pelindung gereja Yunani. Penindasan pada kaum Kristen dilarang keras dan untuk itu dikeluarkan sebuah dekrit yang memerintahkan penjagaan keamanan pada uskup Agung yang baru terpilih, Gennadios, beserta seluruh uskup dan penerusnya. Hal yang tak pernah didapatkan dari penguasa sebelumnya. Gennadios diberi staf keuskupan oleh Sultan sendiri. Sang Uskup juga berhak meminta perhatian pemerintah dan keputusan Sultan untuk menyikapi para gubernur yang tidak adil..." (The Preaching of Islam : A History of Propagation Of The Muslim Faith, 1896).

Fakta sejarah mencatat bahwa Islam agama yang paling toleran jauh dari intoleransi. Tidak pernah ada dalam sejarah Islam diskriminasi terhadap agama lain. Karena ajaran Islam tidak pernah memaksa ajaran lain untuk mengikuti ajaran Islam. Firman-Nya, yang artinya: "Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat." (TQS. Al Baqarah: 256).
Allahu A'lam bi ash Shawab.

Post a Comment for "Benarkah Berhijab Intoleran?"