Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Amerika Diambang Kehancuran, Bersungguh-sungguh Menyiapkan Peradaban Pengganti

Rusuh di Capitol Hill pada 6 Januari lalu semakin mengukuhkan posisi Amerika Serikat sebagai “the new sick man”. Massa pendukung Donald Trump memprotes hasil pemilu yang telah memenangkan Joe Biden. Protes berlangsung dramatis. Massa yang awalnya memadati bagian luar gedung, akhirnya merangsek masuk. Para anggota parlemen yang bersidang untuk menetapkan Joe Biden sebagai presiden AS berikutnya pun terpaksa harus dievakuasi. Tercatat 4 orang tewas dalam peristiwa tersebut

Oleh : Atika Rahmah (Aktivis Muslimah di Papua)

Rusuh di Capitol Hill pada 6 Januari lalu semakin mengukuhkan posisi Amerika Serikat sebagai “the new sick man”. Massa pendukung Donald Trump memprotes hasil pemilu yang telah memenangkan Joe Biden. Protes berlangsung dramatis. Massa yang awalnya memadati bagian luar gedung, akhirnya merangsek masuk. Para anggota parlemen yang bersidang untuk menetapkan Joe Biden sebagai presiden AS berikutnya pun terpaksa harus dievakuasi. Tercatat 4 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

Nama baik negara kampium demokrasi ini telah tercoreng oleh ulah warganya sendiri. Pemilihan pemimpin dengan prinsip demokrasi hanyalah ilusi.

Buntut dari kerusuhan, akun media sosial Trump diblokir. Trump dianggap menyebarkan misinformasi, ujaran kebencian dan menghasut kekerasan. Bahkan rusuh dicapitol Hill terjadi imbas dari cuitan Trump soal kecurangan dan permintaan agar pendukungnya bergerak ke ibu kota Washington DC. Trump juga berkata bahwa pemilu curang dan kemenangannya dicuri. (kumparan.com, 8/1/2021)

Tak sampai disitu saja, pada 13 Januari lalu DPR AS resmi memakzulkan Trump padahal masa kepemimpinannya tinggal menghitung hari. Proses pemakzulan selanjutnya akan beralih ke Senat AS, untuk memutuskan apakah Trump akan dijatuhi hukuman atau dibebaskan.

Demokrasi Amerika Serikat diambang kehancuran, yang karenanya mendapat julukan “the new sick man”. Padahal jika kita mau melihat kondisi dalam negerinya, telah nampak kehancurannya sejak dulu. Di tahun 2018 angka penduduk miskin di negara adidaya ini mencapai 12 persen dari total populasi. Padahal di tahun yang sama angka penduduk miskin di Indonesia 10,12 persen dari total populasi. (inews.id, 15/7/2018).

Masalah lainnya, 10 tahun terkahir jumlah mahasiswa yang hidup menggelandang di Amerika Serikat semakin meningkat. Menurut Direktur National Centre for Homeless Education kepada New York Times, data terakhir tercatat tahun 2017-2018 dan jumlahnya lebih dari dua kali lipat dari jumlah yang dilaporkan pada 2004-2005 yaitu 680.000 pelajar yang menggelandang (bbc.com, 5/2/2020). Jika dijumlahkan dengan bukan pelajar/mahasiswa bisa dipastikan jumlahnya lebih banyak lagi. Salah satu kotanya yakni New York menempati posisi nomor 2 dunia, kota dengan jumlah tunawisma terbanyak.

Negara yang terlihat gagah di mata dunia, ternyata tak mampu memberikan rasa aman pada warganya. Berdasarkan data yang dihimpun databoks.katadata.co.id (7/6/2019) terdapat 4 kota di Amerika Serikat yang masuk daftar kota paling berbahaya di dunia. Tentang rusaknya generasi di sana sudah menjadi rahasia umum. Seks bebas adalah hal yang biasa, sedangkan pernikahan dihindari. “Lost generation” pun menghantui negera adidaya ini.

Masalah yang paling menonjol belakangan, diskriminasi ras kulit hitam yang terus berlangsung. Apa yang menimpa George Floyd menambah daftar panjang bagaimana warga kulit hitam menjadi warga kelas dua di negara yang katanya menjujung hak asasi manusia (HAM).

Dan masih banyak deretan kecacatan Amerika Serikat yang selama ini tertutupi dengan nama besarnya sebagai negara adidaya atau “super power. Kini, Amerika Serikat mempertontonkan kecacatannya ke hadapan publik yang akan melemahkan posisinya di luar negeri. Jika dalamnya telah lama rapuh dan kini luarnya pun rapuh, menjadi peluang emas bagi kaum Muslimin untuk mengembalikan kejayaannya di masa lalu.

Alamiahnya, tumbangnya suatu peradaban akan digantikan dengan peradaban yang lainnya. Sebagaimana peradaban Islam di masa lalu berhasil mengungguli peradaban Persia dan Romawi. Kemudian peradaban Islam pada masa kekhilafahan Turki Utsmani diruntuhkan oleh Inggris tersebab lemahnya kondisi dalam dan luar negeri Khilafah saat itu. Dan kembalinya kejayaan Islam dengan tegaknya Khilafah jilid 2 adalah sebuah keniscayaan. Dan peluangnya telah ada di depan mata, dengan menggeser posisi Amerika Serikat sebagai adidaya.

Namun perlu kita sadari, mengembalikan kejayaan Islam bukanlah hal yang mudah. Tak cukup dengan berpangku tangan dan menunggu takdir Allah itu datang. Dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh, terukur dan sistematis untuk mewujudkan janji Allah dan Bisyarah Rasulullah saw ini.

Lalu apa yang terjadi jika kaum Muslim saat ini enggan untuk berjuang? Maka Allah berjanji akan menggantikan dengan umat yang lebih baik yang mau berjuang di jalan Allah.

“Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian ini.” (QS. Muhammad: 38)

Maka bertanyalah pada diri kita masing-masing, maukah diri ini digantikan? Tak inginkah mendapat kemuliaan menjadi pejuang?

Amerika serikat hanya akan runtuh jika ada peradaban pengganti. Jika pengganti itu tak kunjung tampil, the new sick man akan menjadi the strong sick man. Tentu kita tak menginginkan hal ini terjadi.

Ada 2 tugas besar yang harus kita lakukan bersama. Pertama, memperkuat internal kaum Muslim. Mengingatkan kembali posisi kaum Muslim sebagai “Khayr al-Ummah” (umat terbaik). Allah swt. telah janjikan,

“Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 141)

Sudah terlalu lama negeri-negeri kaum Muslim dengan kekayaan alam melimpah dikuasai oleh kaum kafir. Kaum Muslim harus tumbuh dewasa. Jangan lagi menjadi anak remaja yang mudah digombali kata-kata manis. Dengan janji manis perbaikan ekonomi dan kehidupan yang lebih baik atas nama investasi, seluruh kandungan bumi diberikan pada penjajah.

Bagi seorang Muslim, cukuplah ayat-ayat Allah menjadi pendorong dan bahan bakar semangat untuk bergerak,

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nur : 55)

Jika Allah telah menjamin kemenangan kita, lalu siapa yang bisa mengalahkan? Kita harus membangun mental pemenang pada diri kita. Tak mencukupkan diri untuk memperbaiki dirinya sendiri, namun juga terjun melakukan perubakan di tengah-tengah umat menuju satu tujuan yang sama, penerapan Islam kaffah.

Tugas kedua, mewujudkan kekuatan baru yang diperhitungkan dunia. Hal ini tak mungkin dilakukan Indonesia saja, Malaysia saja, atau Arab saja. Pecahnya negeri kaum Muslim menjadi 50-an negara bangsa membuat kaum Muslim seolah tak punya kekuatan. Menyatukannya dibawah bendera “Laa ilaaha illallah” wajib kita lakukan. Mewujudkan bisyarah Rasulullah saw. dengan tegaknya institusi Khilafah Islam. Khilafah Islam telah mengukir sejarah di masa lalu mampu menjadi negara adidaya yang menguasai 2/3 dunia. Hanya Khilafah-lah yang mampu menggantikan posisi Amerika serikat saat ini.

Mari rapatkan barisan, kencangkan ikat pinggang, dan lipatgandakan usaha di tengah jalan yang telah terbuka lebar. Jangan berikan waktu pada Amerika Serikat untuk menambal kecacatannya. Jangan biarkan Amerika Serikat untuk memperbaiki dan kembali memperkuat pijakan kakinya. Mari kita antarkan “the new sick man” menuju ke pembaringannya, “to the death”. []

Post a Comment for "Amerika Diambang Kehancuran, Bersungguh-sungguh Menyiapkan Peradaban Pengganti"