Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Stunting Teratasi Dengan Perubahan Hakiki

Indonesia menempati urutan ke-4 dunia dan ke-2 di Asia Tenggara dalam kasus balita stunting (adalah : kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak)

Oleh: Nur Rahmawati, S.H. | Penulis dan Praktisi Pendidikan

Generasi unggul adalah harapan setiap bangsa. Sehingga tidak heran jika ada beberapa negara melakukan berbagai upaya guna melahirkan generasi ini. Mulai dari menyiapkan sistem pendidikan, kesehatan, bahkan sampai ekonomi. Sebut saja negara Finlandia.

Dilansir dari, bbc.com, rendahnya angka kelahiran di negara Finlandia menjadi alasan negara ini membuat program seperti tunjangan keluarga yang kuat, antara lain 'paket kado untuk bayi baru lahir' bagi keluarga yang sedang menunggu kelahiran anak, tunjangan anak bulanan sekitar €100 atau sekitar Rp1 juta per anak, serta cuti bersama orang tua yang berlangsung hingga sembilan bulan dengan 70% gaji dibayarkan. (19/10/19).

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Yang diketahui bahwa Indonesia menempati urutan ke-4 dunia dan ke-2 di Asia Tenggara dalam kasus balita stunting (adalah : kekurangan gizi kronis yang terjadi selama periode paling awal pertumbuhan dan perkembangan anak)
 "Bagaimana kita bisa mencetak SDM unggul jika stunting masih menghantui calon generasi bangsa," kata Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani Aher dalam keterangan pers, (Merdeka.com, 21/12).Sistem Demokrasi Gagal Atasi Stunting

Sungguh miris dan mengkhawatirkan. Bagaimana bisa melahirkan generasi unggul jika kasus stunting tak dapat dituntaskan. Pernyataan tersebut bisa dibenarkan, karena kebutuhan gizi, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan pokok lainnya adalah tanggung jawab negara. Jika saat ini sulitnya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang dirasakan oleh banyak keluarga di Indonesia, lantas upaya yang harus dilakukan wajib memastikan semua keluarga terpenuhi kebutuhannya, tidak tebang pilih dan benar-benar mendata dengan cermat.

Sayangnya dengan sistem saat ini, yaitu demokrasi memberi mimpi kosong mengatasi stunting baik dengan rencana pembentukan badan khusus maupun dengan mendesakkan UU pembangunan keluarga. Karena hanya menyentuh kepermukaan saja, tidak pada akar permasalahannya. Dan akhirnya kejadian serupa akan terulang kembali.

Meningkatnya kasus stunting, sebagai bukti bahwa ketidak mampuan menyelesaikan persoalan yang cukup krusial. Bagaimana tidak, generasi bangsa berada pada ambang kritis. Kemunduran generasi ini tidak bisa dianggap sepele hanya dengan membuat aturan atau membentuk badan khusus saja. Tindakan praktis yang perlu dilakukan adalah mengatasi akar permasalahannya yaitu merubah sistem gagal ini ke sistem yang sudah terbukti berhasil mencetak generasi unggul. Perlunya mengubah sistem yang menjadi akar permasalahan saat ini adalah upaya yang tepat dilakukan karena kita telah merasakan bersama bahwa sistem saat ini hanya berpihak pada segelintir orang saja. Inilah perubahan yang hakiki.

Sistem saat ini, menjadikan suara terbanyak sebagai pemutus kebijakan tanpa memandang benar atau salah, berpihak pada rakyat atau tidak, dan sayangnya kebanyakan aturan dan produk hukum yang dibuat tidak berpihak pada rakyat. Padahal kita tahu bersama bahwa, mereka wakili rakyat sebagai pembuat aturan dan kebijakan mengatas namakan rakyat.

Perubahan Hakiki dengan Sistem Islam

Jika demokrasi, gagal mengatasi stunting. Maka, kita harusnya mengambil sistem yang sempurna. Suatu sistem yang berasal dari Allah Swt. Yang menjadikan Al Qur'an dan Sunnah sebagai asas penerapannya. Sehingga tidak ada pihak manapun yang dapat memanfaatkan jabatan dengan nafsunya untuk memperkaya dan menguntungkan dirinya sendiri. Sistem tersebut adalah sistem Islam. Karena hanya sistem Islam yang mampu melahirkan pemimpin yang menjadi khadimul ummah sehingga mampu wujudkan pembangunan berorientasi keluarga dan pembangunan SDM unggul salah satunya dengan cara:

Pertama, pengayaan kualitas sumber daya manusia baik individu dan masyarakat. Islam mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu, sehingga dengan ilmu ini akan membawa mereka pada perubahan yang mencerdaskan. Akhirnya mereka mampu mengambil sikap dan menyelesaikan persoalan hidup mereka dan orang lain.

Kedua, memahami peran dalam keluarga. Wanita sebagai istri sekaligus ibu bagi anak mereka yang bertugas mendidik anak-anak sesuai dengan fitrahnya berdasarkan kurikulum Islam. Kemudian laki-laki sebagai suami sekaligus ayah yang berperan sebagai kepala rumah tangga yang menafkahi dan bekerja jika mampu dan anak tentunya bertugas patuh dan bakti kepada orang tua dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan agama.

Ketiga, peran negara sebagai institusi yang memiliki power untuk mengatur dan menentukan dan memastikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Kebutuhan ekonomi, pendidikan, keamanan, kesehatan dan kebutuhan sekunder dan pokok lainnya adalah tanggungjawab negara. Dimana negara dapat mengelola sumber daya alam secara penuh untuk dijadikan modal dan pembiayaan negara guna pemenuhan kebutuhan rakyat.

Inilah beberapa cara Islam dalam mengatasi persoalan negara dan rakyat, tidak terkecuali stunting. Sehingga tidak akan ada lagi anak-anak yang mengalami. Kebutuhan rakyat dalam Islam adalah tanggung jawab negara yang wajib dipenuhi tanpa memandang kaya dan miskin, muslim dan nonmuslim, semua diperlakukan sama dalam semua aspek. Baik dari aspek pendidikan, kesehatan, keamanan dan kesejahteraannya. Maka mengambil sistem Islam sebagai perubahan yang hakiki dalam menuntaskan kasus stunting dan yang lainnya adalah keputusan yang tepat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Post a Comment for "Stunting Teratasi Dengan Perubahan Hakiki"