Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nasib Spesies Langka di Negeri Kapitalis

Pembangunan proyek destinasi wisata yang memanfaatkan wilayah konservasi jelas merusak habitat asli komodo. Seberapa besar usaha untuk menjaga keberlangsungan hidup komodo di luar habitat aslinya tetap saja tidak akan berhasil di tengah kehidupan kapitalistik hari ini yang hanya berkiprah pada keuntungan. Adanya proyek destinasi wisata di Pulau Komodo hanya akan menjadi pintu masuk para investor untuk menanamkan modalnya. Menjadi jalan mereka -pihak asing- dan para pemilik kepentingan mencaplok keuntungan.

Oleh : Assadiyah (Forum Pena Ideologis)

Komodo, spesies langka kebanggaan Bumi Pertiwi. Sayang sejuta sayang postur tubuh yang memikat, membuatnya terancam di habitat sendiri. Sungguh malang nasib si kadal besar (komodo) di negeri kapitalis.

Beberapa waktu lalu tagar #savekomodo sempat menjadi trending topik di Twitter. Setelah sebelumnya beredar foto seekor komodo menghadang truk yang masuk ke dalam Taman Nasional Komodo (TNK) di pulau Rinca, NTT. Para netizen geram ternyata diketahui truk tersebut merupakan bagian dari pembangunan proyek “Jurassic Park”. Proyek yang dinilai hanya akan mengancam habitat asli komodo.

Cuitan para netizen ternyata tak mampu memengaruhi kebijakan para pemangku kekuasaan. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, pembangunan Taman Nasional Komodo yang masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo tetap dikembangkan meskipun menuai banyak kritikan. (jawapos.com, 27/11/20)

Lebih lanjut, komodo merupakan satu-satunya hewan yang hanya ada di Indonesia tentu akan memiliki nilai jual yang tinggi.

Sudah menjadi rahasia umum, sesuatu yang bernilai jual di negeri ini tidak akan bertahan lama. Cepat atau lambat pasti dikomersialkan. Dengan atau tanpa persetujuan rakyat, meski membawa kemudharatan sekalipun. Semua akan dilahap habis demi mendapatkan keuntungan.

Termasuk proyek pembangunan Jurassic Park sebagai destinasi pariwisata baru di Pulau Komodo. Bahkan akan menjadi wisata premium dengan harga tiket masuk yang tinggi.

Pembangunan proyek destinasi wisata yang memanfaatkan wilayah konservasi jelas merusak habitat asli komodo. Seberapa besar usaha untuk menjaga keberlangsungan hidup komodo di luar habitat aslinya tetap saja tidak akan berhasil di tengah kehidupan kapitalistik hari ini yang hanya berkiprah pada keuntungan. Adanya proyek destinasi wisata di Pulau Komodo hanya akan menjadi pintu masuk para investor untuk menanamkan modalnya. Menjadi jalan mereka -pihak asing- dan para pemilik kepentingan mencaplok keuntungan.

Kebijakan semacam ini wajar dan sah saja dalam sistem kapitalisme, sebab rezim kehabisan cara untuk bisa menambah pendapatan negara. Ketidakmampuan negara dalam memaksimalkan potensi sumber daya alam secara mandiri -tanpa melibatkan pihak luar- memaksa negara mengalihkan sumber pendapatan negara ke sektor lain (diantaranya melalui sektor pariwisata). Keragaman flora dan fauna yang dimiliki negara sebagai peluang daya tarik wisatawan akhirnya menjadi bidikan.

Kebijakan ini menjadi bukti kerakusan para elit kapitalis. Dalih menyejahterakan rakyat hanya menjadi payung hukum. Alih-alih justru sebaliknya, rakyat kehilangan keindahan dan keasrian permata Bumi Pertiwi. Bahkan hanya mengundang dharar (bahaya) baik bagi manusia maupun bagi spesies komodo yang terancam kepunahannya.

Sungguh manusia sangat melampaui batas. Padahal Allah swt. telah menurunkan segenap aturan untuk manusia jadikan pegangan dalam mengurusi urusannya di bumi. Allah swt. memerintahkan manusia untuk saling berkasih sayang baik terhadap sesama maupun kepada binatang. Rasulullah saw. sebagai teladan pun sudah mencontohkan, menyayangi binatang dan tidak mengganggunya.

Rasulullah saw. Bahkan pernah mencagarkan kawasan sekitar Makkah dan Madinah sebagai kawasan lindung (hima) untuk melindungi tumbuh-tumbuhan serta binatang di dalamnya.

Rasulullah saw bersabda “Suci karena kesucian yang diterapkan Allah padanya hingga hari kebangkitan. Belukar pohon-pohonnya tidak boleh ditebang, hewan-hewannya tidak boleh diganggu dan rerumputan yang baru tumbuh tidak boleh dipotong”. (Riwayat Muslim)

Jika tumbuhan dan binatang saja menjadi perhatian negara Islam (baca: Khilafah), apalagi dengan pengaturan terhadap urusan rakyatnya. Islam pun menetapkan pengaturan negara dalam pengurusan rakyatnya. Negara memaksimalkan pendapatan negara untuk mengurusi rakyatnya. Sumber pendapatan negara berasal dari pengelolaan sumber daya alam milik umum seperti hasil tambang, minyak bumi dan lainnya. Pengelolaannya dilakukan secara mandiri tanpa melibatkan investasi dari pihak luar. Sehingga demikian kemungkinan segala macam cara yang ditempuh negara akan dapat dhindarkan. Termasuk memanfaatkan sektor pariwisata dengan merusak habitat asli binatang.



Post a Comment for "Nasib Spesies Langka di Negeri Kapitalis"